
Hari ini akhirnya Safira pergi, wanita itu terlihat begitu terenyuh ketika melihat si kembar menangis.
"Ada apa?" tanya Satrio kepada Safira.
"Tidak apa-apa, pak." jawab Safira.
Safira sudah pergi dari rumah untuk melakukan perjalanan bisnis, Sedangkan Gunawan yang berada di perusahaan..., nampak dia terus memikirkan apa yang di katakan oleh Andira.
* Tiga hari kemudian **
Rumah Gunawan begitu sepi, tak ada suara canda tawa terdengar di rumah itu. sudah dua hari Safira melakukan perjalanan bisnis.
"Entah mengapa rumah ini terasa sepi." ucap Gunawan sambil menghembuskan nafasnya.
pria itu menatap ruangan yang begitu besar namun terasa begitu tak bernyawa.
TOK...
TOK..
TOK..
suara pintu kamarnya di ketok oleh seseorang.
"Ya." jawab Gunawan.
"Tuan," panggil salah satu pembantu.
"Ada apa?" tanya Gunawan.
"Tuan, ada mbak Andira." ucap si mbok.
"Minta aja Andira kemari, Mbok." jawab Gunawan.
Setelah mengatakan hal itu terlihat Gunawan masih duduk di kursi yang ada di kamarnya, sekitar 5 menit kemudian Andira sudah berada di kamarnya.
TOK...
TOK..
TOK...
"Gunawan, boleh masuk nggak?" teriak Andira .
"Masuk aja." jawab Gunawan yang terlihat memakai kacamata dan membuka laptopnya.
CEKLEK...
__ADS_1
Andira membuka pintu kamar Gunawan, terlihat pria itu sedang menatap laptopnya sembari duduk di atas ranjang.
"Tumben sekali kerja di atas ranjang, Gunawan?" tanya Andira.
"Memangnya kenapa?" tanya Gunawan balik.
"Ya nggak gitu, Tumben aja kamu seperti ini. biasanya nggak pernah bekerja di atas tempat tidur." jawab Andira.
Gunawan tampak tersenyum, pria itu tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Oh ya, Gunawan. Apa kamu sudah ditelepon sama Safira?" tanya Andira kepada Gunawan.
"Entahlah," jawab Gunawan yang benar-benar kebingungan.
"Kamu itu acuh dan dingin banget sih." cibir Andira.
"Memangnya kamu ke sini itu mau apa?" tanya Gunawan kepada Andira.
"Aku kemari ingin menjenguk saudaraku, apa tidak boleh? kamu itu saudara brengsek banget sih." jawab Andira yang kemudian berdiri sembari menatap kamar yang dihuni oleh Gunawan.
"Kalau nggak ada pekerjaan, pergi sana!" minta Gunawan.
"Ngapain juga aku ke perusahaan, lha wong bosku aja nggak ada di sana." Jawab Andira.
Sorot mata Andira menatap kamar saudaranya tersebut, sesaat kemudian Andira berbalik menatap Gunawan yang sedang mengotak-atik laptopnya.
"Maksudmu?" tanya Gunawan.
"Seharusnya di kamar ini ada sentuhan Cinta dari seorang wanita, kamar yang terasa dingin begitu gelap bahkan kamar ini seperti tidak bernyawa." ucap Andira.
DEG...
Terasa jantung Gunawan seperti terhentak saat mendengar perkataan Andira.
"Sudah-sudah, pergi sana Aku mau beristirahat." ucap Gunawan.
"Kamu tidak enak badan ya?" tanya Andira.
Gunawan tidak menjawab, pria itu hanya terdiam sembari menatap Andira yang masih berada di kamarnya. "Mau sakit atau enggak, itu urusanku." ucap Gunawan.
"Coba kamu mempunyai istri, pasti sekarang ini kamu akan dirawat, dicintai, dikasihi, dimanjakan Bahkan dia akan memelukmu saat kau terbaring seperti ini." ucap Andira yang membuat Gunawan langsung menarik salah satu bantal yang dia pakai kemudian melemparnya ke arah Andira.
"Brengsek, keluar loh!" seru Gunawan. memang pria itu akan berkata sedikit kasar atau berkata apapun kepada Andira, namun jika di depan orang lain maka gengsi Gunawan akan nampak begitu besar.
"Jangan-jangan kamu seperti ini karena kamu merindukan istrimu itu, Gunawan?" tanya Andira yang membuat Gunawan nampak terdiam.
"Ngapain juga aku harus merindukan wanita itu." jawab Gunawan.
__ADS_1
"Ya mungkin aja, karena kamu sudah suka sama dia. lagi pula Kalian kan sudah menikah satu tahun, masa' kamu belum ngapa-ngapain dia." sindir Andira.
"Mulutmu itu kalau berbicara dijaga jangan asal nyerocos aja." ucap Gunawan.
"Ayolah Gun, kamu ini adalah seorang pria wajar kan jika tidak mempunyai seorang istri kamu akan mencari seorang wanita yang bisa menerimamu apa adanya. lagi pula Kenapa sih kamu harus gengsi, Ngapain juga kamu membesarkan gengsi untuk tidak mau menerima wanita sebaik Safira. apa salahnya sih kalau dia itu janda, lagi pula kamu kan bukan perjaka, kamu itu duda dan dia janda. janda ketemu duda kan tidak apa-apa." ucap Andira yang membuat Gunawan bertambah semakin kesal dengan kata-kata yang diucapkan oleh Andira.
"Makin lama pembicaraanmu itu makin kacau, Andira. lebih baik kamu pergi dari sini jika tidak akan ku lempar barang-barang yang ada di kamar ini ke mukamu." ucap Gunawan.
"Kita ini sama-sama besar, kita ini sama-sama sudah dewasa. apa salahnya sih kamu jatuh cinta kepada wanita itu, toh Kalian kan tidak ada penghalang. apalagi kamu udah nikahin dia, kalau hanya untuk status membesarkan anak itu masalahnya itu terdapat sama kamu. kalau kamu mau mencintai dia aku yakin Safira akan membuat kehidupanmu semakin berwarna." ucap Andira.
"Kamu tahu sendiri kan, Dira. kalau aku itu tidak suka dengan kehidupan yang seperti itu. Aku ingin kehidupanku berjalan apa adanya.* jawab Gunawan.
"Kalau kamu ingin berjalan apa adanya maka bukalah pintu hatimu, terimalah cinta yang mungkin saja disiapkan Tuhan untukmu, cinta yang ada di depanmu." ucap Andira.
"Berisik!" seru Gunawan.
"Semoga aja kalau begitu Safira mendapatkan seorang pria yang lebih tampan lebih kaya dan lebih mencintai dia, menerima dia apa adanya bukan jadi tukang bersih-bersih ke seluruh dan tukang merawat anak." cibir Andira yang kemudian meninggalkan kamar Gunawan.
Kata-kata yang diucapkan oleh Andira memang selalu benar, untuk apa menolak cinta jika cinta itu memang ditakdirkan untuk dia. untuk apa melawan kehendak jika memang takdir itu sudah mengatakannya, sudah tiga hari ini Safira sudah keluar kota. Entahlah terkadang Gunawan memikirkan apa yang dikatakan oleh Andira.
"Apa benar yang dikatakan oleh Andira kalau aku ini adalah seorang pengecut yang selalu menolak untuk mengakui perasaanku?" tanya Gunawan dalam hati. terlihat pria itu menutup laptopnya, berdiri dari kamarnya sembari menatap jendela yang ada di kamar. semilir terdengar suara Safira yang ada di sana, seketika senyum Gunawan nampak saat dia membayangkan suara Safira yang menggema di seluruh ruangan. tak berselang lama entah mengapa suara itu semakin terdengar begitu keras.
"Kenapa rasanya aku semakin membayangkan wanita itu." ucap Gunawan karena begitu kebingungan.
Akhirnya Gunawan mencoba untuk menyingkirkan bayangan Safira yang selalu muncul, Gunawan hendak berjalan keluar dari kamarnya. sorot matanya menatap rumah yang begitu megah namun terasa begitu sepi.
"Mama, mama!!" teriak si kembar yang memanggil mamanya. Gunawan benar-benar dibuat pusing, malah sekarang dia mulai berhalusinasi kalau putranya memanggil nama Safira dan wanita itu menjawabnya.
"Sudah pulang, nyonya?!" seru Si Mbok kepada Safira
"Sudah mbok," jawab Safira.
Ketika mendengar suara Si Mbok tentu saja hal itu membuat Gunawan sedikit terkejut.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Mawar hitam berduri
- I love you uncle Bastian
__ADS_1