
"Lhoo benar kan. Kamu Aqeela." Seru Mama Daffa.
"Iya Tante." Aqeela menyalami Mama Daffa. Dan menelangkupkan kedua tangannya di depan Papa Daffa.
Aqeela meletakkan baki berisi minuman kepada masing-masing tamunya.
"Terima kasih, Yulian." Ucap Aqeela kepada Yulian yang bersedia membawakan beberapa toples makanan ringan.
"Kak, aku ke kamar Kak Doni yaa..." Bisik Yulian ke Aqeela.
"Iya.. belajar yaa..." Kata Aqeela.
"Besok kan libur Kakak... Yulian mau main saja." Rengek Yulian.
" Ya sudah bole main sama Kak Doni." Kata Aqeela
"Maaf ya Om.. Tante.. ada sponsor dikit." Kata Aqeela sambil tersenyum kepada tamunya.
Tamunya hanya tersenyum memandang balita yang terus naik ke lantai atas.
"Jadi, yang mau beli property saya itu kalian?" Tanya Papa Daffa tidak bisa menutupi rasa herannya, begitu tubuh Yulian menghilang dari pandangan mereka.
"Iya, Kami yang akan membeli property Om Indra." Jawab Desta.
"Kalian sudah tahu berapa harga yang saya tawarkan?" Tanya Pak Indra datar.
"Belum." Jawab Aqeela. Desta hanya terdiam, sengaja ingin menguji sampai dimana kejujuran Pak Indra.
"Saya menawarkan ke orang lain 1,7 sampai 2 M." Ucap Pak Indra dengan pongah.
"Kalian anak muda, ngerti apa tentang property?" Lanjut Pak Indra.
"Yaa.. memang sih Pak, Kami anak muda tidak mengerti apa-apa tentang property. Seeprti yang Bapak lihat. Kami berdua ini hanya dua orang yang belum memiliki banyak pengalaman." Jawab Desta merendah.
"Ooh.. baguslah kalau begitu. Bagaimana, masih ada keinginan untuk membeli property saya." Tanya Pak Indra.
"Masih." Jawab Desta dengan suara rendah.
"Kalian tidak takut dengan harganya?" Tanya Pak Indra.
"Dua tahun lalu, kami membeli rumah ini dengan dana nekat. Kenapa sekarang tidak." Jawab Desta masih dengan suara datar.
"Maksud kalian??" Pak Indra seperti tertohok mendengar ucapan Desta.
"Pak Indra, rumah ini kami beli dua tahun lalu. Dan karena niat baik kami membeli rumah ini, Alloh mempermudah." Jawab Desta.
"Kalian sudah menikah?" Tanya Mama Daffa lirih mencoba mengalihkan suaminya yang begitu menggebu-gebu memberi pelajaran kepada anak muda dihadapannya.
"Sudah Tante. Rumah ini kami beli dua bulan setelah pernikahan kami." Jelas Aqeela.
"Terus kamu juga masih sekolah?" Tanya Mama Daffa masih heran.
"Masih Tante, Kan saya sekelas sama Daffa. Anak Tante." Jawab Aqeela.
"Gak takut hamil tuh..." Mama Daffa terlihat kepo.
__ADS_1
"Hee hee he.. enggak Tante. Kita bisa mnejaga diri kok, Tante." Ucap Aqeela sambil tersenyum kecil.
"Hadeeh.. anak zaman sekarang. Ada-ada aja tingkahnya." Ucap Mama Daffa.
Aqeela dan Desta tak ada niatan menjawab pernyataan Mama Daffa. Keduanya hanya saling menatap dan melempar senyum dan hanya mereka berdua yang tahu maknanya.
Pak Indra menatap istrinya bingung.
"Ma, kamu pernah ketemu mereka berdua?" Tanya Papa Daffa.
"Iyaa.. Papa kan juga pernah ketemu mereka di rumah sakit. Waktu kita mau nganter Daffa terapi." Ucap Mama Daffa mengingatkan.
Pak Indra seperti mengingat sebuah memori.
"Oohh.. iya saya ingat..." Kata Pak Indra.
"Sudah ingat kan Pa. Siapa Aqeela?" Tanya Mama Daffa.
"Teman sdnya Daffa." Ucap Pak Indra.
"Iyya Pa... Aqeela ini teman es de nya Daffa. Yang menyelamatkan Daffa dari gerombolan yang mengeroyok Daffa waktu itu." Jawab Daffa.
Pak Indra mendengarkan penuturan anaknya dengan diam. Sepertinya ia berpikir.
"Nak Desta, apa kalian masih ingin memiliki properti itu?" Tanya Pak Indra lagi.
"Kami masih menginginkannya, Pak." Jawab Desta tanpa ragu
"Kalau bole Bapak tahu, untuk apa kalian begitu kekeh ingin membelinya? Padahal bangunannya sudah rusak." Tanya Pak Indra lebih merendah. Pak Indra nampaknya sedikit berubah pikiran setelah tahu bahwa istri calon buyer-nya adalah penyelamat anaknya.
"Kami akan membangun masjid dan asrama di atasnya." Jawab Desta.
"Masjid? apa kalian serius dengan pernyataan kalian?" Tanya Pak Indra.
"Kami sangat serius, Pak. Karena kami juga sering kesulitan mengajak sholat berjama'ah jama'ah pengajian. Karena itu istri saya berinisiatif membangun masjid." Kata Desta.
"Sebenarnya kegiatan kalian itu apa sih?" Tanya Pak Indra.
"Istri saya ini aktif berdakwah Pak. Setiap senin dan kamis jama'ahnya ibu-ibu komplek. Sabtu-Minggu yang hadir teman-teman sebayanya. Kalo sore adik-adik mengaji di sini." Kata Desta menjelaskan profil Aqeela.
"Kalo saya sih, hanya ngantor dan jadi suaminya Aqeela." Lanjut Desta sambil melihat ke arah Pak Indra.
"Om.. Tante.. Daffa ayo sambil diminum dimakan jangan terlalu tegang." Kata Aqeela.
"Oohh.. begitu. Saya salut mendengar ada anak muda seperti kalian sangat aktif di bidang dakwah." Pak Indra tampak tertarik dengan profil Aqeela yang baru dijelaskan Desta.
"Baiklah Nak Desta karena pembelian property kami untuk tujuan mulia. Jika kalian masih berminat saya akan memberi harga khusus sebagai pemilik agen. 850 juta. Bagaimana?" Ucap Pak Indra
Aqeela dan Desta hanya saling berpandangan mendengar harga jual property yang turun drastis.
"Bapak, serius menurunkan segitu?" Tanya Desta tidak percaya.
"Saya yakin. Karena tujuan kalian. Jika diperkenankan saya nanti juga akan menyumbangkan penghasilan saya untuk pembangunan masjidnya." Jawab Pak Indra mantap.
"Masya Alloh.. Subhanalloh. Mudah-mudahan niat Om dan keluarga membawa berkah. Amiin." Ucap Desta
__ADS_1
"Aamiin.."
"Aamiin..."
"Aaminnn..."
Balas Pak Indra , Daffa dan Aqeela barengan.
"Qee... udah siap..." Sela Doni yang tiba-tiba datang ke ruang tamu sambil menggandeng Yulian.
"Makasi ya Don... Kalian tunggu di ruang makan." Pinta Aqeela.
"Om... Tante.. Daffa kita makan malam dulu yuk... Sudah di tunggu sama Doni dan Yulian." Ajak Aqeela.
"Ayol Om, Tante, Daffa kasiyan mereka berdua nanti kelamaan nunggu kita." Ajak Desta sambil berdiri.
Pak Indra, Bu Indra dan Daffa mengikuti Desta dan Aqeela menuju ruang makan.
Beberapa menu makanan tersedia di meja. Pak Indra dan Bu Indra kembali keheranan.
"Bagaimana mungkin anak semuda mereka bisa menyiapkan semuanya dengan rapi." Gumam Bu Indra dalam hati.
Seorang Asisten rumah tangga membantu menyiapkan minuman untuk di tata di meja.
"Maaf ya Om.. Tante.. Daffa, ini hanya ala akadrnya saja. Saya tidak bisa masak." Ucap Aqeela merendah.
"Ini makanannya udah banyak Qee..." Kata Mama Daffa sambil tersenyum manis.
"Terima kasih Tante..." Jawab Aqeela.
"Yulian, mau makan yang mana?" Tanya Aqeela kepada Yulian.
"Mau ayam, Kak." Jawab Yulian.
"Sebentar Kakak ambilkan. Bae kamu mau ayam juga?" Tanya Aqeela kepada Desta, setelah mengambilkan sepotong ayam untuk Yulian.
"Boleh..." Jawab Desta, yang segera ditanggapi Aqeela dengan meletakkan sepotong ayam di piring Desta.
Sebentar kemudian mereka makan tanpa bersuara.
"Om.. untuk transaksi. Bagaimana kalau besok Om ke kantor saya. Kita transaksi di sana." Pinta Desta setelah makan malam selesai, tapi posisi mereka masih nyaman di ruang makan.
"Boleh.. sekalian nanti, Saya siapkan berkas-berkasnya." Jawab Pak Indra.
"Alamat kantor kamu dimana?" Tanya Pak Indra kemudian.
Desta menyebutkan nama sebuah kantor dan alamatnya.
"Itukan kantornya Pak Wijaya?" Kata Pak Indra terkejut.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Like
komen
__ADS_1
Rate
Vote yaa...