
VILA GUNAWAN
"Wow.., mamamu pandai memasak ya?" Reno begitu lahap makan masakan Safira.
"Tentu saja makanannya enak, kan tidak pakai bayar. gratis!" Sela yang langsung nyolot saat Reno mengatakan kalau makanan yang dimasak oleh ibunya itu lezat. padahal Sheila sendiri Memang sangat menyukai masakan ibunya itu. Karena baginya itu adalah makanan paling lezat.
"Oh ya, nanti kita jalan-jalan di sekitar kebun apa gitu..," pinta Nadia.
"Memangnya kita mau ke kebun apa?" tanya Sheila sambil makan.
"Kalau kalian makan lebih baik makanannya dihabiskan dulu, setelah selesai makan baru bicara. kalau kalian makan sambil bicara itu namanya makanannya dimakan sama setan." Reno yang terlihat begitu menyebalkan itu ternyata mengerti tata krama makan.
Sepuluh menit kemudian
Mereka setelah sudah selesai dengan ritual makan mereka, Sheila mengajak ketiga temannya itu untuk pergi ke salah satu kebun yang ada di kawasan puncak.
"Memangnya kita ke mana, Sheila?" tanya dua teman Sheila yang lain.
"Kita ke kebun anggur dan strawberry. pemilik tempat di sini memiliki anggur, strawberry sama kebun apel. beberapa buah yang lain juga ada." jawab Sheila.
"Kalau begitu lebih baik kita ke sana aja, kita minta sama orangnya, bagaimana?" Nadia yang begitu bersemangat. tanpa mengatakan apapun keempat wanita muda itu langsung bergegas ke tempat yang mereka bicarakan.
Reno yang melihat mereka pergi tentu saja pria itu langsung mengikuti 4 Gadis itu pergi ke salah satu kebun buah.
"Ngapain sih kamu ngikutin kami!" seru Sheila.
"Aku, tidak mengikuti kalian. aku hanya mau ke sana juga, memangnya tidak boleh?" Reno yang mencari alasan.
"Ya sudah kalau gitu, kita berangkat sama-sama aja." jawab Nadia yang kemudian berjalan mengikuti Sheila.
Hari itu benar-benar menjadi hari yang begitu melelahkan di kebun buah pemilik salah satu pria kaya.
Dua hari kemudian
HOTEL NUSANTARA
BRAKK...
PRANGG...
suara benda jatuh dan beberapa teriakan yang ada di salah satu kamar hotel.
"Suara apa itu, Sheila?"
"Entahlah Nadia, aku tidak tahu."
"Tapi kok suaranya seperti itu, Sheila. apa mungkin ada sesuatu yang terjadi?"
__ADS_1
"Nadia, Aku tidak tahu. kenapa kamu harus tanya sama aku, Kamu kira aku ada di dalam sana."
"Tapi, itu suara barang-barang dibanting loh, Sheila."
"Sudahlah Nadia, kita tidak usah ikut campur dalam masalah orang. lebih baik kita bekerja, kita harus mengantar makanan ini ke salah satu kamar, oke." ucap Sheila yang kemudian mengajak Nadia Untuk mengantarkan makanan pesanan salah satu kamar hotel.
AAAAAA!!!
suara teriakan yang semakin keras terdengar dari salah satu kamar.
BRAKK...
BRUKK...
Kamar yang tadi mengeluarkan suara begitu riuh itu Pintunya tiba-tiba terbuka, seorang pria keluar dari ruangan itu dengan luka yang begitu serius.
"Tol-long..," rintih seorang pria yang membuka pintu kamar itu. namun dia sudah tersungkur dengan darah yang mengalir dari tubuhnya.
Sheila dan Nadia nampak menatap pria yang berlumuran darah itu.
"Apa yang terjadi?" Nadia yang ketakutan ketika melihat seorang pria yang membuka pintu kamar bersuara gaduh itu keluar dengan kondisi tubuh yang penuh dengan luka.
"AAAAA!!!"
seketika Nadia berteriak begitu keras saat melihat pemandangan yang ada di depannya. dia benar-benar tidak akan pernah mengira kalau dirinya akan melihat darah yang mengalir begitu banyak.
ZLEPP..
ZLEPP..
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu walaupun kamu mati." si wanita yang kemudian mengangkat pisau yang ada di tangannya. dia tidak melihat kemanapun, seketika wanita itu menancapkan pisaunya dan menusuk si pria berulang kali hingga membuat si pria mengeluarkan darah dari mulutnya. Sheila dan Nadia yang melihat hal itu mereka benar-benar seperti berada di bioskop live.
"AAAA!!!!"
Nadia berteriak kembali. wanita itu langsung pingsan dan tidak sadarkan diri setelah melihat pemandangan yang ada di depannya.
Sedangkan Sheila yang melihat hal itu seketika dia langsung menarik si wanita yang duduk di atas tubuh si pria yang mungkin masih hidup atau sudah mati.
"Apa yang kamu lakukan!" teriak Sheila.
"Dia pantas mati di tanganku." jawab si wanita.
Tidak ada pergerakan sama sekali setelah dia menikam si pria, tatapan matanya begitu kosong, air mata pun tidak mengalir. tangannya terlihat tidak gemetar namun tatapan mata kosong itu menunjukkan kebencian yang sangat luar biasa.
Sheila langsung menelepon anggota keamanan atau polisi atau siapapun yang ada di benaknya, sekitar beberapa detik Kemudian beberapa pihak keamanan hotel nampak menatap seorang wanita yang sudah membunuh seorang pria.
"Kamu tidak apa-apa, Sheila?" tanya salah satu office boy hotel.
__ADS_1
"Telepon polisi, telepon polisi!!" teriak Sheila yang tubuhnya benar-benar begitu gemetar hebat. dia tidak pernah membayangkan akan melihat hal seperti ini. pembunuhan yang dilakukan oleh seorang wanita di depan matanya.
Sekitar 5 atau 10 menit kemudian
Reno sudah berada di tempat kejadian, polisi juga ada di tempat itu dan menahan si wanita.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Reno kepada Sheila.
Wanita itu sudah terduduk lemas di lantai dengan memori pembunuhan yang ada di depannya.
"Tolong kalian bawa wanita ini ke ruang kesehatan, aku akan membawa Sheila." Reno yang kemudian menggendong Sheila dan membawanya ke ruang kesehatan yang ada di hotel.
Hotel itu kembali heboh dengan sebuah insiden pembunuhan yang terjadi, beberapa waktu yang lalu insiden pelecehan dari seorang pria tua. sekarang insiden pembunuhan seorang wanita.
"Tolong ambilkan aku air." pinta Reno.
Sesaat kemudian segelas air sudah datang dan diberikan kepada Reno, pria itu meminta Sheila untuk menenangkan dirinya setelah melihat pembunuhan yang dilakukan di depan matanya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Reno.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Sheila, wanita itu nampak terdiam kemudian memegang tangan Reno dengan begitu kuat. "Kenapa wanita itu membunuh pria itu?" tanya Sheila yang pikirannya dipenuhi dengan Kejadian beberapa waktu lalu.
"Tenanglah, aku akan mengantarkanmu pulang, oke." ucap Reno.
Sheila menganggukkan kepalanya, wanita itu benar-benar kebingungan bukannya ketakutan. sekitar satu jam kemudian Reno sudah sampai di tempat Gunawan. pria itu menatap Sheila kemudian membantunya berdiri.
"Ada apa, Reno?" Safira yang baru keluar dan melihat Reno mengantar putrinya.
"Lebih baik Sela dibawa masuk ke kamar dulu Tante, nanti aku akan menceritakan sesuatu." jawab Reno yang kemudian menggendong Sheila dan membawanya masuk ke kamar.
Lima menit kemudian Reno sudah bersama dengan Safira, pria itu nampak menghela nafasnya kemudian menatap Safira yang menatapnya dengan pertanyaan yang begitu banyak.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Mawar hitam berduri
- I love you uncle Bastian
- Terlempar ke dimensi kerajaan
__ADS_1