KU BALAS PENGKHIATANMU

KU BALAS PENGKHIATANMU
Safira marah


__ADS_3

Sebuah kalimat dikatakan oleh Putri ketika dia sudah berada di lift perusahaan, Safira yang Mendengar hal itu seketika wanita itu tersenyum kemudian menatap orang-orang yang ada di tempat itu.


"Akan lebih baik jika seseorang yang tidak mempunyai perasaan mengatakan hal itu, jika orang mempunyai kebaikan maka lift ini tidak ada yang akan berat. tapi mungkin lift ini menjadi lebih berat karena ada seseorang yang sudah berbuat dosa besar." sahut Safira.


Beberapa karyawan yang mendengar perkataan Safira seketika mereka sedikit kebingungan, entah siapa yang dimaksud oleh Safira tapi dari raut wajah bos wanita tersebut mereka yakin kalau ada sesuatu yang membuat Bos wanita itu mengatakan hal itu.


"Kenapa kamu mengatakan hal itu Kamu kira aku ingin berbuat dosa." ucap putri.


"Kamu sendiri yang mengatakan kalau lift ini menjadi berat bukan? coba kamu tanyakan kepada dirimu sendiri, apa tidak mungkin lift ini menjadi berat karena dosa seseorang yang begitu berat hingga karena besarnya dosa tersebut membuat sesuatu yang dia pakai menjadi sedikit berat." ucap Safira yang kemudian keluar dari lift tersebut.


Putri benar-benar sangat kesal dengan kata-kata yang diucapkan oleh Safira, niat hati dia ingin mempermalukan Safira malah dia sendiri yang dipermalukan oleh wanita itu.


"Dasar wanita sialan." ucap Putri yang melihat Safira sudah keluar dari lift.


"Kamu ini apa-apaan sih, kamu tidak bisa menjaga mulutmu!!" bentak Rudi.


"Kenapa? kenapa memangnya? apa kamu tidak rela kalau wanita itu aku hina." cibir Putri.


"Tentu saja, kamu itu sudah melakukan kesalahan malah bersikap seperti itu. Kamu itu punya harga diri nggak?!" bentar Rudi yang membuat Putri semakin marah.


Dari sekian waktu Safira selalu membuat Putri seperti seorang wanita yang benar-benar tidak diinginkan oleh suaminya. memang Safira ingin melakukan hal itu karena pembalasannya belum berjalan sama sekali, walaupun itu berjalan hanya beberapa persen saja.


Terlihat Safira memasuki kantornya, dia menatap ruangan itu sambil tersenyum. "Kalian berdua akan merasakan pembalasan dariku, lihat saja akan kubuat kehidupan kalian serasa bagai di neraka." ucap Safira.


Tak berselang lama Safira meminta Nia untuk mengumpulkan para pekerja yang ada di bagian pemasaran. "Nia, kamu minta orang-orang yang ada di bagian pemasaran untuk berkumpul di ruang rapat." pinta Safira.


"Baik bu." jawab Nia.


Setelah mengatakan itu Nia langsung memberi kabar itu kepada para pekerja yang ada di bagian pemasaran. "Wanita itu mau apa lagi sih, Apa dia ingin terus mencari masalah sama kita." ucap putri yang benar-benar sangat kesal.


"Kamu ini kenapa sih, Putri. kamu terus-menerus kok bersikap seperti itu sama Bu Fira.

__ADS_1


"Apa kamu punya masalah dengan Bu Fira?" tanya Budi yang ada di bagian pemasaran.


"Ya tidak seperti itu, Lihatlah wanita itu selalu saja membuat masalah. beberapa hari yang lalu dia menyuruh kita untuk lembur sampai malam untuk mengerjakan pekerjaan kita. sekarang Lihatlah Dia menyuruh kita untuk melakukan lembur lagi." ucap Putri.


"Tapi yang aku tahu walaupun kita lembur dia menggaji kita dengan bonus yang lumayan, bahkan dia memberikan kita makanan dan memberi kita fasilitas yang cukup." ucap Budi.


"Tapi wanita itu benar-benar sialan, Baru beberapa minggu di sini dia sudah membuat keributan." ucap Putri.


"Kamu aja yang sensi sama Bu Vira, jangan-jangan kamu mengenal wanita itu ya?" tanya Budi yang membuat Putri langsung terdiam.


"Siapa bilang aku mengenal wanita itu, males banget aku mengenal wanita itu." jawab Putri yang kemudian duduk di tempatnya.


Rudi terus memikirkan wanita yang sudah berada di perusahaan tempat dia bekerja, selama beberapa minggu ini pria itu masih belum bisa melupakan istrinya. ada perasaan yang begitu rindu kepada wanita yang tiba-tiba dia ceraikan tersebut.


"Kamu mau ke mana Mas?" tanya Putri Saat melihat suaminya berdiri dan hendak pergi.


"Tentu saja aku mau pergi ke ruangan Bu Fira, kamu ingin kita dipermalukan karena tidak pergi ke tempat yang dia perintahkan." jawab Rudi.


"Tentu saja aku masih mencintainya, kalau bukan gara-gara kamu Aku tidak akan pernah meninggalkannya." jawab Rudi.


Putri sangat kesal dengan perkataan suaminya, sesaat kemudian akhirnya Rudi lebih memilih untuk pergi ke tempat Safira. Budi yang melihat putri Rudi pergi ke ruangan Safira seketika dia juga ikut, beberapa orang yang ada di ruangan itu seketika pergi ke tempat itu.


"Dasar wanita tidak tahu diri, Lihat saja aku pasti akan memberimu balasan." ucap Putri yang benar-benar tidak terima.


Sekitar 5 orang sudah berada di ruangan Safira, wanita itu menatap satu persatu orang-orang yang ada di ruangannya.


"Baiklah kalau begitu, kita mulai saja. kenapa pemasaran yang ada di wilayah Sumatera semakin melorot?" tanya Safira.


"Kami kurang tahu Bu, tapi pemesanan di sana lumayan banyak." jawab Budi.


"Kalau pemesanan banyak tidak mungkin kan nominal yang tertera di pemasaran wilayah itu grafiknya menurun?" tanya Safira yang membuat Budi kebingungan.

__ADS_1


Pria itu melihat beberapa laporan yang sudah didapatkan oleh Safira. "Aku minta pada kalian untuk segera melakukan apa yang aku minta, tolong kalian diskusikan dengan anggota kalian dan Cari tahu mengenai ketidakstabilan yang ada di wilayah itu." pinta Safira.


Setelah mendengar jawaban dari Safira akhirnya orang-orang itu pergi, Rudi benar-benar tidak tahan setiap hari melihat Mantan istrinya itu berada di dekatnya. rasa rindu yang begitu besar membuat Rudi terdiam di tempat itu, setelah orang-orang pergi terlihat Rudi masih belum keluar.


"Kenapa kamu di sini, seluruh teman-temanmu sudah pergi kan?" tanya Safira.


"Aku yakin kalau kamu mengingatku." ucap Rudi.


"Siapa kamu dan Kenapa juga aku harus mengingatmu." jawab Safira.


Dari kata-kata yang kamu ucapkan aku yakin kalau Sebenarnya kamu mengingatku." ucap Rudi.


Safira hanya menunjukkan satu senyumnya, sesaat kemudian wanita itu mengatakan sesuatu yang membuat jantung Rudi terasa dicengkram dengan keras.


"Tidak akan ada seorang suami yang menggadaikan istrinya, kamu bisa bersenang-senang dengan wanita itu tapi kamu tidak bisa mengeluarkan ku dari rumah sakit. kamu menghabiskan uang ratusan juta dengan selingkuhanmu itu tapi kamu tidak bisa mengeluarkan aku dari rumah sakit. Apakah itu masih pantas dikatakan sebagai seorang suami?" tanya Safira yang membuat Rudi benar-benar tersentak hingga Dia kehilangan semua kata-katanya.


Rasa bersalah itu memang selalu ada, tapi Safira tidak akan membiarkan Rudi hidup bahagia bersama wanita yang sudah menghancurkannya.


** bersambung **


mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- my little wife


- Janji di bawah rembulan


- Isteri kesayangan tuan besar


- ku balas pengkhianatan mu


- Mawar hitam berduri

__ADS_1


- I love you uncle Bastian


__ADS_2