MENDADAK USTADZAH

MENDADAK USTADZAH
Doni's room


__ADS_3

Memasuki area jalan Dharmawangsa dipertigaan Traffight light pertama X-Pander Desta belok ke kiri. Sekitar 200 meter dari traffight light Desta mengarahkan kemudinya masuk gerbang area rumah sakit karmen.


X-pander Desta memasuki area parkir rumah sakit karmen. Setelah mendapat fiew parkir, penumpang mobil hitam itu turun tanpa di perintah.


Area tersebut termasuk bangunan baru rumah sakit karmen. Karena sebelumnya bangunan di sisi ini belum ada.


Aqeela menenteng keranjang buah untuk Doni. Sedangkan yang lain mengiringi dari belakang.


Karena belum tahu dimana Doni dirawat mereka bertanya ke meja informasi.


Petugas yang sedang jaga, memberi arahan kepada mereka.


"Terima kasih." Ucap Desta


Mereka bergegas ke ruangan yang ditunjuk oleh petugas tersebut.


Mereka berjalan beriringan menuju ruangan Doni melewati lorong-lorong koridor rumah sakit yang tidak sepi.


"Sepertinya itu deh, ruangan Doni." Kata Vian. Melihat ada beberapa petugas Polisi berjaga di depan pintu.


"Iyaa... ayo kita ke sana." Sahut Ronald.


Mereka menuju ruangan yang ditunjuk Vian dan Ronald.


Setelah berbincang sejenak, petugas tersebut mengizinkan masuk, tapi mereka tidak diperkenankan masuk bersamaan. Sehingga merekapun bergantian masuk.


Aqeela dan Desta masuk pertama sedangkan yang lain menunggu diluar.


"Assalamu'alaikum Doni." Ucap Desta pelan bersamaan dengan mereka membuka pintu.


"Wa'alaikum.... salam..." Jawab Doni semakin pelan saking kagetnya melihat kehadiran dua orang yang sangat dibencinya.


Tadinya Doni berharap yang datang adalah orang tua atau salah satu dari keluarganya. Karena sampai detik ini belum ada satu keluargapun yang menjenguknya.


Namun betapa terkejutnya Doni karena yang masuk adalah Desta dan Aqeela. Orang yang di sakitinya dan dibencinya. Bahkan sangat dibencinya.


"Mau apa kalian datang ke sini?" Kata Doni keras, menghindarpun dia tak bisa. Karena infus bertengger di tangan kanan dan kirinya. Belum lagi kakinya yang beberapa hari lalu dibedah untuk mengeluarkan timah panas yang bersarang di kaki kanan dan kirinya.


"Kami ingin menjenguk kamu." Jawab Desta pelan.


"Kamu pasti ingin mempermalukan aku kan... Menghina dan mencela aku. Karena aku sudah kalah telak dari kalian." Sungut Doni penuh kebencian.


"Doni... kami tulus... kami sudah memaafkan kamu." Sahut Aqeela.


Mereka mendekat ke bed Doni.


"Don... kami minta maaf ya. kalau kami sudah menyakiti kamu. Bahkan membuat luka di tubuh kamu." Tiba-tiba saja Desta menjadi sangat bijak.


"Iya... aku juga minta maaf ya Don." Kata Aqeela.


Doni yang mendengar permintaan maaf Desta dan Aqeela menjadi lebih terkejut lagi. Samlai tidak mampu mengucapkan satu katapun.


Doni termenung. Tercengang.


Harusnya kan dirinya yang meminta maaf setelah perlakuannya ke mereka waktu itu. Tapi kok malah mereka yang meminta maaf.


"Don.... " Desta mengulurkan tangannya sebagai tanda persahabatan.

__ADS_1


Doni yang belum siap semakin terkesiap.


"Aku minta maaf ya... Don." Ulang Desta.


"Des... kamu serius?" Tanya Doni tidak percaya.


"Serius..." Jawab Desta.


"Des... " Doni menatap Desta, sambil berusaha membalas uluran tangan Desta.


Melihat Doni kesulitan, Desta langsung tanggap menyahut uluran tangan Doni yang masih lemah.


"Desta... aku... aku.. juga minta... ma.. maaf.. yaa..." Kata Doni terputus-putus. Bahkan sangat susah ia ucapkan. Karena selama ini kata maaf tidak ada dalam kamusnya.


"Aqeela..." Panggil Doni


"Iya.. Don..." Sahut Aqeela


"Maaa... maa...aafff kaan a.. akuuu yaa..." Ucap Doni terputus-putus, lirih dan malu. Seorang Doni harus bertekuk lutut di hadapan seorang cewek.


Namun, saat melihat bagaimana Desta memperlakukan Nabila. Tiba-tiba gengsi itu sirna.


Seorang Desta yang tak jauh beda dengan dirinya. Desta adalah seorang cowok dengan gengsi tingkat dewa. Tak pernah kenal maaf dan ampun. Tapi ternyata bisa begitu lembut seperti saat dihadapannya kali ini.


Tentunya tak mudah bagi Desta menjadi seperti itu. Karena melihat sikap Desta itulah , akhirnya seorang Doni mengucapkan maaf.


"Pasti Don, aku udah maafin kamu kok... Bisa dong sekarang kita berteman?" Kata Aqeela.


Membuat Desta menoleh ke arah Aqeela sesaat.


"Gak hanya sama aku dan Kak Desta loo.. tapi sama Kak Ronald, Kak Wawan, Kak Vian dan yang lainya..." Lanjut Aqeela.


Doni nampak berpikir, "Okay..." Putusya sambil tersenyum.


Setelah Aqeela dan Desta keluar, yang lainnya bergantian masuk.


"Kak... sumpah. Kakak tadi keren loo... " Puji Aqeela. Yang ngerasa dipuji malah senyum-senyum bahagia.


"Emang ngapain nee curut satu di dalam.." Sahut Vian.


"Vi... Desta bukan curut." Protesnya membuat yang di luar ketawa garing. Karena pada takut sama Polisi yang jaga. Kan gak bole berisik.


"Sumpah Kak, Qee gak nyangka. Jujur saja, Qee takut kalo kalian bakal baku hatam seru gitu..." Oceh Aqeela.


"Ternyata malah bilang maaf ke Doni. Sungguh meleleh hatiku Kak." Lanjut Aqeela. Membuat Desta semakin tersenyum bangga.


"What.... nee curut minta maaf. Waduuh gak takut turun level kamu Bro..." Seru Vian.


"Aku malah akan turun level kalo masih bersitegang dengan Doni. padahal kondisinya sangat tidak baik." Ucap Desta.


"Waah... kelamaan deket sama Ustadzah nee si curut sampai bs nurunin level gengsinya." Kata Vian dengan kocak.


\====================================


Setelah semua sudah masuk ke ruangan Doni dengan membawa banyak pengalaman efek ucapan Desta dan Aqeela. Membuat semua yang disitu. Mengcopas ucapkan Aqeela.


"Sumpah... Desta keren"

__ADS_1


Kini mereka berjalan kembali ke area parkir.


Hingga.. Desta merasa kalau Aqeela semakin memegang erat ujung kemejanya sambil bergumam, "Kak... Kak Desta.. Aqeela jalan di belakang Kakak ya..."


Belum sempet Desta menanyakan ada apa, sebuah suara menyapa Aqeela.


"Aah.. terlambat." Pekik lirih Aqeela namun masih bisa di dengar Desta.


"Aqeela... kamu Aqeela kan?" Sapa seorang pemuda yang duduk di atas kursi roda ditemani dua orang yang diperkirakan adalah orang tua Pemuda tersebut.


"I.. i..y.aaa...Hai Rafa..." Balas Aqeela terdengar canggung dan terbata-bata.


"Kamu Aqeela yang waktu itu kan." Perempuan sebaya ibunya melototi Aqeela dengan nada benci.


"Ma... itukan sudah lama sekali..." Jawab Rafa


"Tapi.. kan.." Perempuan masih merasa tak terima.


"Iya.. ma...itu sudah lama. Waktu itu mereka juga masih kecil." Pria yang sebaya Ayah Aqeela berusaha menenangkan istrinya.


"Kok di sini?" Tanya Aqeela dan Rafa bersamaan.


"Ladies first." Pinta Rafa


" Habis jenguk teman. kamu?" Kata Aqeela


"Mau terapi. Sebulan yang lalu aku kecelakaan. Jadi harus terapi lagi." Jawab Rafa.


"Lagi? Maksudnya?" Aqeela penasaran.


"Next deh kalo ketemu aku cerita. Eh, mereka semua ini teman kamu, Qee?" Tanya Rafa kaget.


"Eh.. he.. iya... mereka teman-teman aku." Mendengar jawaban Aqeela, Rafa hanya mampu membulatkan mulutmu membentuk kata WOW. Entah takjub, aneh atau bingung.


"Ayoo Rafa... kita sudah di tunggu dokter Dian." Kata Mama Rafa memutar percakapan mereka.


"Aqeela, ini semua karena ulah kamu. Tau gak." Bisik Mama Rafa kepada Aqeela sebelum meninggalkan Aqeela dan teman-temanmu yang hanya bisa memandang.


Sedangkan Aqeela hanya bisa mencengkeram ujung kemeja Desta kuat dan semakin kuat. Membuat kemeja Desta tertarik kuat ke bawah.


"Qee... kamu lagi gak sedang parno kan? Kemeja aku ketarik nee..." Ucap Desta pelan berharap yang lain tak dengar.


"Oh.. eh..maaf Kak." Seru Aqeela gelagapan salah tingkah.


\=====================================


Siapa siih nee Rafa??? Tanya Desta penasaran.


Apa kalian juga...


Lanjut nee...


Tapi setelah teman-teman like, komen, vote dan kasi rate ya...


tengkyu so mat ya..


lop yu pull 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2