KU BALAS PENGKHIATANMU

KU BALAS PENGKHIATANMU
Senyum Safira, tangisan Putri


__ADS_3

Akhirnya Rudi membawa Safira ke ruang kesehatan yang ada di perusahaan, Putri benar-benar tidak terima saat melihat suaminya lebih membela Mantan istrinya daripada dia. dulu Rudi lebih memilih untuk membela Putri dan menyalahkan Safira,. Namun semua kejadian itu berbalik 100 derajat. sekarang Rudi lebih memilih membela Safira daripada istrinya, dulu seperti itulah keadaan Safira Rudi lebih mementingkan Putri dan meninggalkan Shafira. Tidak ada waktu yang dia luangkan untuk istrinya dia lebih memilih selingkuhannya.


Sekarang di ruang kesehatan itu Safira seolah tertawa terbahak-bahak saat melihat perhatian yang diberikan oleh Rudi. "Lebih baik kamu temui istrimu dulu, Mas. aku tidak ingin saat kamu keluar dari ruangan ini istrimu kemari dan melakukan sesuatu kepadaku." ucap Safira.


"Jika dia berani melakukan sesuatu kepadamu maka aku akan memberikan dia pelajaran. Aku tidak akan membiarkan dia melukaimu kembali." ucap Rudi.


Safira terlihat tersenyum namun senyuman itu adalah senyuman mengejek. "Dulu kamu mungkin akan berbalik, Mas. kamu akan membela selingkuhanmu itu kamu akan mengatakan kalau kamu sibuk, namun di depan mataku sekarang semuanya sudah berubah. Kau membelaku dan mencampakkan istrimu seperti yang kau lakukan kepadaku dulu." guman Safira dalam hati.


"Apakah kepalamu masih sakit?" tanya Rudi kepada Safira.


"Sedikit, kepalaku sekarang merasa pusing." jawab Safira.


"Apa kamu mau aku pijit?" tanya Rudi kepada mantan istrinya itu.


"Tidak usah, Mas. aku kan sudah bilang kalau Lebih baik kau kembali ke tempatmu, Aku tidak ingin membuat masalah. Aku tidak ingin membuat keributan." jawab Safira


"Tapi aku tidak akan meninggalkanmu, Aku tidak akan membuatmu terluka sendirian." ucap Rudi.


"Seperti inikah luka yang kau berikan dahulu? luka yang begitu menganga, mungkin luka itu tidak akan pernah bisa sembuh dengan cepat, luka yang membuat aku hampir kehilangan nyawa." ucap Safira yang membuat Rudi langsung terhentak.


DEG...


tatapan mata Rudi menatap Safira, pria itu menatap Mantan istrinya yang telah dia sakiti. "Apakah kamu sudah mengingat semuanya? Apakah kamu mengingat kalau aku adalah suamimu?" tanya Rudi kepada Safira.


"Kenapa memangnya, Apakah ada yang akan berubah jika aku sudah mengingat semuanya?" tanya Safira yang membuat Rudi terdiam seolah pria itu membeku.


"Tentu saja semuanya tidak akan berubah secepat itu, rasa sakit itu tidak akan mudah untuk menghilang. rasa sakit itu benar-benar sungguh menyakitkan, Apakah kamu benar-benar sudah mengingatnya?" tanya Rudi kepada sang istri.


"Buat apa aku mengingat sesuatu yang sudah melukaiku. Apakah ada gunanya jika aku mengingatnya?" tanya Safira yang membuat Rudi terdiam. senyum yang begitu sakit itu nampak ditunjukkan oleh Safira, Rudi tidak berani lagi mengatakan sesuatu karena sakit yang dia berikan itu memang terlampau sangat besar hingga membuat Rudi tidak mampu untuk menjawab semua perkataan Mantan istrinya dahulu.

__ADS_1


"Maaf." ucap Rudi dengan begitu mudahnya.


"Maaf itu tidak akan pernah muda, Mas. maaf itu terlalu berat, memberi Maaf itu tidak akan mudah karena kesalahan yang dibuat terkadang terlampau besar hingga membuat kata maaf itu bagaikan sebuah kenyataan yang benar-benar begitu menyakitkan." ucap Safira yang membuat Rudi tidak berani menatap Mantan istrinya.


Terlihat pria itu hanya mampu mendudukkan kepalanya, menundukkan kepala sembari mengingat semua kejadian masa lalu. kejadian 1 tahun lebih itu seolah-olah adalah bom waktu yang akan siap meledak dan sekarang ini tanda adalah tanda-tanda waktu untuk meledak.


"Apakah kamu sudah mengingat Siapa dirimu?" tanya Rudi berulang kali.


"Jika aku sudah mengingatnya Apakah ada yang berubah?" tanya Safira yang membuat Rudi terdiam.


Hanya ada sebuah kebisuan di antara mereka berdua. terlihat Rudi bersujud sembari meminta maaf kepada Safira. "Jika benar kamu sudah mengingat mengenai masa lalu kita, Aku benar-benar meminta maaf padamu Aku benar-benar menyesal atas semua yang terjadi." ucap Rudi.


Safira terlihat tersenyum wanita itu menatap mantan suaminya sembari mengatakan sesuatu. "Tidak semuanya bisa dikatakan hanya dengan Maaf, tidak semuanya bisa diucapkan hanya dengan maaf. Apakah kamu pernah merasakan apa yang aku rasakan, Mas? terlampau sakit perselingkuhan yang kau lakukan, terlampau sakit derita yang aku rasakan. Aku mencintaimu aku memberikan seluruh hidupku, Namun nyatanya apa yang aku dapatkan sebuah penghianatan kalian berdua telah menghianatiku memberikan aku luka bahkan membuat aku terluka hingga tidak bisa sembuh untuk selamanya." jawab Safira yang kemudian meminta Rudi untuk keluar dari ruangan itu.


DEG...,


Rudi benar-benar tersentak, pria itu yakin kalau mantan istrinya itu ingat dengan masa lalunya, namun apa yang akan terjadi semuanya benar-benar seperti dunia yang sudah jungkir balik cinta dan penghianatan benar-benar menjadi sebuah garis yang begitu tipis.


"Aku akan membalas seluruh pengkhianatan kalian, Aku akan membalasmu Mas. aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia di atas penderitaanku, kalian sudah menghianatiku selama 2 tahun, di depanku kalian bermanis muka namun di belakang kalian begitu pahit." ucap Safira yang kemudian memejamkan matanya.


Suara langkah kaki seseorang memasuki ruangan Safira, seketika Safira membuka matanya dan melihat Gunawan sudah ada di depan ruang kesehatan. "Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Gunawan yang benar-benar begitu kebingungan Setelah mendapat kabar dari salah satu karyawan yang ada di sana.


"Mas Gun, Mas Gunawan lagi ngapain di sini?" tanya Safira yang benar-benar terkejut saat melihat kedatangan Gunawan sudah ada di depannya.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Gunawan yang membuat Safira terdiam.


"Aku baik-baik saja Mas, Memangnya ada apa?" tanya Safira.


"Tadi ada seseorang yang memberitahukan padaku kalau kamu itu tiba-tiba pingsan." jawab Gunawan.

__ADS_1


"Mas ke sini datang sendiri?" tanya Safira.


"Aku tadi sedang ada rapat waktu Salah satu karyawan di sini bilang kalau kamu pingsan." jawab Gunawan.


"Aku tidak apa-apa Mas, lebih baik Mas kembali saja ke kantor Mas. aku tidak apa-apa kok." ucap Safira.


Dengan segera Gunawan mendekati Safira, menyentuh dahi istrinya sembari memeluknya. "Kalau ada sesuatu Katakan padaku, Kenapa kamu sakit tidak bilang padaku?" tanya Gunawan yang membuat jantung Safira tiba-tiba berdebar.


DEG...


DEG...


"Aku.., Aku tidak apa-apa Mas." ucap Safira yang berusaha menarik tubuhnya. Safira benar-benar sangat kebingungan dengan semua perlakuan Gunawan hingga membuat dia salah tingkah.


"Aku akan meminta izin kepada pimpinanmu untuk membawamu pulang, aku tidak mau kamu sakit dan tetap bekerja." ucap Gunawan.


"Tidak usah Mas." jawab Safira.


"Aku tidak mau tahu, kamu akan pulang bersamaku." ucap Gunawan yang kemudian menggendong Safira dengan tiba-tiba.


** bersambung **


mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- my little wife


- Isteri kesayangan tuan besar


- ku balas pengkhianatan mu

__ADS_1


- Mawar hitam berduri


- I love you uncle Bastian


__ADS_2