MENDADAK USTADZAH

MENDADAK USTADZAH
Ruang Rawat Anak-Anak


__ADS_3

Pukul 14.30


Suster Anna dan Suster Septi sudah di dalam kamar Aqeela.


Suster Anna duduk bersila di atas bed Aqeela. Berhadapan dengan Aqeela. Meskipun posisi Aqeela hanya bersandar di bed tanpa bisa duduk tegak. Tapi mereka masih bisa interaksi.


Sedangkan Suster Septi, duduk di sofa menunggu giliran.


Suster Anna sudah mengganti seragamnya dengan celana panjang dan blues berlengan tujuh per delapan warna hijau.


Sedangkan Suster Septi mengenakan celana jeans berkaos pendek.


Tapi bagi Aqeela kostum adalah nomer kesekian, yang penting adalah niat untuk belajarnya.


Aqeela mengawali dengan mengajarkan ucapan bismillah secara baik makhroj maupun lafal. Suster Anna melafalkan bismillah sebisanga.


Aqeela membetulkan beberapa makhroj. Suster Anna mengikutinya. Berkali-kali Aqeela dengan telaten membetulkan makhroj dan lafalnya. Suster Anna kembali mengikuti, dibetulkan. Mengikuti. Dibetulkan. Berulang-ulang.


"Mbak, baca Bismillah aja kok susah sih." Bisik Suster Anna sambil ketawa kecil sedikit kikuk karena merasa ternyata membaca Al-qur'an dengan benar itu tidak mudah.


"Gak susah kok, Sus. Kita pelan-pelan saja. Nanti kalo Suster sudah lancar dan betul pengucapan bismillahnya, selanjutnya akan lebih mudah." Kata Aqeela dengan senyum manisnya.


"Eh, Suster Septi sini juga sekalian." Pinta Aqeela, Suster Septi yang duduk di sofa segera mendekat ke bednya.


"Sini, Sus... " Aqeela menepuk tempat kosong di sebelah Suster Anna.


Suster Septi duduk di sebelah Suster Anna seperti permintaan Aqeela.


"Suster Anna, bisa istirahat saja dulu. Nanti bisa lanjut lagi." Ucap Aqeela. Yang dijawab dengan jempol oleh Suster Anna.


Sama seperti Suster Anna, Aqeela mengawali mengaji Suster Septi dengan pengucapan lafal bismillah.


Suster Septi bahkan lebih susah melafalkannya dari Suster Anna.


"Mbak Aqeela, gimana ini. Saya kok ndak bisa-bisa?" Suster Septi mulai putus asa.


"Suster.., Suster itu udah bagus loo.. saya dulu belajar bismillah sampai 3 minggu." Kata Aqeela memberi semangat kepada Suster Septi.


Suster Septi menatap Aqeela tak percaya.


"Serius kamu, Qee?"


"Serius Sus, malah ada temab aku yang sampai 2 bulan hanya untuk belajar bismillah." Ucap Aqeela dengan tegas meyakinkan Suster Septi.


"Ayoo... kita mulai lagi... kalo capek kita lanjutkan lagi besok." Kata Aqeela santuy.


"Asiyaap..." Seru Suster Septi.


Sementara di luar kamar Aqeela.


Sepasang mata sempat melongok ke dalam kamar rawat Aqeela.


Dokter Dika. Yupzz.. dokter Dika ternyata cukup kepo melihat dua susternya masuk ke ruangan Aqeela tanpa mengenakan seragam.


Begitu melihat aktivitas di dalam kamar Aqeela. Dokter Dika hanya mampu berdecak kagum.


"Hmmm.. ternyata dia bukan pasien biasa." Gumamnya dalam hati, sambil menutup pintu kamar rawat Aqeela dan kembali ke ruangannya bersiap untuk pulang. Karena jam kerjanya sudah selesai.

__ADS_1


💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗


Hari berikutnya...


Desta sudah berangkat ke kantor. Mommy dan Ibu belum datang.


Untunglah Suster Anna shift pagi hari ini.


Begitu mendatangi bed Aqeela memeriksa kondisi dan mengganti perbannya.


"Sus, aku bole gak sih jalan-jalan gitu.." Tanya Aqeela di sela-sela kesibukan Suster Anna mengganti perbannya.


"Bolee saja, tapi pake kursi roda. Karena Mbak Aqeela belum bole banyak gerak." Jawab Suster Anna.


"Beneran, Sus?" Aqeela bersorak saking senangnya.


"Beneran bole.. Nanti saya temani." Balas Suster Anna.


"Yess... Terima kasih Suster Anna.." Ucap Aqeela sambil menggerakkan tanganya ke atas.


"Mbak.. bole saja senang tapi gak usah gerak dulu. Saya kesulitan pasang perbannya, Mbak." Omel Suster Anna yang hanya diberi senyuman kecil oleh Aqeela.


💗💗💗💗💗💗💗💗💗


Setelah Suster Anna selesai membantu mengganti perban Aqeela.


Suster Anna kembali keluar sebentar menyiapkan kursi roda untuk Aqeela.


Dengan bantuan Mas Ghoni, petugas cleaning service. Aqeela dipindahkan ke kursi roda.


"Mbak Aqeela ingin kemana?" Tanya Suster Anna begitu mulai mendorong Aqeela keluar kamarnya.


"Okaylah..." Suster Anna mendorong Aqeela di sepanjang koridor rumah sakit. Melewati banyak ruangan.


Sampai Aqeela mendengar ada sebuah ruangan yang sangat berisik.


"Ruangan apa ini, Sus?" Tanya Aqeela heran.


"Oowwh.. ini ruangan rawat inap pasien kanker, lupus untuk anak-anak, Mbak?" Jawab Suster Anna.


"Haa.. ada ruangan kayak gitu. Kita masuk yuuk Sus." Ajak Aqeela.


"Yakin, Mbak?" Tanya Suster Anna khawatir dengan kondisi Aqeela.


"Yakinlah, Sus..." Ucap Aqeela dengan senyum khasnya.


"Baiklah..." Setelah mendapat izin dari Suster jaga ruangan, Suster Anna kemudian membuka pintu ruangan tersebut.


Mereka masuk, Kesan pertama Aqeela saat memasuki ruangan adalah desain ruangan yang di buat mirip kelas kelompok Bermain. Full alat permaianan. Dan mereka berusaha memainkan berbagai alat permainan dengan sembarangan. Tanpa pengawasan orang dewasa. Meskipun ada du suster disana. Tapi nampak kewalahan melihat anak-anak yang bermain kesana kemari.


"Selamat pagi, adik-adik..." Sapa Aqeela begitu kursi rodanya mulai di dorong masuk.


Anak-anak hanya menoleh sebentar lalu ribut kembali. Suster Anna hanya menarik napas panjang melihat kondisi ruangan tersebut.


"Berantakan banget..." omelnya dalam hati.


"Adik-adik kakak bole ikut main di sini?" Teriak Aqeela asal.

__ADS_1


Anak-anak menoleh, sebagian ada yang tersenyum. Tapi mereka kembali asyik ke maianannya semula.


"Main bola yuuk....Siapa yang suka main bola?" Teriak Aqeela sambil berusaha meraih sebuah bola.


Seorang anak kecil, yang sedari tadi duduk sendirian menyadari Aqeela yang kesulitan meraih bola. Auto berlari membantu Aqeela mengambil bola yang dimaksud Aqeela.


"Terima kasih adik kecil. Nama kamu siapa?" Tanya Aqeela.


"Julian, Kak." Jawab anak kecil itu datar.


"Julian mau main bola sama Kakak Aqeela?" Kata Aqeela dengan lembut sambil mengelus rambut Julian.


Julian menatap Aqeela. Aqeela tersenyum. Sambil memberi isyarata supaya Julian mengulurkan tangannya bersiap menangkap bola.


Julian mengangguk.


Dan segera menuruti permintaan Aqeela. Bermain tangkap bola. Teman-teman Julian yang lain menatap dari tempatnya masing-masing.


Melihat Julian tertawa kegirangan dengan Aqeela. Beberapa mulai tertarik. Dan satu per satu mulai bergabung bermain tangkap bola.


Suster Anna dan dua Suster penjaga ruangan yang melihat sampai keheranan. Mereka mengabadikan momen Aqeela yang bermain dengan pasien anak-anak dengan lepas tanpa beban.


"Udahan yuuk main bolanya. Mau gak kalian Kakak kasi cerita?" Tawar Aqeela kepada adik-adik di ruangan tersebut.


"Kakak bisa cerita?" Celetuk seorang anak.


"Bisa.. coba kalian mendekat deeh ke sini." Ajak Aqeela.


Mereka menurut. Mendekat ke Aqeela duduk di depan Aqeela dengan membawa kursi kecilnya masing-masing.


"Di sini yang agamanya selain islam siapa?" Tanya Aqeela.


"Aku, Kak.."


"Aku juga.. Kak.."


"Aku kak.."


jawab beberapa anak.


"Hmmm.. yang agamanya selain islam dengerin saja yaa...." Pinta Aqeela.


Ada sekitar lima anak mengangguk bersamaan.


"Ada yang tau gak kalo kita punya Nabi yang diberi sakit lamaa sekali sama Allah..." Aqeela membuka ceritanya.


"Enggak Kak.." Kompak mereka.


"Okay deh kalo gitu Kakak akan mulai bercerita..."


Aqeela mulai bercerita :


Namanya Nabi Ayyub... Nabi Ayyub diberi Allah banyak kenikmatan. Kekayaan, istri yang solihah. Anak-anak yang ganteng-gangeng dan cantik-cantik. Semuanya solih solihah.


💗💗💗💗💗💗💗💗💗


Next part...

__ADS_1


Trm kasih yaa udah dukung aku..


love you 😘😘😘


__ADS_2