MENDADAK USTADZAH

MENDADAK USTADZAH
Best Moment 16 ( Perjuangan Desta )


__ADS_3

"Hallo... dokter Dika?"


"Iya Des, kenapa?"


"Dok, Aqeela ini kan sekarang lagi hamil. Nurut dokter saat persalinan nanti, lukanya bisa ngaruh gak ke proses persalinan."


"Des, bawa Aqeela ke sini. Kamu bawa hasil peemeriksaan dokter Obgynnya. Nanti aku kasi surat rekom dokternya." Titah dokter Dika.


Desta menghubungi dokter Dika, terkait kehamilah dam bekas lukanya. Karena dari kedalaman hatinya ia memiliki kegelisahan terkait kehamilan triple Aqeela, apalagi ada bekas luka di punggung istrinya.


Karena itu Desta sengaja berkonsultasi dengan dokter Dika terkait lukanya Aqeela demi ketenangan hatinya.


💗💗💗💗💗💗💗


Hari ini sesuai janjinya dengan dokter Dika. Desta mengajak Aqeela mengunjungi dokter Dika.


"Sore, Dok..." Sapa Desta.


"Eh, kalian. Gimana kabarnya?" Tanya dokter Dika.


"Alhamdulillah, dok." Jawab Desta


"Eh, gimana nee kabarnya bumil? Tambah cantik aja." Puji dokter Dika ke Aqeela tapi sambil melirik Desta.


Kalau saja tidak ingat dokter Dika sudah dianggapnya teman pasti satu bogem sudah lepas dengan aman.


"Upzz sory yaa... adik kecil. Kayaknya papa kamu bakal ngeluarin taringnya denger Om Dika muji mama kamu." Ledek dokter Dika melihat gelagat Desta udah resah.


"Udaah, gak usah marah... Kalo istri hamil itu harus banyak sabarnya."Ucap dokter Dika lagi dengan setengah meledek.


Membuat Aqeela hanya terkekeh, sedangkan Desta hanya sedikit menarik bibirnya.


"Dokter Dika gak usah mulai deh. Tenaga saya masih kuat buat ngeladenin dokter ini. Kebetulan saya sudah lama gak dapet musuh neee.." Ucap Desta sambil menggerakkan jari-jarinya sampai menimbulkan bunyi klatak klatak.


"Wuuiih... papa kamu sangar banget, Nak." Balas dokter Dika.


"Sudah ah, kalian berdua ini gak lucu kaleee... kayak anak kecil aja." Omel Aqeela.


"Kalo masih mau lanjut, aku keluar aja." Ancam Aqeela melihat Desta masih menatap dokter Dika horor.


Tiba-tiba..


"Haa haa haa haa...." Dokter Dika dan Desta saling melepas tawa masing-masing.


"Rasanya sudah lama yaaa... kita tidak melakukan ini." Keduanya beraduk tos.


Aqeela nampak lega melihat kedua lelaki itu tertawa lepas.


"Mana hasil pemeriksaan dokter obgyn Aqeela?" Tanya dokter Dika.


"Ini dok." Desta menyerahkan selembar kertas dan hasil USG terakhir Aqeela.


Dokter Dika menerima dan membaca hasil pemeriksaan kandungan Aqeela.


"Jadi sekarang usia kandungan Aqeela udah 20 minggu. Dan Ya Alloh... bayi kalian kembar tiga." Dokter Dika nampak serius membaca hasil pemeriksaan Aqeela.


"Des, Qee.. aku harus rundingan sama dokter obgyn kayaknya. Apalagi janin Aqeela tiga."


"Des, mau dokter cewek ato cowok?" Tembak dokter Dika menawarkan dokter obgyn buat Aqeela.

__ADS_1


"Cewek. Aku gak mau istriku diobok-obok cowok lain."


"Hadeeh... posesif banget sih elo ini.." Omel dokter Dika, sembari menelpon seseorang.


"Haloo dokter Suzan. Dok, ke ruangan saya sebentar. Ada pasien saya butuh dokter." Titah dokter Dika seenaknya.


Selang lima menit seorang perempuan muda dan cantik masuk ke ruangan dokter Dika.


"Iya dok..." Sapa wanita itu.


"Oh, eh, dokter Suzan perkenalkan pasien saya....." Dokter Dika bermaksud memperkenalkan Aqeela dan Desta.


"Sudah kenal, Ini Mbak Aqeela kan. Yang suka ngisi kajian di masjid tiap hari Rabu. Sama motivatornya anak-anak di sini. Udah gak usah dikenalin lagi. Basi tau..." Ceramah dokter Suzan, yang disambung tawa Aqeela dan Desta. Sedangkan dokter Dika hanya garuk-garuk kepala mendengar ceramah dokter Suzan.


"Hadeeh... kayaknya aku yang salah di sini." Gerutu dokter Dika.


"Memangnya Mbak Aqeela kenapa dok? Kok sampai manggil saya?" Tanya dokter Suzan.


"Ini dok....hasil pemeriksaan Aqeela." Dokter Dika menyerahkan kertas dan hasil USG Aqeela.


"Waahhh... selamat yaa Mbak. kembar tiga." Dokter Suzan malah terpekik kegirangan membaca hasil pemeriksaan Aqeela.


"Terus permasalahannya dimana?" Tanya dokyer Suzan.


"Des, tunjukkan bekas luka Aqeela." Titah dokter Dika.


Desta menunjukkan bekas luka Aqeela yang masih terlihat panjang. Membuat dokter Suzan sampai menutup mulutnya, melihat hasil karya dokter Dika merawat luka Aqeela.


Dokter Suzan meminta Aqeela rebahan di bed yang ada di ruang periksa dokter Dika.


Dokter Suzan memerika kandungan Aqeela dan bekas lukanya.


"Saran saya, Aqeela melahirkan cesar. Bahkan kalian sudah bisa merencanakan mulai sekarang, kapan pelaksanaannya. Dan saran saya lagi sebaiknya Aqeela melahirkan di sini saja. Karena sejak awal tim kami sudah paham kondisi Aqeela. Kalau kalian ke rumah sakit lain ya tidak apa-apa. Tapi ceritakan kondisi Aqeela sebenarnya. Supaya tindakannya bisa lebih tepat." Saran dokter Suzan, begitu melihat kondisi Aqeela.


"Ada saran dok, kira-kira bulan apa kami bisa melaksanakan Cesar." Tanya Desta cemas.


"Sebelum usia kandungan Aqeela 36 minggu. Karena jika semakin mendekati bulan. Saya khawatir bekas jahitannya juga ikut terbuka. Walaupun ini sudah lama. Tapi bagian bahu katanya pernah pendarahan kan beberapa bulan lalu." Kata dokter Suzan.


"Dok, kalo kami memilih rumah sakit ini. Apa dokyer Suzan bersedia menjadi dokter istri saya?" Tanya Desta.


"Tentu saja. Saya tidak akan menolaknya. Aqeela sudah menjadi bagian keluarga besar kita. Bulan depan saya tunggu di ruang praktek saya." Kata dokter Suzan dengan ramah.


"Gimana Dik? Udah lega sekarang?" Tanya Dokter Suzan kepada dokter Dika masih dengan senyum cerianya.


Padahal masih ada Desta dan Aqeela di sana.


"Udah, makasii yaa.. kamu the best." Puji dokter Dika, tapi hanya dibalas cibiran oleh dokter Suzan.


"Haa haa ha.. dok.. dokter Suzan udah menikah belum?" Tanya Aqeela iseng.


"Dia mah jomblo akut." Jawab dokter Dika.


"Lha emang situ bukannya jomblo ngenes ya.." Balas dokter Suzan.


"Kalian berdua sesama jomblo dilarang saling menghina." Ucap Desta


"Mendingan juga kalian menikah saja. Mengurangi jumlah jomblo akut dan nhenes di rumah sakit ini. Haa ha ha..." Goda Aqeela.


"What.. sama jomblo kayak dia... enggak mungkinlah." Bantah dokter Suzan

__ADS_1


"Apalagi sama dia.. Ogah..." dokter Dika gak mau kalah ikut membalas.


"Semoga mereka berjodoh Ya Alloh... Aamiin..." Do'a Aqeela.


"Aamiiin..." Desta ikut mengamini istrinya.


"Kalian tuh yaa.. inget status kalian pasien." Ancam dokter Dika.


"Udah gak usah ngancem, dok. Masih ingat kan saya sudah lama ndak ketemu musuh." Bisik Desta.


"Anjriit tuuh bocah." Maki dokter Dika.


"Wooii... aku bukan bocah dok. Aku udah bisa bikin anak. Dokter Dika tuh yang bocah, setua gini masih jomblo ngenes." Balas Desta.


"Dokter Suzan, kita mending jauh-jauh deh dari mereka. Kita biarkan mereka berdua menyelesaikan urusannya. Yuuuk dok." Aqeela berpura-pura menggandeng tangan dokter Suzan keluar ruangan dokter Dika. Sambil tertawa tertahan.


"Beb... tunggu aku. Dokter Dika siih." Gerutu Desta.


"Kok aku yang disalahin."


"Terus?? dokter Suzan gitu."


"Bukan.. salahin diri kamu sendiri."


"Auh aahh.. dokter Dika gak asyik..." Oceh Desta sambil keluar ruangan dokter Dika mencari sosok istrinya.


🤣🤣🤣🤣🤣🤣


💗💗💗💗💗💗💗💗💗


"Kok aku jadi ketularan si Desta sinting itu yaa?" Maki dokter Dika pada dirinya sendiri setelah Desta keluar dari ruangannya.


drrtt... sebuah pesan wasapp masuk ke ponsel dokter Dika.


"Dok, jangan lupa yaa pedekate sama dokter Suzan. Kami tunggu undangannya. Jangan terlalu lama jones nya. Ntar keburu jadi perjaka tua loo.."


"Desta... Aqeelaaa...." Teriak dokter Dika membuat suster yang ada di depan ruangannya sampai melongok keheranan.


"Kenapa,dok?"


"Lhoo kosong? gak ada Mbak Aqeela sama Mas Desta?"


"Kok dokter manggil mereka berdua ya?"


( aku tak ketawa yaa.. gengs..)


Sumpah mereka berdua itu yaa... Udah posisi hamil masih iseng aja kerjaannya.


💗💗💗💗💗💗💗💗💗


See You next part


Like


komen


vote dan


Rate yaaa

__ADS_1


Gengs...


__ADS_2