KU BALAS PENGKHIATANMU

KU BALAS PENGKHIATANMU
Gunawan yang mulai caper


__ADS_3

Siang itu Safira sudah berada di kebun belakang Vila, terlihat wanita itu sedang mengambil beberapa buah yang ada di sana.


"Aduh.., tinggi banget." ucap Safira yang terlihat berusaha untuk mengambil buah namu tangannya tidak sampai.


"Ini pohon kok tinggi banget sih, dari tadi aku mengambil buah Kok tidak dapat-dapat." ucap Safira yang terlihat berusaha untuk meraih buah mangga yang sudah matang.


"Hemm...," Gunawan yang berada tidak jauh dari tempat Safira terlihat pria itu hanya tersenyum. Gunawan memandang Safira yang terlihat kesusahan untuk mengambil buah mangga yang dari tadi ingin dia ambil.


Safira terlihat berusaha melompat namun tangannya masih tidak dapat meraih mangga tersebut, sesaat kemudian karena Gunawan tidak tega melihat Safira seperti itu seketika pria itu berjalan mendekati Safira. kedua tangannya meraih pinggang Safira dan mengangkat tubuh mungil wanita cantik itu.


GREPP....


Safira yang mendapatkan perlakuan seperti itu tentu saja dia langsung menoleh


DEG...


seketika jantung Safira berdebar begitu kencang saat dirinya mendapatkan perlakuan seperti itu dari Gunawan.


"Apa apa yang kamu lakukan?" tanya Safira yang kebingungan. wanita itu berusaha untuk tidak merasa canggung namun perlakuan Gunawan benar-benar membuat dirinya sangat kebingungan.


"Cepat ambil mangga nya, Apa kamu ingin aku terus menggendongmu seperti ini?!" tanya Gunawan sambil tersenyum.


Sepasang suami istri yang belum saling mengakui itu terlihat bersikap begitu romantis namun benar-benar sangat canggung satu sama lain. tubuh Safira sedikit gemetar, jantungnya berdebar begitu kencang bahkan tangannya sedikit kebingungan saat mau meraih beberapa buah mangga tersebut.


"Ambil yang matang aja, jangan yang hijau." pinta Gunawan.


Sekitar 5 atau 6 buah mangga sudah dapat diambil oleh Safira, seketika Safira meminta Gunawan untuk menurunkannya. "Turunkan aku." pinta Safira.


"Ya," ketika Gunawan hendak menurunkannya Safira, salah satu kaki Gunawan tiba-tiba saja menginjak sesuatu hingga Gunawan tanpa sengaja terpeleset.


BRUKK...,


Safira dan Gunawan terjatuh, pria itu nampak memeluk Safira ketika jatuh, saat ini Safira berada di atas tubuh Gunawan. terlihat wanita itu meletakkan wajahnya di dada Gunawan, jantung mereka berdebar begitu kencang ketika adegan itu benar-benar terlihat begitu sempurna.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Gunawan yang kemudian merentangkan tangannya.


DEG...,


seketika Safira langsung berdiri dari tubuh Gunawan, kedua orang itu benar-benar dalam situasi yang sangat canggung luar biasa. wajah mereka sedikit merona, adegan barusan terlihat oleh si kembar yang hendak menghampiri papa dan mamanya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Gunawan yang belum berani menatap wajah Safira.


"I...,Iya..," jawab Safira yang sedikit gugup.

__ADS_1


"Papa, Mama!" teriak si kembar yang membuat suasana malu dan canggung itu seketika menghilang.


"Ya Sayang." jawab Safira.


"Papa, papa sudah ambil buah mangganya belum?" tanya Ivan kepada papanya.


"Sudah, Papa sudah membantu Mama mengambil buah mangganya." jawab Gunawan yang kemudian mengambil 5 buah mangga tersebut.


Terlihat Ivan menggandeng tangan mamanya, bocah kecil itu mengajak kedua orang tuanya untuk duduk di taman tersebut. "Mama, kupasin buah mangganya ya." pinta Yufan dan Ivan.


"Baiklah, Mama ambil pisau dulu ya." jawab Safira.


"Aku ambilkan pisaunya, kamu tunggu aja sebentar." Gunawan yang kemudian berdiri untuk mengambil pisau di dapur.


Safira terus memegang dadanya, jantungnya terus berdebar begitu kencang apalagi ketika Safira mengingat adegan tadi. "Tidak, tidak.., aku lagi mikirin apa sih." guman Safira dalam hati.


Terlihat suara canda tawa di kebun belakang itu, Gunawan benar-benar ingin memastikan kalau perasaan yang dia miliki untuk Safira itu adalah perasaan murni karena cinta.


"Papa, suapin Mama dong." minta Ivan.


Safira dan Gunawan saling memandang satu sama lain. "Mama bisa makan sendiri, sayang." ucap Safira.


"Memangnya kenapa sih Mama tidak mau disuapin sama Papa?" tanya Yufan yang membuat Safira hanya tersenyum.


"Nggak usah lah Mas." ucap Safira yang tersenyum malu sekaligus kebingungan.


"Memangnya kenapa, kamu malu ya?" tanya Gunawan.


Safira benar-benar kebingungan dengan sikap Gunawan hari ini, karena tidak ingin terlihat begitu canggung Safira langsung membuka mulutnya. Gunawan tersenyum ketika dirinya mendapatkan perlakuan itu, namun sesaat kemudian ada sebuah gangguan kecil yang membuat Gunawan benar-benar sangat marah. siapa lagi gangguannya kalau bukan dari Satria.


"Pak." Panggil penjaga villa Gunawan.


"Iya ada apa." jawab Gunawan.


"Ada tamu pak." ucap penjaga villa.


"Siapa?" tanya Gunawan.


"Katanya pemilik villa sebelah." jawab penjaga villa.


Terlihat Gunawan menghembuskan nafasnya secara kasar. "Pria itu ngapain lagi sih, kok ganggu terus." ucap Gunawan yang didengar oleh Safira. memang benar Satria benar-benar sangat mengganggu, pria itu seolah tidak mengizinkan Gunawan untuk mendekati Safira.


"Bilang aja sama tuh tamu kalau orangnya lagi keluar atau lagi mandi atau lagi apa lah..," ucap Gunawan yang kesal.

__ADS_1


Safira hanya menurut saja, toh dia juga sedikit bingung karena sikap bosnya yang selalu mengganggu mereka. hari ini dihabiskan oleh Gunawan bersama Safira dan dua anak kembarnya dengan perasaan yang benar-benar begitu bahagia. Gunawan tidak akan melupakan hari ini, titik awal dari perubahan sikapnya. pria itu akan bersikap seperti seorang suami kepada istrinya.


Beberapa hari kemudian waktu sudah kembali pada tempatnya masing-masing, terlihat Safira sudah berada di perusahaan tempat kerjanya. "Fira!" Panggil Rudi yang terlihat berlari mendekati Safira.


Safira yang melihat Rudi tentu saja pria itu terus wanita itu tersenyum. "Ya ada apa, Mas." jawab Safira.


"Kamu sudah makan, belum?" tanya Rudi kepada Safira.


"Belum, Memangnya kenapa." jawab Safira


"Kita makan di kantin yuk," ajak Rudi.


Safira masih pada rencananya semula, dia akan membuat dua orang yang menghianatinya itu merasakan apa yang harus merasa mereka dapatkan. rencana Safira masih tetap sama, dia akan membalas dendam kepada dua orang itu.


"Apa nanti istrimu itu tidak marah-marah kalau kamu mengajak aku makan, Mas?" tanya Safira.


"Biarin aja." jawab Rudi.


Tentu saja Safira akan membiarkan hal itu dia akan membuat Putri merasakan sakit seperti dirinya.


"Kalau nanti istrimu marah kamu yang tanggung jawab ya." ucap Safira.


"Tenanglah, aku akan bertanggung jawab." jawab Rudi.


Ketika mereka hendak berjalan ke cafe yang ada di restoran, terlihat Putri baru keluar untuk mencari keberadaan suaminya, tatapan mata putri menatap Rudi yang pergi bersama Safira.


"Dasar wanita gatal, masih berani Dia mendekati Mas Rudi." ucap Putri yang kemudian berjalan mengikuti Safira dan suaminya. terlihat Wanita itu benar-benar sangat kesal, inilah yang dirasakan oleh Safira ketika dirinya dikhianati oleh teman dan suaminya.


"Dasar wanita tidak tahu diri." umpat putri.


** bersambung **


mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- my little wife


- Isteri kesayangan tuan besar


- ku balas pengkhianatan mu


- Mawar hitam berduri


- I love you uncle Bastian

__ADS_1


__ADS_2