
Seminggu berlalu
Dihadapan Aqeela ada Hasna. Di sebelahnya ada Doni. Pak Jamal dan Bu Siti duduk di sofa terdekat dari mereka. Nabila dan Daffa duduk di depan Pak Jamal dan Bu Siti.
Mereka bersiap menjadi saksi dari hasil sangsi Aqeela kepada Hasna.
Hasna Fathiyah
Seminggu sebelumnya
Hasna membaringkan tubuhnya ke ranjang. Melepas penatnya seharian di sekolah. Setelah terlebih dahulu mencuci tangan kaki dan mengganti seragamnya.
Ritual rutin yang selalu ia lakukan, karena Mbak Lela akan mengomelinya jika, Hasna pulang sekolah tidak segera menukar seragamnya.
Meskipun Mbak Lela hanya seorang asissten rumah tangganya, namun dia bagai orang tua Hasna. Mama, Papa dan kedua kakak lelakinya sibuk dengan dunia mereka.
Sehingga tumbuhlah seorang Hasna menjadi perempuan muda yang sangat egois dan keras kepala.
Hasna mencoba memejamkan mata. Tapi di telinganya terngiang kembali kalimat Aqeela. Kakak kelas yang dinilainya songong itu.
"Kamu gak bisa baca Al-qur'an tapi dengan seenak udelmu menyakiti Bu Siti."
"Hasna, kamu tuh apa gak mikir. Sekolah buat nyari ilmu. Kamu dapat darimana kalo bukan dari guru. Dan dalam islam seorang guru itu dimuliakan. Banyak kitab yang membahas tentang itu."
"Okay...kalo kamu masih tidak mau minta maaf dan menyesal. Kamu hafalkan surat Luqman ayat 12-19. Kemudian kamu cari literasi tentang adab kepada guru. Terserah mau pakai rujukan kitab manapun. Waktu kamu satu minggu."
"Jika satu minggu kamu tidak bisa memenuhi semua atau salah satunya maka kamu akan dihukum atas kelakuanmu. Dan ingat jangan libatkan orang tua kamu. Sekali kamu melibatkan mereka, maka kalian yang akan menyesal."
Otak Hasna mencerna kembali setiap kalimat Aqeela.
"Maunya apa siih tuuh cewek. Udah tau aku gak bisa ngaji masih nantang aja." Batin Hasna.
Hasna membalik tubuhnya, dalam posisi telungkup.
Tepat pukul tujuh, Mbak Lela mengetuk pintu kamarnya.
"Non...Non Hasna.. makan dulu Non.." Teriak Mbak Lela sambil menggedor pintu kamar Hasna.
Hasna keluar dalam keadaan awut-awutan.
"Masya Alloh, Non." Seru Mbak Lela kaget.
"Kenapa, Non?" Tanya Mbak Lela kuatir.
"Capek Mbak..." Jawab Lela dengan suara serak karena bangun tidur.
Tanpa disuruh lagi, Haana segera ke ruang makan. Menikmati makan malamnya sendirian.
Selesai, iapun kembali ke kamarnya. Menyalakan laptop setelah tersambung ke wifi, Hasna mengklik google.
Melalui situs pencarian, Hasna mengetik surat luqman ayat 12 - 19.
Membaca artinya saja.
Dan sungguh , telah kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu bersyukur kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. dan barang siapa tidak bersyukur ( kufur ), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji. ( 12 )
Dan ingatlah ketika Luqman betkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku, Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar. (13)
Hasna membaca sampai sini, hanya dua ayat yang ia baca.
__ADS_1
"Ayat ini pasti menceritakan tentang syukur. Bersyukur atas semua nikmat Alloh."
"Terus lanjutannya ini tentang Luqman. Siapa itu Luqman?
Hasna menutup Artikel Surat Luqman tersebut. Kembali ke mesin pencarian, mengetik Adab kepada guru
Beberapa artikel muncul. Ada satu artikel yang membuatnya penasaran. Sebuah artikel berpedoman pada sebuah kitab. Hasna tidak paham apa kitab tersebut dan kesulitan membacanya. Hasna hanya membuka dan membacanya.
Hasna hanya membaca satu poin, Jangan menyakiti hati seorang guru karena ilmu yang dipelajarinya akan tidak berkah.
Hasna terdiam.
"Apa aku menyakiti Bu Siti?" Gumamnya dalam hati.
Hasna mengulang berkali-kali petikan dari kitab tersebut.
Hingga hari ini
Ruang BK
dimana dirinya seolah di sidang karena melakukan kejahatan
Parahnya ia tak punya pembela. Ingin rasanga ia menangis dan kabur saja. Tapi hatinya tidak bisa melakukannya.
"Aku bukan pengecut." Batinnya.
"Bagaimana Hasna, kamu sudah siap." Tanya Aqeela dengan lembut. Auto membuat Hasna tidak menyangka.
"Kok dia bisa selembut ini yaa? Gak ada kalimat bernada marah atau jengkel?" Meleleh dah itu si Hasna.
Hasna menatap Doni yang di sebelah Aqeela, Bu Siti, Pak Jamal, Nabila dan Daffa bergantian.
Aqeela dalam hati ingin sekali tertawa, tapi ditahannya.
Hasna melotot ke arah Aqeela.
"Kalo kamu naksir dia, kami harus jadi dokter dulu dan bersiap jadi yang kedua." Oceh Aqeela.
Membuat Doni dan Hasna reflek menatap tajam ke arah Aqeela. Aqeela tidak peduli. Ia masih menatap Hasna datar.
"Anjiiiir nee cewek... gak ada tendeng aling-aling." Gumam Hasna dalam hati.
"Gimana udah siap atau belum?" Ulang Aqeela.
Hasna masih terdiam. Ia masih terlihat ragu, terhadap kata-kata yang akan ia ucapkan.
Aqeela masih menunggunya dengan sabar.
Hasna menyerahkan sebuah lembaran kertas yang ia masukkan ke dalam map plastik warna biru kepada Aqeela.
Aqeela menerima dan membacanya.
"Mbak, aku bole ngomong sama Bu Siti?" Pintanya dengan suara lirih.
"Boleh.." Jawab Aqeela dengan datar.
Aqeela bermaksud berdiri, tapi Hasna memintanya tetap duduk di sana.
Hasna menghampiri Bu Siti, kemudian bersimpuh di hadapan beliau.
__ADS_1
"Bu Siti, Hasna minta maaf yaa..." Ucapnya membuat semua penghuni ruang BK melongo, kecuali Aqeela.
Dari kertas yang iq baca Hasna menuliskan.
***Saya sudah menghafalkan surat Luqman dan mencari adab tentang guru.
Pada dasarkan di surat Luqman adalah pendidikan yang diajarkan seorang ayah kepada anaknya.
Dan dalam sebuah kitab, saya hanya tertarik satu poin. Larangan untuk menyakiti guru. Karena bisa mengakibatkan ilmu yang tidak manfaat.
Karena itu saya tetap akan meminta maaf kepada Bu Siti***
Aqeela tersenyum haru melihat Hasna yang bersedia minta maaf tanpa harus dirinya memaksa.
"Hasna, Ibu sudah memaafkan kamu. Jangan diulang lagi ya..." Pinta Bu Siti terharu melihat Hasna meminta maaf sambil bersimpuh di hadapannya.
Segera ia angkat tubuh muridnya itu, dan peluknya dengan hangat.
"Belajar yang rajin ya. Kami para guru hanya bisa memberikan ilmu yang kami punya. Tidak ada yang lain." Bisik Bu Siti kepada Hasna.
Hasna kembali ke kursinya di depan Aqeela.
"Mbak, urusan kita selesai ya.." Tanya Hasna dengan wajah memelas.
"Ini hadiah dari saya." Aqeeka mengeluarkan sebuah buku bertitel تلاواتي ( Tilawati )
"Pelajarilah, kalo kesulitan minta bantuan. Terserah kepada siapapun. Seminggu lagi aku tunggu progressnya di sini." Titak Aqeela.
Hasna menarik napas dalam.
"Aku kali ini tidak memaksa, tapi perlu diketahui ini demi kamu sendiri kok." Ucap Aqeela.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Selepas Hasna keluar ruang BK.
"Aqeela, terima kasih ya..." Kata Bu Siti.
"Sama-sama Bu Siti. Aqeela tidak bisa membalas apa-apa. Ini hanya sedikit yang bisa Aqeela dan teman-teman lakukan." Jawab Aqeela membuat Bu Siti tersenyum menatap ketiga teman Aqeela bergantian.
"Qee.. makasi yaa.. sering-sering aja bantu Bapak.." Seru Paka Jamal dengan suara khasnya.
"Yaieleh.. Pak.. apa siih yang enggak kalo buat Bapak." Balas Aqeela.
"Next, kalo ada kasus kayak begini Bapak panggil Aqeela." Ucap Pak Jamal sekenanya.
"Kali gitu mending Aqeela stay terus di runag BK gak usah belajar." Omel Aqeela santuy.
"Heeii sejak kapan kalian seakrab ini?" Tanya Bu Siti keheranan.
"Sejak Aqeela sering keluar masuk ruang BK karena kasus sama Kak Desta pas zaman jahiliyah dulu." Jawab Nabila dengan datar. Membuat Bu Siti menatap Pak Jamal seolah meminta jawaban kebenaran.
Pak Jamal dan Aqeela hanya tersenyum sendiri melihat tatapan selidik Bu Siti.
"Hadeeh... serah kalian daah.. yang penting kasus Hasna selesai. Ibu balik ke ruang guru. Liat kalian di sini berisik." Bu Siti keluar dari ruang BK dengan wajah berbinar ada kebanggaan tersendiri kepada Aqeela.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Tengs yaa semua..
__ADS_1
terus kasi like, komen, vote dan rate ya...
Lop you... 😘😘😘