
Di putaran kelima, menjelang akhir pertandingan.
Sebuah motor tiba-tiba melaju dari arah berlawanan. Desta yang berada di posisi terdepan, tampak kesulitan melihat jalan ke depan.
Pandangannya silau oleh cahaya lampu motor tersebut. Mendapat firasat tidak mengenakkan, dengan sigap ia menghentikan motornya.
Bagi Desta, hidupnya lebih berarti ketimbang balapan liar tantangan Gimbal. Peduli setan dengan Menang kalah. Di rumah ada Aqeela yang menunggunya dengan setia.
Apa jadinya jika ia pulang hanya tinggal namanya. Menyesal. Apalagi ia belum merasakan malam pertama. Duh, enggak main-main dulu sama bahaya.
Itu yang terlintas dalam otak Desta saat menghentikan laju motornya.
Setelah motor Desta berhenti, cahaya tersebut makin mendekat dan mengepung Desta.
"Apa-apa an ini?" seru Desta kaget, ia tidak menyangka Gimbal berlaku curang.
Bukan hanya satu motor, ada empat motor yang mengepungnya.
Dari arah belakang motor Gimbal melaju mendahuluinya. Namun, tiba-tiba suara decitan keras mengagetkan Desta dan keempat motor yang menghalanginya
"Gimbal," seru salah satu remaja yang mengepung Desta.
Mereka berempat tampak terhenyak karena Gimbal tersungkur dan motornya terguling ke kiri. Beruntung Gimbal dalam posisi tidak tertindih motornya.
Dari jauh terlihat seseorang menarik paksa tubuh Gimbal agar berdiri. Perlahan, tapi pasti orang tersebut mendekat ke arah Desta.
Perasaan Desta semakin was was dan curiga. Berbagai prasangka masuk ke otaknya. Bahkan nama polisi juga sempat terlintas dibenaknya.
Semakin dekat, semakin ia menyadari postur tubuh pria itu mirip Vian.
Begitu mereka berhadapan, Desta tersenyum kecut pria itu benar-benar Vian sahabatnya.
Nih, yang kalian sebut bos. Beraninya main curang. Kalo kalian curang Desta bisa lebih curang," hardik Vian mendorong tubuh Gimbal tanpa ampun kepada anak buahnya.
Beruntung ada satu yang tanggap sehingga Gimbal tidak tersungkur untuk kedua kalinya.
"Kalian masih mau lanjut atau selesai?" seru Vian.
Keempat remaja tersebut menatap Desta dan Vian yang kini sudah berdiri sejajar di hadapan mereka.
"Katakan pada bos kalian itu, kalau cuma mau berbuat curang dalam taruhan kita ijabahin," tantang Vian.
Keduanya saling tatap sambil tersenyum.
"Tapi tidak di sini pertandingannya!" bisik Vian kepada Gimbal yang mulai mengkerut karena ia tahu siapa Vian.
Mafia kelas kakap yang selalu luput dari penyelidikan polisi. Bahkan namanya tidak pernah terendus dalam kepolisian.
__ADS_1
Padahal sepak terjangnya sangat kuat. Namun, saking rapinya pergerakan Vian tidak ada yang pernah menyadari.
"Yuk!" ajak Vian.
Mereka berdua menaiki motor Desta menjauhi lokasi.
***
"Bro, apa kabar?" salam Desta pada Vian dengan saling mengeratkan jemari melayang ke udara.
"Bagaimana ceritanya kamu ada di sana?" tanya Desta beruntun tanpa memberi jeda pada Vian membalas.
Kali ini mereka sudah berada di sebuah warung kopi pinggir jalan yang kebetulan buka 24 jam.
Vian melirik ke arah Ronald dan Wawan yang cengengesan.
"Pasti kerjaan mereka, kan?" tanya Desta menunjuk dua sahabatnya.
"Bersyukur kamu mereka berdua cepat tanggap. Coba kalo enggak, aku siap ngegantiin posisi kamu jadi suami Aqeela," ledek Vian.
"Hasseeem," maki Desta.
Ronald dan Wawan tertawa ringan mendengar Vian dan Desta saling memaki dan meledek.
"Betewe, makasi ya, Bro. Udah nyelametin aku hari ini," kata Desta.
"Mantap," seru Vian menikmati kopi hitam pesanannya.
"Buk, ini kopinya numbuk sendiri, ya?" tanya Vian menatap Ibu penjaga warung kopi.
"Iya, Mas," jawab singkat ibu penjaga warung yang berdandan modis tanpa make up.
"Pantesan enak dan ramai warungnya," puji Vian masih menatap si ibu yang kembali sibuk meladeni pembeli yang lain.
"Ya udah, aku balik dulu, ya. Kasihan Aqeela sudah nungguin," pamit Desta.
"Ciyee, yang udah kebelet," ledek Vian karena Desta yang terburu-buru pulang padahal biasanya ia akan pulang menjelang subuh.
"Gara-gara Aqeela ini," seru Ronald.
"Pesonya dia tidak bisa tergantikan siapapun," ledek Wawan.
Desta hanya tersenyum kecil mendengar semua ledekan teman-temannya karena semua itu tidak bisa mengubah niatnya untuk tetap pulang.
Ia yakin Aqeela pasti menunggunya dalam keadaan tidak tenang. Apalagi dengan pesan yang ia lontarkan tanpa ada taruhan.
Sepeninggal Desta.
__ADS_1
"Ternyata teman kalian bisa juga berubah jadi anak baik," kata Vian sambil terkekeh.
"Kayaknya ini karena campur tangan Aqeela. Desta tidak bisa dibelokkan begitu saja," sahut Ronald.
"Yes, kita tahulah dia dulu kayak gimana?" tambah Wawan.
"Semua yang dia miliki membuatnya bisa melakukan apa saja yang diinginkan," sambung Ronald.
"Oke, aku pamit juga. Udah pagi. Besok sekolah gaess," ucap Vian sambil berdiri
"Kita juga, sekalian pulang," ketiganya berdiri.
"Bu, berapa semuanya?" tanya Vian mendahului Ronald dan Wawan.
"Sudah dibayar sama Mas yang tadi," jawab Ibu penjualnya.
"Oke, terima kasih, Bu," balas Vian.
"Kapan tuh, anak bayarnya?" gumam Vian kepada Wawan dan Ronald yang bengong.
"Entahlah, aku juga gak lihat," sahut Ronald sambil terkekeh.
"Ya udahlah, pulang dulu!" pamit Vian menuju motornya.
****
Aqeela beranjak dengan cepat dari sofa panjang yang ia gunakan tiduran mendengar suara motor Desta masuk ke halaman.
Semalaman ia menunggu kedatangan Desta dari arena balap liar tantangan Gimbal.
"Assalamualaikum," salam Desta sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam," sahut Aqeela dengan cepat.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Aqeela setelah mencium punggung tangan Desta.
Desta menceritakan detail yang terjadi selama balapan di jalan tadi.
Sesekali Aqeela tampak menggeram kesal karen lawan suaminya kali ini berlaku curang.
"Benar-benar gak gentle," komen Aqeela diakhir cerita Desta.
"Ya udahlah, sekarang kita tidur aja!" ajak Desta menggandeng Aqeela ke kamarnya.
Yes, meski sudah menikah mereka masih tidur terpisah saat itu .
****
__ADS_1
Bersambung ❤️