
Beberapa menit kemudian, Pak Handoko sampai di lokasi.
Tanpa salam dan apapun ia langsung menghampiri Wisnu dan kawan-kawannya.
Plak..
Plak..
Plak...
Plak..
Plak..
Tamparan keras mengenai pipi masing-masing anak didiknya.
Pak Jamal, Ustadz Zainal, Pak Soleh dan Doni sangat terkejut dengan suguhan menyeramkan ala Pak Handoko.
Pak Handoko yang selama ini mereka kenal kalem, bijaksana dan penuh kharismatik mampu melakukan penamparan kepada Wisnu dan kawan-kawannya.
"Kalian sungguh ya...benar-benar membuat saya malu di depan Aqeela dan Desta." Pak Handoko menggeretak rahangnya. Telapak tangannya mengepal.
Plak..
Plak..
Plak..
Plak..
Plak...
Satu tamparan kembali...
"Kalian tahu, saya meyakinkan kepada Desta kalau Aqeela akan baik-baik saja. Ternyata begini, balasan kalian..." Pak Handoko hampir melayangkan bogemnya. Tapi Ustadz Zainal menghalanginya.
"Pak, tahan... " Ucap Ustadz Zainal, menahan bogem Pak Handoko.
"Biar, Ustadz... Biar saya hajar mereka..." Kata Pak Handoko geram.
"Sabar.. Pak.." Ucap Ustadz Zainal menenangkan Pak Handoko.
"Nanti kalo mereka terluka, Bapak yang akan kena getahnya..." Lerai Ustadz Zainal. Pak Handoko mengikuti saran Ustadz Zainal. Menahan amarahnya.
"Asal kalian tahu, sebulan yang lalu Desta memohon kepada saya. Agar Aqeela dilepas dari ekskul karate. Saya menolaknya. Bahkan saya menjamin keselamatan Aqeela. Tapi, kini apa.. ? Kalian menghancurkan saya.." Bogem Pak Handoko mendarat ke kursi yang ada di dekatnya. Melampiaskan kemarahannya.
Wisnu yang memdengar ucapan Pak Handoko nampak terkejut. Matanya memandang Pak Handoko, dahinya mengkerut.
Bahkan Aqeela sudah ada firasat, jauh sebelum Wisnu merencanakan niat jahatnya. Wisnu kembali terduduk wajahnya semakin pucat. Tubuhnya seakan tak bertenaga. Ia kacau. Dan merasa bersalah kepada Aqeela.
Wisnu ingin rasanya membela diri, mengatakan betapa cintanya dia kepada Aqeel. Tapi diurungkannya. Karena bagaimanapun ia tetap berada di pihak yang bersalah.
"Saya akan seret mereka ke kantor Polisi sekarang. Terserah Desta dan Aqeela, akan diapakan kalian." Pak Handoko nampak frustasi.
Pak Handoko segera menghubugi nomer kantor polisi terdekat. Dan dalam hitungan menit mobil Polisi sudah sampai di lokasi.
Pak Jamal dan Ustadz Zainal hanya bisa pasrah mendengar keputusan Pak Handoko. Karena mereka juga tahu Wisnu adalah keponakan Pak Kepsek itu.
Wisnu dan gengnya pun digiring ke kantor Polisi. Pak Jamal, Pak Handoko dan Ustadz Zainalpun mengikuti dari belakang.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Sebelumnya di luar aula
Setelah Semua pamit keluar, kecuali Doni yang tetap tinggal di dalam. Wawan segera mencari keberadaan Nabila.
Di lantai tiga, gedung utama. Wawan menemukan tempat aman mereka.
__ADS_1
Menatap Nabila dengan cemas. Kondisinya tidak baik. Bahkan Daffa yang ada disebelahnya tak bisa menenangkan. Apalagi saat melihat Aqeela keluar aula digendong Desta dengan bersimbah darah. Membuat Nabila semakin panik.
Begitu Nabila melihat Wawan, segera ia memeluknya. Tangispun ia tumpahkan dengan segenap jiwa.
"Yuuk kita turun, dibawah sudah aman." Ajak Wawan. Nabila hanya mengangguk.
"Fa, kamu bisa turun sendiri?" Tanya Wawan yang melihat teman kekasihnya itu kesulitan berdiri karena kakinya harus bertumpu pada kruk.
"Bisa kok Kak." Jawab Daffa sambil menciba berdiri perlahan.
Karena tidak tega Wawan membantunya tanpa diminta.
Daffa berjalan pelan-pelan menuju tangga dan menuruninya. Wawan sesekali membantunya.
"Maaf ya, Kak. merepotkan. Aku belum terbiasa menggunakan kruk." Ucap Daffa sedikit malu. Karena jalannya begitu lambat.
"Sudah gak pa_pa." Jawab Wawan.
"Kak, Aqeela bagaimana?" Tanya Nabila.
"Belum tahu.Nanti kita susul mereka." Balas Wawan lirih, sambil menggenggam jemari Nabila menenangkan perasaaannya yang kalut.
Setelah Nabila dan Daffa bergabung. Sebuah mobil Polisi datang. Langsung masuk aula menggiring kawanan Wisnu.
"Don, mereka di bawa kemana?" Tanya Vian setelah Doni keluar dari aula.
"Polsek..." Jawab Doni singkat.
Seluruh yang ada diluar aula menghembuskan napas lega.
"Kalian bole pulang sekarang. Nanti jika diperlukan kalian akan kami hubungi. Oh ya untuk menemui korban. Saya harus kemana?" Tanya salah satu Polisi sebelum mereka kembali ke markasnya.
"Bapak hubungi saya saja. Kebetulan korbannya saudara saya." Ucap Doni sambil menyebutkan beberapa digit angka.
Polisi bername tag Ahmad itupun menyimpan nomer Doni.
Setelah mobil Polisi, Pak Handoko, Pak Jamal dan Ustadz Zainal berangkat.
Vian, Doni, Wawan, Nabila sepakat menengok Aqeela. Sedangkan Daffa ia memilih pulang. karena kondisi kakinya belum bisa di ajak terlalu banyak beraktifitas.
Doni dan yang lain hanya bisa memaklumi.
"Daffa, makasii ya..." Ucap Doni sebelum mereka berpisah arah.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Di Rumah Sakit...
"Keluarga Mbak Aqeela.." Panggil Mbak Eva si bagian administrasi IGD.
"Iya Mbak... " Desta dan Ronald menghampiri Mbak Eva barengan.
"Dicari dokter, Mas.." Kata Mbak Eva sambil menunjuk ke seorang dokter.
Desta dan Ronald segera menemui dokter yang dimaksud.
"Mas, kondisi luka Mbak Aqeela sangat panjang. Ada bagian tepat di bawah bahu agak dalam. Tapi semakin ke bawah semakin dangkal. Butuh waktu agak lama untuk pulih. Bahkan nanti akan ada beberapa bekas luka yang tidak bisa hilang. Beruntung lukanya tidak mengenai organ vital ataupun tulang." Dokter bername tag Dika itu berhenti sejenak.
Desta menyimak penjelasan dokter dengan baik.
"Untuk beberapa hari ke depan, sebaiknya Mbak Aqeela di rawat di sini. Untuk saat ini kondisi Mbak Aqeela sudah stabil. Hanya butuh istirahat saja. Sepertinya ia kecapekan dan dehidrasi. Apalagi kehilangan darah yang sangat banyak. Sampai pucat seperti tadi." Jelas dokter Dika.
Desta hanya mampu pasrah dengan kondisi Aqeela. Namun ia bersyukur karena Aqeela dalam keadaan stabil.
Ronald memegang bahu Desta. Memberi kekuatan kepadanya.
"Setelah ini, Mbak Aqeela akan kami pindahkan." Lanjut dokter Dika.
__ADS_1
"Dok, saya minta kamar yang VIP yaa.. " Pinta Desta.
"Bisa... langsung menghubungi bagian administrasi." Kata Dokter Dika.
Dokter Dika tidak berani menanyakan peristiwa apa yanh telah terjadi. Karena ia juga melihat kondisi kedua pemuda di depannya ini juga panik dan terluka.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Aqeela sudah pindah ke kamar perawatan.
Ruang Intan 204.
Desta terus berada di samping Aqeela yang masih memejamkan mata. Efek obat yang diberikan dokter.
Desta menggenggam tangan Aqeela untuk menghantarkan kehangatan di tubuh Aqeela.
Pakaian yang dikenakannya kini masih kostum operasi milik rumah sakit. Mengingat Aqeela belum ada baju ganti.
Dokter hanya berharap jika memang mengganti pakaian pakai yang tidak mengganggu lukanya.
Ronald terus berada di samping sahabatnya itu. Memberikan semangat untuk terus menemani Aqeela.
Drt..drt..
Ponsel Desta berbunyi, id Doni muncul.
"Iya Don?" Sapa Desta
"Dimana?" Tanya Doni
"Rumkit MM, ruang intan 204." Jawab Desta
"Okay.." Doni menutup sambungan line telponnya.
"Rumkit MM ruang intan 204." Ulang Doni di depan teman-temannya.
"Let's go.."
"Cap cus..."
"Berangkat..."
Ucap Wawan, Doni dan Nabila bareng. Sedangkan Vian ia mengekor mobil Doni dari belakang.
Karena jarak sekolah dan rumah sakit tidak seberapa jauh. Waktu tempuh juga tak lama. Kemacetannya juga masih wajar.
Sepuluh menit, sampai...
Rombongan Doni langsung menuju ruang perawatan Aqeela.
"Assalamu'alaikum....." Salam dari luar.
"Wa'alaikum salam..." Jawab Desta dan Ronald.
Doni muncul begitu pintu terbuka. Menyusul Nabila, Wawan, Vian dan teman-teman yang lain.
"Kak, Aqeela bagaimana?" Seru Nabila begitu melihat Aqeela terpejam dengan infus di tangan kanannya dan tranfusi darah di kirinya.
Belum sempat Desta menjawab...
Plak...
Sebuah tamparan keras mengenai di wajahnya
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Sapa tuh yaa..???
__ADS_1
Next part..