
"Apa kamu bilang?" Wajah Desta seketika merah, menahan malu.
"Nurut kamu? Udah kamu temuin dulu Pak Seno. Kasihan dari tadi nungguin kita selesai beradegan kissing." Aqeela mengeluarkan paksa suaminya. Karena kalo tidak begitu pasti masih tetap meminta penjelasan darinya.
Desta kembali ke kursinya dengan perasaan tidak tenang. Wajahnya bingung. Memikirkan ucapan Aqeela. Kalau Pak Seno sudah menunggu mereka menyelesaikan adegan kissing.
Klik...
Pintu terbuka
Pak Seno masuk, dengan wajah datar. Seakan tidak terjadi apa-apa.
Yaiyalah kalau Pak Seno masuk dengan senyum atau kalimat yang aneh. Bisa-bisa Desta akan mencak-mencak. Atau Bahkan malu karena adegan panasnya terekspos bawahannya.
Sehingga Pak Seno, memilih diam. Seakan tidak pernah tahu adegan percintaan remaja tadi.
"Maaf Mas.., ada berkas yang harus Mas Desta lihat dan tanda tangani." Kata Pak Seno sopan. Sambil menyerahkan sebuah map tebal kepada Desta.
"Makasi yaa... Pak. Oh ya...kalo Pak Seno mau makan siang atau pulang lebih awal, saya persilahkan. Toh, setelah ini kita gak ada kegiatan apapun." Kata Desta santun.
Meskipun Pak Seno bawahannya. Tapi usia beliau lebih tua darinya. Sehingga wajib baginya berkata lebih santun.
Desta juga sangat menyayangi Pak Seno. Karena sejak kecil Desta selalu melihat Pak Seno dan Daddynya yang begitu giat dalam menjalankan bisnis. Tak heran, jika Desta juga begitu mengagumi Pak Seno.
__ADS_1
"Baik Mas... Kalo begitu saya pamit pulang saja. Kangen sama anak istri saya." Pamit Pak Seno. Yang hanya dijawab senyuman dan anggukan oleh Desta.
"Masa siih Pak Seno, liat adegan aku sama Aqeela tadi? Tapi pas masuk kok Pak Seno biasa-biasa aja yaa?" Gumam Desta kepo.
( Dasar dodol, agak selow juga nee otak bocah. Yaa pantes Pak Seno gak berani ngomong. Pengen kamu omel-omelin gak jelas apa? )
"Gak usah dipikirin... Ya sudahlah kalo Pak Seno mau liat juga gak pa_pa..." Akhirnya nyerah juga tuuh dodol ( haa ha haaa..)
"Hallo.... Ronald, Wawan, Vian.. nanti malam ke rumah ya.." Ucap Desta di sebuah sambungan line telpon. Yang langsung menelpom secara grup ke genk-nya.
"Siap.."
"Asiyaaap..."
Jawab ketiganya tanpa membantah.
Baik Ronald, Wawan maupun Vian sudah paham jika Desta udah warning ke rumah pasti ada yang gak beres.
Desta kembali membuka berkas-berkasnya.
Sesekali ia membuka pintu penghubung antara ruangannya dan ruangan yang ditempat Aqeela sekarang.
Desta mendapati Aqeelanya sedang tertidur lelap. Desta kembali menutup pintunya. Dan fokus ke berkas.
__ADS_1
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Desta sudah selesai memeriksa dokumen dari Pak Seno.
Desta masuk ke ruangan dimana Aqeela sedang tidur dengan pulasnya. Wajahnya tetap tenang walaupun Desta tahu istrinya itu sedang memikul beban berat.
Aqeela harus mengurusnya. Menjaga perasaan Mommy yang begitu sensi. Belum lagi dengan orang tuanya sendiri.
Aqeela harus tetap belajar. Sebagai pelajar. Belum lagi sebagi asisten Ustadzah Dewi dan Ustadz Zainal. Di rumah masih harus ketemu asik-adik yang belajar mengaji dan karate. Membimbing ibu-ibu komplek yang kadang cerewet.
Terkadang masih harus menjalani panggilan pengajian. Bahkan akhir-akhir ini mereka sering kebanjiran job sholawatan bareng grup "Genk-es" nama yang diberikan Aqeela.
Desta melepas jasnya, merebahkan diri disamping Aqeela.
Merentangkan tangan kanannya, mengangkat kepala Aqeela meletakkannya dibahunya. Membiarkan Aqeela menjadikan bahunya sebagai bantal.
Desta memandang langit-langit ruangannya. Tak berselang lama matanya mulai terpejam.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
**To be continue...
Mampir ke Princess Of Mojopahit ya...
__ADS_1
Ramaikan juga yang di sana**