
Doni mengajak Mita masuk kamarnya.
"Kalo mau mandi, tuh kamar mandinya." Doni menunjuk sebuah pintu di sisi utara kamarnya.
"Sepertinya ini deh baju yang udah di siapin Aqeela buat kamu." Gumam Doni sambil mengangkat pakaian yang terlipat rapi di ranjangnya.
Mita mendekat meraih pakaian yang disediakan Aqeela untuknya.
Sebuah gaun berwarna biru laut berlengan pendek setinggi lutut berhias renda di kerahnya.
"cantik sekali, pas sesuai seleraku. Kok Aqeela tau ya Don?" Bisik Mita.
Doni hanya mengedikkan bahunya tanda tak tahu.
"Entahlah.."
"Mandi dan gantilah baju. Bau asem.." Goda Doni sambil mengendus bahu Mita.
"Iih.. Don, ketauan Aqeela sama Desta bisa runyam kamu.."
" Alah.. paling mentok aku di suruh nikahin kamu. Gitu aja kok susah." Kata Doni dengan entengnya malah sengaja mendekatkan hidungnya ke pipi Mita tapi segera di jauhinya lagi. ( Sengaja modusin Mita )
Mita yang sudah bersiap dengan segala kemungkinan sampai menutup matanya. Karena tak ada reaksi dari Doni, ia segera membuka matanya.
Disana Doni hanya tertawa lebar gak jelas. "Kamu juga pengen ya..." Bisik Doni.
"Kampret kamu Don.." Maki Mita yang terlanjur malu karena ketahuan mengharapkan Doni menciumnya.
__ADS_1
Iapun segera berlalu dari hadapan Doni menuju kamar mandi.
Doni hanya melihat Mita dengan tersenyum lalu keluar kamarnya. Menunggu Mita selesai mandi diluar. Kebetulan di luar kamar ada kursi sehingga Doni bisa duduk manis di sana. Sambil mengkhayalkan masa depannya.
(Hee hee... mantan brandal bole dong punya impian)
💠💠💠💠💠💠💠
Selesai mandi dan berganti pakaian, Mita juga melihat ada bedak dan liptin tergeletak di ranjang Doni di sebelah bajunya tadi.
"Aqeela niat banget siih.. sampai bedakpun aku udah di siapkan." Gumam Mita lirih sambil mengagumi sosok Aqeela.
Begitu melihat Mita keluar, Doni tersenyum.
"Cantik..." Ucapnya lirih tapi masih bisa di dengar Mita.
"Don, di bawah ramai banget ya?" Tanya Mita
"Wajarlah Mit, mereka bertarung sama anak-anak kecil." Kata Doni lirih sambil tertawa renyah.
Mita memandang aktivitas Desta dan Aqeela di bawah yang di kerubuti anak kecil usia 5 - 12 tahun.
Mita melihat betapa telatennya Aqeela dan Desta melayani anak-anak tersebut.
"Don, ternyata kita dulu salah ya... melukai mereka berdua." Bisik Mita menyesal.
"Sudahlah Sayang. Aku juga menyesal. Tapi kata mereka berdua." Sambil nunjuk Desta dan Aqeela yang di bawah.
__ADS_1
"Kata mereka, itu adalah taqdir. Jalan Allah untuk mendekati kita." Doni terdiam. Mita menggenggam tangan Doni, menguatkan hatinya.
"Aku bersyukur dipertemukan dengan mereka. Aku bisa kembali bersekolah, menyelesaikan yang belum selesai. Kamu gak nyesel kan kalo ternyata aku lucunya lebih lambat." Doni menatap Mita penuh makna.
"Aku gak pernah menyesal. Aku masih sabar menunggu." Jawab Mita tanpa melepas tatapan Doni.
"Yuuk... kita ngobrol di belakang saja. Di sana lebih tenang daripada di sini." Ajak Doni tanpa melepas genggaman tangannya.
Mita hanya pasrah dan menuruti permintaan Doni. Karena bagaimanapun Doni tuan rumah di sini.
"Duduk di sini aja ya.. Yang." Kata Doni begitu sampai di halaman belakang rumah Desta.
sepasang kursi taman.
Doni mengajak Mita menghabiskan sorenya di situ.
"Sayang... halaman belakang ini lumayan luas juga." Mita tampak kagum dengan desain halaman belakang rumah Desta.
Ia malah gak jadi duduk. Yang ada berjalan mengitari setiap sudut halaman belakang rumah Desta.
Ada bunga di setiap sudut halaman. Sedangkan di sisi dinding pembatasnya ada tanaman semacam alang-alang liar yang terawat dengan baik.
Sedangkan di bagian tengah dibiarkan kosong hanya ditumbuhi rumput liar. Namun lagi-lagi terawat. Sehingga terlihat begitu natural.
Doni hanya tersenyum melihat kekaguman gadis kesayangan itu begitu bahagia.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1
To be continue....