KU BALAS PENGKHIATANMU

KU BALAS PENGKHIATANMU
Sikap mungkin berubah


__ADS_3

Hari ini Safira benar-benar bahagia karena teman-temannya mau mengunjunginya di desanya. "Aku seneng banget deh kalian ke sini, sering-sering seperti ini dong ke sini." ucap Safira.


"Ya nggak bisa begitu dong, Safira. kita bertiga ini sudah menikah loh, Kalau kami sering-sering kemari bisa-bisa kami dimarahi sama suami kami." ucap Lala.


"Ya nggak sering-sering dong, satu bulan sekali gitu. kalian ajak suami kalian kemari anggap aja kalian liburan." ucap Safira.


Tatapan mata mereka menatap gadis centil super bawel yang terkadang menelpon mereka dengan logat yang sangat imut.


"Kenapa kamu menatap kami seperti itu, 1 tahun tidak melihat kami masa kamu lupa sama kami?" tanya Amel.


"Ya Nggak mungkin lah Aku lupa, tadi aku cuma lepas sebentar." jawab Sheila dengan nada yang begitu lucu.


"Di mana suamimu, Safira?" tanya Bu Esti.


"Lagi di peternakan, Bu. melihat sapi-sapi yang mau dijual." jawab Safira.


"Kenapa dijual?" tanya Amel.


"Sapinya sudah tua, mau membeli yang mudah biar stok susunya melimpah." jawab Safira.


Tatapan mata Amel menatap Safira yang selalu bersikap sederhana, mungkin kehidupannya tidak semewah dahulu namun senyum yang ditunjukkan oleh Safira mengatakan kalau wanita itu lebih bahagia berada di sini. tak berselang lama terlihat Gunawan kembali dengan raut wajah yang benar-benar sangat kesal.


"Lho, Ada apa mas?" tanya Safira yang melihat Gunawan masuk rumah dengan wajah yang sangat marah.


Tatapan mata Gunawan menatap tiga teman istrinya tersebut. "Maaf, aku tidak tahu kalau ada tamu di rumah." ucap Gunawan.


"Tidak apa-apa, Gunawan. Kenapa mukamu seperti habis kena mesin cucian?" tanya Bu Esti.


"Itu loh mbak, aku tadi di telepon dari sekolah tempat anak-anak. katanya mereka berkelahi di sekolah." jawab Gunawan.


"Kamu sudah dari sekolah Mas?" tanya Safira.


"Sudah, ini tadi aku menghukum anak-anak untuk mencari rumput di sawah." jawab Gunawan.


"Mas ini gimana sih, kamu menyuruh mereka mencari rumput dengan memakai pakaian sekolah?" tanya Safira yang marah.

__ADS_1


"Iya, Memangnya kenapa? mereka itu harus diberi pelajaran. aku tadi sangat malu waktu dipanggil oleh guru mereka." jawab Gunawan.


"Permasalahan itu pasti ada jalan keluarnya, Mas. persoalan itu pasti ada permasalahan yang membuat persoalan itu terjadi. kenapa mas tidak bertanya dan langsung memberikan mereka hukuman?!" seru Safira yang kemudian meninggalkan teman-temannya dan pergi ke sawah.


Gunawan tidak tahu apa yang harus dia lakukan, terlihat pria itu menatap istrinya yang sudah pergi ke sawah. "Papa jahat!" seru Sheila yang kemudian pergi mengikuti ibunya.


Bu Esti dan yang lain tentu saja ikut berlari mengejar Safira, terlihat mereka bertiga mengejar Safira yang sudah berlari terlebih dahulu. beberapa menit kemudian Safira sudah berada di salah satu sawah miliknya, wanita itu menatap si kembar yang berada di sawah dengan memakai pakaian sekolah yang masih lengkap.


"Yufan, Ivan!!" seru Safira.


Kedua remaja itu nampak menoleh dan menatap ibunya. "Mama." ucap si kembar.


Safira yang terlihat marah itu mendekati kedua putranya, wanita itu meminta Yufan dan Ivan untuk berteduh di salah satu gubuk yang ada di sawah mereka.


"Ada apa?" tanya Safira dengan suara yang sangat lembut.


Si kembar nampak terdiam, mereka menatap wajah ibunya dengan tatapan mata yang begitu sedih.


"Ada apa, kenapa Papa pulang dengan raut wajah yang begitu kesal?" tanya Safira kembali.


"Maafkan kami, Ma." ucap Yufan.


"Kenapa kalian berkelahi, Apakah ada sesuatu yang membuat kalian melakukan hal itu?" tanya Safira.


"Kami marah, ma. kami tidak terima jika mereka bilang mama bukanlah Mama kami, kami marah ma karena mereka bilang Mama tidak akan menganggap kami sebagai anak Mama karena kami cuma anak tiri." jawab Yufan.


DEG..


Safira memang tersentak dengan kata-kata si kembar, sesaat kemudian terlihat wanita itu mengelus rambut si kembar dengan begitu lembut.


"Memang Mama bukanlah orang yang melahirkan kalian, memang betul Mama bukan mama kandung kalian. Mama tidak melahirkan kalian Mama tidak tahu bagaimana kalian lahir, tapi kalian adalah putra Mama. kebanggaan Mama kebahagiaan mama dan kesedihan mama, lalu Apakah kalian menganggap Mama ini adalah ibu kalian?" tanya Safira yang membuat Yufan dan Ivan menganggukkan kepalanya.


"Lalu kenapa kalian marah ketika mereka mengatakan Mama bukan mama kandung kalian?" tanya Safira.


"Kami tidak terima, kami tidak suka mereka mengatakan hal itu. Mama adalah mama kami, Mama adalah segalanya buat kami." jawab Ivan.

__ADS_1


Perbincangan tiga orang itu membuat tiga wanita yang ada di dekat tempat itu nampak tersenyum, seorang ibu sambung yang selalu memberikan cinta sama rata dengan kedua anak kembar serta anak kandungnya.


"Walaupun aku bukan mama kalian, kalian adalah putra Mama. tidak apa-apa, biarkan saja mereka mengatakan hal itu. hubungan kita adalah hubungan karena cinta kita tidak memiliki hubungan darah, tapi lebih dari itu kalian adalah segalanya buat mama." ucap Safira yang membuat Yufan dan Ivan langsung memeluk Safira.


Sheila yang melihat hal itu tentu saja bocah kecil itu tidak terima. "Sheila juga anak mama, Sheila juga mau dipeluk!" seru Sheila yang kemudian berlari kembali sembari memeluk mamanya.


Canda gurau terdengar di tempat itu, Gunawan nampak meneteskan air matanya tidak pernah sekalipun Safira membedakan si kembar dan Sheila. baginya mereka adalah anak-anaknya dan darah dagingnya, siapapun yang berani mengatakan hal itu Safira mungkin akan diam namun wanita itu akan menyerang dengan serangan yang begitu halus.


Malam itu akhirnya ketiga wanita itu memutuskan untuk kembali karena salah satu suami mereka sudah menjemput tiga wanita yang bertemu ke rumah Safira.


"Hati-hati ya Bu." ucap Safira.


"Kamu selalu bersabar ya, Kamu harus menjadi wanita kuat dan jaga keluargamu." ucap Bu Esti.


"Tentu, kapan-kapan suami Bu Esti itu suruh masuk masa berkunjung kok cuma beberapa jam Setelah itu minta pulang." ucap Safira yang membuat suami Bu Esti nampak tersenyum.


Bu Esti menemukan kebahagiaannya Walaupun dia menikah di usia yang sudah tua, namun Bu Esti memiliki suami yang begitu baik. Lala dan Amel menikah dengan seorang pria yang sejak dulu mereka cintai, kehidupan memang berjalan seperti yang sudah ditakdirkan.


Setelah mereka kembali terlihat Yufan dan Ivan meminta maaf kepada Safira. "Memangnya Apa yang membuat kalian marah hingga menghajar teman-teman kalian?" tanya Gunawan.


"Kami tidak terima, kami tidak terima ketika Mama dibilang hanya ibu tiri yang akan menyakiti kami." jawab Ivan.


Tentu saja si kembar tidak akan pernah terima karena bagi mereka Safira adalah wanita yang sangat luar biasa.


** bersambung **


mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- my little wife


- Isteri kesayangan tuan besar


- ku balas pengkhianatan mu


- Mawar hitam berduri

__ADS_1


- I love you uncle Bastian


__ADS_2