
"Ono sing gak beres iki..." Teriak kedua satpam itu bersamaan.
( Ada yang tidak beres ini...)
"Piye Rip?" Tanya Pak Soleh kepada Pak Urip.
( Bagaimana, Rip?)
"Kita periksa semua gedung..." Pak Soleh memberi perintah mendadak.
"Terus yang jaga gerbang, sopo Leh.. Soleh.." Ucap Pak Urip bingung.
"Lhoo Pak Soleh, Pak Urip. Kenapa kok kayak orang bingung?" Pak Jamal tiba-tiba menghentikan kendaraannya di depan pos satpam.
"Hmm.. ini loo, Pak.." Pak Soleh terlihat bimbang.
"Ada apa, Pak? Ngomong saja. Kalo saya bisa bantu pasti saya bantu." Ucap Pak Jamal menyakinkan kedua satpam itu.
Pak Soleh masih diam, tapi pandangannya mengarah ke area parkir siswa.
Pak Jamal, seolah paham. Iapun auto menoleh ke area parkir siswa.
"Lhoo... kok masih banyak mobil dan motor, Pak? Punya siapa saja ini?" Pak Jamal ikut terkejut melihat kondisi area parkir siswa yang masih belum kosong. Karena biasanya jam segini sekolah sudah sepi.
"Aaanuu... Pak.. itu mobilnya Mas Desta dan teman-temannya. Terus juga ada mobilnya Mas Wisnuu dan teman-temannya." Jawab Pak Soleh terbata-bata. Takut Pak Jamal marah padanya karena sudah membiarkan anak-anak tidak segera pulang.
"Apa?" Pak Jamal melonjak kaget mendengar nama-nama yang di sebutkan Pak Soleh.
Pak Jamal segera menepikan kendaraannya. Dan menemui Pak Satpam.
"Dimana mereka Pak?" Tanya Pak Jamal.
"Saya... saya tidak tahu Pak.." Pak Soleh masih ketakutan.
"Ya.. sudah kita cari mereka. Pak Urip di sini saja ya, jaga gerbang. Segera telpon saya kalau mereka sudah keluar." Titah Pak Jamal.
"Pak Soleh ke gedung A ya... Saya akan ke gedung B. Lewat jalan belakang ya, Pak. Kita tangkap basah mereka." Ucap Pak Jamal geram.
Pak Soleh hanya menuruti saja, permintaan guru BK itu. Mereka berpisah di koridor utama. Pak Soleh ke gedung A. Pak Jamal ke gedung Utama. Lewat jalan belakang. ( Kayak detektif aja kan...)
Pak Soleh menyusuri setiap gedung tapi tidak menemukan apa-apa.
Pak Jamal, menyusuri tiap kelas dan koridor di gedung utama. Semua kosong.
Kemudia beliau naik ke lantai dua. Kosong.
Naiklah lagi ke lantai tiga. Beliau menemukan dua anak berseragam sedang duduk selonjor sambil sesekali melirik ke bawah. Kemudian melihat ke ponsel dengan cemas.
__ADS_1
Yang perempuan menyandar ke dinding, kedua tangannya memeluk kaki yang lututnya ia tekuk ke dada untuk digunakan menyangga kepalanya yang tertunduk menahan tangis.
Yang cowok nampak gusar. Berkali-kali menatap ke bawah. Menatap ke ponsel. Melirik ke gadis di sebelahnya.
Mereka tidak pelukan atau melakukan hal yang aneh. Tapi kok malah sembunyi di sini.
Pak Jamalpun mendekati pasangan tersebut.
Namun setelah semakin dekat, Pak Jamal malah dibuat lebih kaget.
"Lhoo... Daffa, Nabila. Kalian ngapain di sini?" Pak Jamal setengah berteriak memanggil nama kedua muridnya yang beliau tahu bersahabat itu.
"Pak,Hussttt... jangan kenceng-kenceng." Daffa yang kaget segera meletakkan jari telunjuk ke bibirnya, mengisyaratkan Pak Jamal untuk mengecilkan suaranya.
"Ada apa ini?" Tanya Pak Jamal kepo.
Daffa membetulkan duduknya, menghadap Pak Jamal.
"Pak, coba bapak lihat ke bawah. Tapi saya mohon Bapak sementara tidak melakukan apapun." Ucap Daffa.
Pak Jamalpun menuruti ucapan muridnya itu. Melongok ke bawah.
Dan betapa kagetnya Pak Jamal, melihat begitu banyak pemuda yang tak dikenalnya sedang berjaga di sana.
"Siapa mereka, Daffa?" Tanya Pak Jamal sambil membekap mulutnya sendiri.
Pak Jamal ikut terduduk lemas, mendengar penuturan Daffa.
"Kanapa, Bapak tidak tahu ya, Daf. Kalo ada murid Bapak yang sedang dalam bahaya. Guru seperti apa saya ini?" Pak Jamal seakan sedang mengutuki dirinya sendiri.
"Pak, kita tunggu saja. Masih adakah guru lain selain Bapak yang masih di sekolah?" Tanya Daffa.
"Saya tidak tahu, Daf. Biasanya si Zainal yang terakhir pulang." Kata Pak Jamal seakan mengingat kalau rekannya itu selalu datang lebih awal dan pulang paling akhir.
Daffa menarik napas lega. Paling tidak kejadian ini tidak akan sampai ke telinga guru-guru lain. Karena jika sampai terdengar guru lain akan panjang urusannya.
Pak Jamal masih terduduk lemas. Belum bisa berpikir jernih. Harus bertindak bagaimana. Meskipun dia seorang guru. Tapi, posisinya lemah. Dia sendirian.
"Pak....kita di sini saja. Kita tunggu info dari Kak Desta dan teman-temannya." Kata Daffa seakan tahu apa yang dipikirkan Guru BK tersebut.
Pak Jamal menatap kosong ke bawah. Membuang napas sekenanya.
"Leh, Soleh. Kamu ke gedung utama sekarang. Naik ke lantai 3. lewat belakang." Pak Jamal segera menelpon Pak Soleh yang tadi mengikuti permintaannya mencari keberadaan pemilik kendaraan yang masih terparkir di di area parkir siswa.
Pak Jamal juga khawatir kalau Pak Soleh menemui preman yang berjaga di aula olahraga. Bisa-bisa Pak Soleh juga jadi korban. Karena itu Pak Jamal segera menghubungi Pak Soleh untuk segera ke gedung Utama.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
__ADS_1
Kondisi di bawah
Di luar aula, tepat pukul 16.40
Teman-teman Doni dan Vian, mengecoh para penjaga diluar. Sedangkan Desta, Vian, Ronald dan Wawan masih sembunyi di posisinya.
Teman-teman Doni dan Vian berusaha meluluhkan para penjaga aula tanpa suara berisik.
Dalam beberapa menit, beberapa penjaga sudah berhasil mereka lumpuhkan. Para genster itu mengikat preman penjaga tersebut dan meletakkannya sembarangan.
Setelah tidak ada penjaga lagi tersisa dari pihak Wisnu. Desta, Ronald, Wawan dan Vian keluar.
"Kalian di sini ya..jangan masuk dulu. Kalau memang kami benar-benar butuh. Akan kami panggil. " Pinta Ronald
Braakkkk.....
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Kembali ke dalam aula...
Aqeela masih berhadapan dengan Juna, Feri dan Frans.
Sedangkan Doni, ia masih ditahan oleh Halim.
Dan Wisnu, ia masih menahan sakit karena tendangan dan Lemparan dari Aqeela.
Feri, Frans dan Juna memasang kuda-kuda.
Melihat lawannya sudah mempersiapkan diri. Aqeela pun melakukan hal yang sama.
Fran mulai melakukan tendangan, Aqeela hanya menghindar. Disambung Juna dan Aqeela masih menghindar. Lalu Feri juga melakukan tendangan yang sama, sekali lagi Aqeela masih menghindar.
Aqeela memutar matanya menatap ketiga laki-laki yang berdiri di sekelilingnya.
Satu gerakan kali ini menyambar kakinya, disambung dua tangan menyerang dadanya.
Aqeela segera tanggap menghindar serangan kaki menangkis salah satu tangan lawannya. Lalu dengan lincahnya ia menundukkan tubuhnya menghindari pukulan telak dari Feri.
Merasa pukulan kosong, Feri mendorong tubuh Aqeela, membuat gadis itu terpelanting beberapa langkah.
"Aqeela...." Teriak Doni auto berdiri tapi Halim kembali menahannya.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Next Part ya...
Ramaikan , Princesa of Mojopahit dan Istri Tetangga ya Gengs...
__ADS_1