
Aqeela mendengar deru sebuah kendaraan berhenti di depan rumahnya. Namun, ia yakin itu bukan mobil Desta.
Dari balik jendela, ia mengintip tamu yang tak diundangnya.
"Kak Vian? Ngapain dia ke sini? Gak ada Kak Desta pula?" gumam Aqeela dalam hati.
Perasaannya sudah resah. Melihat Vian semakin mendekat ke pintu.
"Assalamualaikum," salam Vian sambil mengetuk pintu
"Waalaikumsalam. Kak Vian, maaf Kak Desta gak ada di rumah," sahut Aqeela dari balik jendela.
Ia sengaja tidak membuka pintu ada perasaan gamang dan gelisah. Ia tidak ingin ada salah paham atau fitnah jika membuka pintu sebab di rumah tidak ada siapa-siapa. Hanya dirinya seorang.
"Iya, aku tau," sahut Vian tanpa memaksa Aqeela membuka pintu.
"Aku ke sini mau jemput kamu!" seru Vian.
"Barusan Wawan, wasap aku. Katanya Si Pongky bawa banyak pasukan," lanjut Vian masih dengan nada datar, tetapi tercetak kecemasan di wajahnya.
"Serius, kak?" teriak Aqeela. Berlari ke meja meraih ponselnya.
Benar saja. Wawan juga mengirimnya pesan via aplikasi hijau tersebut.
"Kak, kita ke sana sekarang!" titah Aqeela membuka pintu begitu saja.
__ADS_1
"Terus kamu mau berangkat dengan pakaian kayak gini?" Tatap Vian serius memperhatikan kostum Aqeela yang memakai gamis warna coksu dipadu kerudung warna senada motif kotak-kotak.
"Udah gak usah banyak tanya. Ayo jalan! Ato aku aja yang nyetir?" Aqeela menengadahkan tangannya meminta kunci mobil Vian.
"Enggak. Kamu duduk aja. atur strategi," bantah Vian.
"Ya udah kalo gitu cepetan! Awas kalo terjadi apa-apa sama suami aku!" seru Aqeela panik.
Vian tertawa kencang meninggalkan Aqeela di belakang.
"Kak, Kak Vian!" seru Aqeela yang masih sibuk mengunci pintu.
"Dasar pengantin baru, bucinnya setengah hidup," ledek Vian begitu Aqeela masuk ke dalam mobilnya.
Aqeela hanya tertawa puas mendengarnya.
***
Di belakang Aqeela ada Topa dan Ari, anak buah Vian.
Vian dan beberapa anak buahnya yang lain berupaya membantu Desta N the Genk.
"Kalian perhatikan kemana pandangan Pongki tertuju?" seru Aqeela pada Topa.
Di tempat Pongky, Desta dan Vian berdiri.
__ADS_1
"Wah, ternyata punya pasukan juga?" ledek Pongki saat Vian datang.
"Jangan banyak bacot. Udah tua aja kebanyakan gaya. Harusnya kamu tuh, insap dan sadar. Gak malah bikin onar kayak gini," balas Desta
"Tua-tua gini banyak yang nyari," balas Pongky.
"Iya dicariin malaikat maut," sahut Vian tak mau kalah.
Dada Pongky membara seketika. Wajahnya merona merah, tangannya mengepal kuat bersiap menonjok muka Desta.
Sedangkan Vian beralih ke arah lain, dimana Wawan dan Ronald sedang terdesak anak buah Pongky.
Dengan sekali kode, beberapa orang yang dipasang Vian kembali membantu pergerakan Wawan dan Ronald.
Dihadapan Vian pun sudah berdiri salah satu anak buah Pongki. ia meyakini lelaki dihadapannya ini adalah orang kepercayaan Pongky, sehingga ia tidak menolak menghabisi lawannya.
Sedangkan di sisi lain Desta dan Pongki kembali saling baku hantam demi pengakuan paling kuat. Mempertahankan gengsi karena dendam masa lalu yang harusnya bisa mereka redakan dengan duduk damai.
Namun, kembali kepada gengsi. Karena rasa itu membutakan rasa manusiawi.
"Hai, Bang!" sapa seorang wanita.
"Aqeela!" seru Desta menghentikan aksinya dihadapannya berdiri seorang gadis berpakaian mirip istrinya.
Ia hapal karena pakaian tersebut pemberiannya .
__ADS_1
***