
"Dasar pria tidak tahu diri!" seru Sheila.
Reno sedikit terkejut ketika dirinya melihat wanita yang ke berapa hari yang lalu dia tabrak kemudian meminta pertanggungjawabannya. "Kamu, lagi ngapain di sini?" tanya Reno kepada Sheila.
Wajah yang terkejut ketika pria yang menabraknya beberapa hari itu berada di rumahnya. "Kenapa aku di sini? tentu saja Ini rumahku." jawab Sheila sambil menatap Reno dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Lagian Kamu ngapain di sini? ngapain di rumahku?" tanya Sheila yang menatap Reno.
"Aku kemari karena aku harus bertemu dengan teman mamaku." jawab Reno.
Mirasti menatap putranya yang sedang berbicara dengan putri dari Safira, wanita itu sedikit kebingungan. tatapan mata Mirasti menatap Sheila yang terlihat sangat marah kepada putranya.
"Apakah kalian saling mengenal?" tanya Mirasti yang sedikit ingin mengetahui Kenapa kedua orang itu terlihat memiliki dendam kesumat.
"Tentu saja saya mengenal orang ini, Tante. dia ini menabrakku setelah itu tidak minta maaf langsung pergi." jawab Sheila yang kemudian menghembuskan nafasnya. "Apalagi dia itu kata-katanya nyolot banget loh, Tan." sambung Sheila yang terlihat masih dalam mode emosi.
"Oh begitu ya, Jadi kalian bertemu di waktu yang tidak tepat?" tanya Mirasti.
"Bukannya tidak tepat lagi, Tan. pria ini bukan hanya nyolot, dia jug tidak punya sopan santun. lagian dimintai pertanggungjawaban malah jawabannya nggak masuk akal banget." Sheila yang benar-benar menunjukkan tatapan mata yang begitu tidak suka kepada Reno.
"Memangnya kamu ngelakuin apa sih, Reno. kok Sheila marah banget?" tanya Mirasti. sesaat kemudian Reno mendekatkan wajahnya dan membisikkan sebuah kalimat yang membuat ibunya langsung terdiam. "Ya ampun, gila banget ya kamu." sambung Mirasti setelah mendengar perkataan putranya tersebut.
"Dia bilang minta pertanggungjawaban, Ya aku jawab seperti itu ma." jawab Reno sambil tersenyum menatap Sheila yang mukanya sudah ditekuk-tekuk seperti lipatan kertas.
"Hem..," Reno menunjukkan senyumnya hingga membuat Mirasti langsung meninggalkan ruang tamu. tak berselang lama terlihat Safira sudah berada di ruang tamu.
"Mirasti, sudah lama?" tanya Sheila.
"Tidak, barusan aja kok." jawab Mirasti.
Mirasti dan Reno berada di rumah Safira, sedangkan Sheila sendiri pergi ke tempat kakaknya untuk mengantarkan Indah ke rumah sakit sesuai janjinya.
Beberapa jam kemudian
Yufan dan Indah sudah berada di rumah sakit, Sheila yang berada di tempat itu nampak wanita itu menatap kakak iparnya yang sedang diperiksa.
__ADS_1
"Pak dokter, kakak iparku sakit apa?" tanya Sheila yang menunjukkan raut wajah kebingungan dan pertanyaan yang begitu banyak.
"Kakak iparmu tidak sakit, tapi...," Pak dokter yang belum melanjutkan perkataannya langsung diputus oleh Sheila.
"Lalu, dia Kenapa dok?" tanya Sheila yang benar-benar menunjukkan kebingungan yang luar biasa.
"Kelihatannya kakakmu itu akan mempunyai anak." jawab pak dokter dengan raut wajah yang sedikit dibuat-buat. karena pria tua itu tahu bahwa gadis muda yang sedang bertanya dengannya itu sangat ingin tahu.
"Kelihatannya kakak iparku mau punya anak." ucap Sheila yang tidak memikirkan apa perkataan dokter. "Punya anak." ucap Sheila yang sedikit memikirkan perkataan dokter itu. "Anak, mbak Indah akan punya anak, dokter!" seru Sheila yang terkejut sekaligus bahagia setelah mendengar jawaban dari Pak dokter yang memeriksa Indah.
"Iya, Sheila." jawab Yufan.
"Wow.., aku akan punya keponakan dong?" tanya Sheila dengan raut wajah yang begitu bahagia dan senyum yang begitu mengembang. seolah dia mendapatkan sebuah hadiah.
"Jangan teriak-teriak keras di sini, Sheila. ini bukan lapangan sepak bola loh." Yufan yang mencoba untuk menenangkan Sheila. padahal dalam hatinya dia juga berteriak sekencang mungkin saat mendengar dokter mengatakan kalau dia akan mempunyai seorang bayi.
"Iya sebentar lagi Kakak iparmu itu akan punya anak, jadi sebentar lagi kamu akan jadi bibi tua, bibi keriput dan bibi ompong." dokter tua yang membuat kata-kata candaan kepada Sheila hingga membuat wanita itu sedikit memanyunkan bibirnya karena tidak terima.
"Paman dokter, Paman kalau bilang itu sedikit dipikirkan ya. Aku ini masih muda cantik, mana mungkin kulitku keriput. kulitku kencang bahkan aku adalah wanita luar biasa dengan semua keindahan yang aku miliki." ucap Sheila sambil menyentuh kedua pipinya.
"Bang, Nanti ajak aku makan-makan dong." minta Sheila.
"Siap-siap Mas." bisik Indah.
Yufan tidak mendengarkan perkataan istrinya, hari ini dia benar-benar sangat bahagia, begitu bahagia dengan semua cerita indah dan anugerah yang begitu luar biasa itu.
"Kamu mau makan di mana, Sheila?" tanya Yufan.
"Di mana saja bang, pokoknya yang gratis." jawab Sheila sambil menunjuk sebuah warung pinggir jalan yang menyajikan masakan laut seafood kesukaan Sheila.
Setelah menghabiskan waktu dengan makan-makan makanan seafood akhirnya Sheila kembali ke rumah. wanita muda itu mendapatkan sebuah pesan dari salah satu temannya yang mengatakan kalau dia dan temannya itu diterima kerja di salah satu hotel.
"Oh my God, Oke mulai sekarang aku akan menjalani hidupku aku tidak ingin bergantung kepada mama dan papa. Aku akan mencari uang sendiri, aku akan menata hidupku. aku akan kuliah dengan biaya ku sendiri." senyum bahagia Sheila ketika dia mendapatkan sebuah kabar dari Nadia kalau dia dan Nadia diterima kerja di salah satu hotel sebagai tukang bersih-bersih. Sheila bukan tipe wanita mudah sombong yang akan memilih pekerjaan.
__ADS_1
Keesokan hari Sheila mengatakan mengenai kabar Kalau dia akan bekerja di salah satu hotel.
"Kenapa kamu tidak kerja sama Papa saja di perusahaan, Sheila?" tanya Gunawan.
"Tidak Pa, aku ingin mencari jati diriku sendiri." jawab Sheila dengan tegas.
"Tapi, apa kamu tidak malu kerja sebagai tukang bersih-bersih kamar dan pelayan?" tanya Safira sambil menatap wajah putrinya yang begitu serius.
"Tidak mungkin Ma, aku tidak akan malu dengan semua pekerjaan asalkan itu halal it's oke." ujar Sheila sembari menunjukkan senyumnya.
Gunawan dan Safira sangat tahu betul bagaimana watak dari putrinya tersebut, karena itu Gunawan tidak akan memaksa apapun yang diinginkan oleh putrinya, selama itu adalah Jalan baik maka Gunawan akan memberikan dukungan untuk putrinya itu.
"Lalu, Kapan kamu mulai kerja?" tanya Safira.
"Hari ini aku mau interview ma, aku sama Nadia akan berangkat sebentar lagi." jawab Sheila yang kemudian menyelesaikan makannya dan membersihkan mulutnya.
"Hati-hati saat bekerja, hotel adalah tempat yang sedikit menakutkan jadi kamu harus selalu waspada." Gunawan yang selalu memperingatkan putrinya untuk tidak mempermainkan tanggung jawab yang dia berikan.
"Oke Papa, Tenang saja aku akan melakukan apa yang Papa katakan." jawab Sheila.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Mawar hitam berduri
- I love you uncle Bastian
__ADS_1
- Terlempar ke dimensi kerajaan