
Beberapa hari ke depan siawa kelas dua belas dihadapkan pada Ujian Praktek.
**Dipapan pengumuman terpasang pengumuman
Jadwal Ujian Praktek**
Hari pertama Ujian Praktek agama.
Hari Kedua Ujian Praktek Bahasa Indonesia
Hari ketiga Ujian Praktek Bahasa Inggris
Hari keempat Ujian Praktek Prakarya
Hari Kelima Ujian Praktek Olah raga
Hari keenam Ujian Praktek Kimia
Hari ketujuh Ujian Praktek Fisika
Hari kedelapan Ujian praktek biologi
Hari ke sembilan Ujian Praktek Matematika
Hari Kesepuluh Ujian Praktek PKN
Hari pertama Aqeela bisa melalui dengan mudah bahkan guru pengujinya pada senyum-senyum melihat siswi terbaiknya.
"Qee..kamu gak perlu ujian deh. Kami udah bisa kasi kamu nilai." Kata salah seorang gurunya.
"Wah, nanti saya dikira curang, Bu." Kata Aqeela. Sambil tetap melakukan yang diminta gurunya.
Melakukan tata cara merawat jenazah.
Hasilnya tidak diragukan. T.O.P.B.G.T Sukses berat.
Hari kedua Ujian Praktek Bahasa Indonesia,kali ini berkelompok. Melakukan kegiatan Teaterikal.
Grup Aqeela lolos.
Hari ketiga Ujian Praktek Bahasa Inggris. Individual. Melalui speaking dan listening. Lumayan, menutur Aqeela yang Bahasa Inggrisnya gak seberapa lancar, hee hee.
Hari keempat Prakarya. Ujian kali ini dilakukan berkelompok lagi. Kelompok Aqeela memilih menyanyikan satu lagu wajib dan satu lagu bebas. Beruntung kelompok Aqeela mempunyai kemampuan memainkan banyak alat musik. Sehingga Aqeela cukup menjadi vokalis handal di grupnya. Masih Say Yeslah.
Hari kelima Ujian Praktek Olah raga.
Banyak yang mereka lakukan. Dengan berkelompok mereka melakukan senam karya masing-masing kelompok.
Secara individu, mereka melakukan lari, roll depan, roll belakang dan berenang.
Setelah selesai ujian praktek Aqeela segera masuk ke kamar mandi bermaksud mengganti kaos olah raganya dengan seragam putih abu-abunya.
Aqeela sengaja menunggu area kamar mandi sepi, barulah ia mengajak Nabila masuk. Karena ia harus banyak meminta bantuan sahabatnya itu saat mengganti pakaian.
"Bil.., punggung aku sakit banget." Kata Aqeela sambil sedikit nyengir menahan sakit.
"Sakit, gimana?" Tanya Nabila panik, karena belum pernah Aqeela mengeluh.
"Bantu aku melepas kaosnya." Pinta Aqeela.
Nabila dengan cekatan membantu Aqeela melepas kerudung dan kaos Aqeela perlahan.
"Yang atas Bil, sakit banget..." Ucap Aqeela sambil menunjuk area di bawah bahunya.
"Qee.. ini lukanya..."
"Mbak Aqeela.. Mbak Nabila..." Sebuah suara mengejutkan keduanya.
" Kok ada kamu? Padahal udah kita kunci kamar mandinya." Ucap Nabila panik, melihat Hasna berdiri di belakang mereka
"Aku dari toilet." Jawab Hasna terlihat tenang.
"Lhoo Mbak Aqeela kenapa?" Tanya Hasna ikutan panik melihat Aqeela kesakitan.
"Qeee...lukanya berair.." Bisik Nabila.
__ADS_1
"Telpon Doni sama Kak Desta, Bil.." Titah Aqeela.
"Hasna, tolong bantu aku. Pegangin Aqeela. Jangan sampa jatuh." Kata Nabila ketus, khawatir terjadi sesuatu dengan sahabatnya.
"Don, cepet ke kamar mandi cewek. Luka Aqeela, Don..."
"Kalian di kamar mandi mana?" Tanya Doni ikut panik.
"Kamar mandi deket kelas." Doni segera menutup telponnya melesat ke kamar mandi.
"Ta.. cepet ke sekolah sekarang. Aqeela sakit." Suara panik Doni sambil menelpon Desta.
"Has, tolong seragamku." Pinta Aqeela.
"Tapi lukanya Mbak Aqeela, gimana?" Kata Hasna Khawatir.
"Kamu mau aku di bawa keluar telanjang kayak gini." Ucap Aqeela memperlihatkan tubuhnya yang hanya mengenakan backless plunge bra.
Hasna hanya tersenyum kecut melihat kondisi Aqeela. Ia baru sadar kakak kelasnya itu, cewek antik berjilbab. Akhirnya iapun menuruti permintaan Aqeela membantunya mengenakan kemeja putihnya tanpa mengganti trainingnya.
Sebenarnya dalam hati ia ingin bertanya banyak hal tentang luka dan bra yang dikenakan Aqeela, namun semua pertanyaan itu ia simpan karena keadaan yang tidak memungkinkan.
"Has, tolong buka in pintu. Siapa tahu Doni atau Kak Desta sudah di depan." Pinta Nabila.
Tanpa bersuara, Hasna segera membuka pintu kamar mandi yang di kunci dari dalam oleh kedua seniornya tadi.
"Mana Aqeela?" Suara panik Doni begitu pintu dibuka.
"Tuuh..." Jawab Hasna sambil menunjuk Aqeela dan Nabila.
"Heran deh, katanya bukan pacar tapi paniknya gak ketulungan." Oceh Hasna lirih berusaha agar tidak terdengar ketiganya.
"Qee... aku gendong ya..." Pinta Doni.
"Tunggu my Bae aja Don.." Ucap Aqeela sambil menarik napas panjang menahan sakitnya.
"Telpon dokter Dika, Don..." Pinta Aqeela.
"Okay..." Doni pasrah mengikuti perintah Aqeela.
"Iya... "
"Ini Doni, dok.."
"Kenapa Don?"
"Aqeela, dok. ia kesakitan. Lukanya berair."
"Segera bawa ke sini. Saya siapkan ruangan untuknya."
"Baik, dok."
Bersamaan dengan Doni menutup telpon ke dokter Dika, Desta datang dengan kepanikan yang luar biasa.
"Beb... Kamu dimana?" Teriak Desta
"Di situ lo Mas..." Hasna menunjuk Aqeela, Nabila dan Doni yang sedang panik juga.
"Beb.. " Desta langsung menggendong Aqeela. Diikuti Doni, Nabila dan Hasna.
"Dokter Dika udah nyiapin ruangan buat Aqeela segeralah kalian ke sana." Kata Doni begitu Desta mendudukkan Aqeela di kursi penumpang di samping kemudinya .
"Makasi Ya Don, Bil dan kamu anak kecil..." Kata Desta masih dalam mode panik.
Setelah masuk ke jok kemudi, Desta langsung menuju Rumkit MM tempat dimana Aqeela mendapat perawatan pertama dan sampai sekarang masih terjalin hubungan baik.
💗💗💗💗💗💗💗💗
"Hasna...makasi ya..." Kata Nabila.
"Sama-sama." Kata Hasna.
"Oya .. untuk luka Aqeela yang kamu lihat tadi, jangan sampai orang lain tahu ya?" Pinta Nabila dengan cemas.
"Lhooo? Memangnya itu luka apa?" Tanya Hasna.
__ADS_1
"Aku rasa kamu tidak perlu tahu, cukup kamu save luka yang kamu lihat tadi." Pinta Doni dengan galak.
"Bagaimana aku bisa keep, padahal aku tidak tahu apapun?" Kata Hasna ikut galak.
"Don, cukup... Kamu ikut Has.. " Teriak Nabila menyeret Doni ke halaman belakang sekolah.
Hasna melihat dua sahabat itu dengan iri. Bahkan dengan Aqeela. Ketiganya hmm bukan berempat dengan Daffa walaupun Dia jarang nimbrung.
Hasna sangat iri melihat kekompakan dan kehangatan keempatnya yang seperti keluarga.
Nabila duduk di bangku kayu diikuti Doni dan Hasna.
"Ngapain ke sini." Tanya Doni.
"Jelasin ke anak kecil ini." Kata Nabila sambil menunjuk ke arah Hasna.
"Hei, aku bukan anak kecil Mbak..." Seru Hasna dengan nada tinggi.
"Diem gak, anak kecil." Perintah Nabila dan Doni bersamaan. Membuat Hasna terdiam seketika.
"Kamu bisa jaga rahasia gak?" Bisik Doni dengan nada mengancam dengan tujuan menguji mentak adik kelasnya itu.
"Bisa..." Kata Hasna tegas.
"Bagus.. Kalau begitu kita minta kamu rahasiakan, luka yang dimiliki Aqeela. Kepada siapapun. Anggap kamu tidak pernah tahu." Kata Doni lebih tegas.
"Lha.. aku aja tidak tahu itu luka apaaan? Bagaimana aku bisa keep, Mas Doni dodol... Dodol dipelihara, ya gini akibatnya." Pekik Hasna gemes.
"Has... bentar.. Kak Wawan telpon aku.." Nabila yang hendak memberi penjelasan terpaksa berhenti karena Ayang Bebnya menelpon.
"Assalamu'alaikum, Kak..."
"Wa'alaikum salam... aku di depan, sayang." Balas suara di seberang.
"Okay, Kak.. aku ke sana." Balas Nabila.
"Don, aku udah dijemput." Pamit Nabila.
"Okay, kita bicarakan lagi nanti. Bil, ketemu di ruangan Aqeela." Ajak Doni.
"Kamu ikut kita, sekarang." Ucap Doni dengan nada mengancam membuat Hasna ngeri.
"Don.." Sapa Wawan ketika mereka bertiga sampai di depan sekolah.
"Wan, segera ke Rumkit MM. Aqeela tadi di bawa Desta ke sana?" Pinta Doni.
"Aqeela kenapa lagi?" Seru Wawan panik.
"Tanya Nabila noo.. bini kamu sama nee anak kecil yang nemenin dia." Jawab Doni.
"Haa haa.. jadi anak kecil ini sandera kalian gitu?" Oceh Wawan.
"Wah...wah.. tidak berperikehewanan kalian tuh ya..." Wawan masih melanjutkan ocehannya.
"Resek loo..." Sahut Doni
"Cabut yuuk Say.., anak kecil ini mau kamu ajak Don. Awas Mita ngamuk loo yooo..." Kata Wawan dengan logat khas suroboyoan.
"Gak penting looo..." Teriak Doni diikuti suara motor Wawan yang melaju.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Aish.. next yaa..
Like
Komen
Vote
And
Rate yaa..
plisss..
__ADS_1