
Setelah melalui perundingan yang alot dan seram beberapa hari yang lalu di rumah Doni.
Akhirnya, Aqeela mengalah tidak ikut Desta meladeni tantangan Pongky. Salah satu musuh suaminya yang tidak ia kenal.
Ia memilih di rumah menunggu seperti waktu itu. Bukan tanpa sebab Desta N the Genk melarang Aqeela.
Mereka tidak ingin gadis itu yang malah memicu Pongky semakin edan.
Pongky, hanya nama panggilan itu yang Desta N the Genk tahu. Seorang lelaki berusia sekitar dua puluhan akhir.
Sejak muda pekerjaannya tidak jelas. Sukanya hura-hura dan mengganggu pengunjung klub malam. Ia suka berkeliling dari satu klub ke klub lain.
Tujuannya mencari wanita cantik untuk ia tiduri dan jika puas akan ia campakkan begitu saja lebih parahnya ada yang menjadi korban prostitusinya.
Iyes, dengan kata lain ia seorang mucikari terselubung.
Awal perseteruan Desta N the Genk dengan Pongky tidak jauh-jauh dari kedatangan mereka di salah klub malam terkenal di Surabaya.
Tidak dipungkiri di sana banyak anak terselubung Pongky alias pekerja komersial dibawah asuhan sang mucikari.
Saat itu tujuan utama mereka bertiga hanya sekedar minum dan melepas penat. Apalagi dengan usia yang baru masuk bangku SMA. Tidak ada keinginan lebih.
Tidak ada yang mencurigakan begitu ketiganya masuk. Namun, saat ada seorang wanita berpakaian serba mini menghampiri, ada perasaan was-was.
"Hai, adek-adek ganteng," sapa wanita itu.
"Ada apa, ya Kak?" tanya Ronald menatap wanita tersebut dari atas sampai bawah.
Bukan karena takjub, tetapi lebih kepada ketidaksukaannya pada keagresifan si wanita.
__ADS_1
"Boleh aku bergabung?" tanya si wanita.
Dengan enggan Desta bergeser tanpa suara.
"Boleh bergabung tapi jangan resek," sahut Desta.
"Oke, adik ganteng," jawab wanita tersenyum licik menatap Desta.
Baru sejenak duduk, Desta N the genk sudah beranjak.
"Hei, kita belum kenalan. Belum minum-minum juga," kata si wanita tadi.
"Kita harus pergi," kata Desta tidak mempedulikan wanita tadi.
Begitu mencapai pintu keluar tangan Ronald ditarik seseorang karena kebetulan ia yang ada di belakang.
"Awwwh," teriaknya.
Terlihat Ronald digandeng paksa oleh wanita tadi. Tangan Ronald mengisyaratkan agar keduanya tenang dan meminta keduanya terus berjalan.
Setelah kedua temannya keluar, Ronald mengambil alih tangan wanita yang ia duga mabuk.
Ronald menggandeng wanita tersebut layaknya pasangan, hingga seseorang menghadang jalannya.
"Bukannya dia Loli?" tanya pria yang kemudian ia kenal dengan Pongki.
Ronald menatap Pongki curiga.
"Bukan," jawab Ronald membawa wanita yang tidak ia tahu namanya itu menjauhi Pongki.
__ADS_1
"berhenti anak muda!" seru Pongki menahan Ronald.
"Dia milikku," lanjut Pongki.
"Atas hak apa dia menjadi milikmu, dia yang lebih dulu menawarkan dirinya padaku," balas Ronald.
entah keberanian darimana ia bisa membalas seperti itu.
Pongki terlihat geram mendengar bantahan dari Ronald. Pria itu mendekati Ronald yang masih berjarak sekitar empat langkah di belakangnya.
Pongki menarik paksa tangan wanita tersebut. Ronald kembali menarik tangan wanita tersebut dari Pongki.
"Siapa dia, sayang?" tanya wanita tersebut dengan manja dan badan terhuyung-huyung kepada Ronald.
"Entahlah," jawab Ronald membawa wanita tersebut menjauh.
Tanpa Ronald sadari, Pongki berusaha meninju lawannya dari belakang. Namun, belum sempat tangannya mencapai kepala Ronald, Desta menarik dan memukul lebih dulu punggung Pongki.
Mendapat serangan dari belakang, Pongki terhenyak dan menoleh ke belakang.
Tanpa basa basi, Pongki membalas pukulan Desta. Keduanya terlibat baku hantam tanpa ampun.
Wawan yang menyadari akan ada bahaya bergegas mencari solusi agar keduanya tidak terlampau jauh saling serang.
beruntung tak jauh dari situ ada kantor polisi dengan setengah memaksa menarik salah satu Polisi menuju lokasi pertempuran yang masih di sekitaran klub malam tersebut.
Melihat kedatangan Polisi, Pongki segera menghentikan pukulannya dan menjauh. Nmaun, sebelum menjauh ia sempat berbisik.
"Urusan kita belum selesai, suatu saat aku akan menantang kalian!" seru Pongky.
__ADS_1
Sejak saat itu Pongky dan Desta N the geng bermusuhan.
***