
Teeet...
Bel pulang sekolah sudah berbunyi.
Seluruh penghuni SMA Nusantara dengan sukacita segera berhambur keluar menuju rumah masing-masing.
Tapi tidak ada senyum indah di wajah Aqeela. Senyumnya hilang, berganti panik dan gugup.
"Qee... kamu kenapa?" Tanya Doni cemas.
"Don, aku ke aula olah raga dulu ya..." Pamit Aqeela.
Kali ini ia bertekad tidak mengatakan kepada Doni. Aqeela hanya mengkode, aula olahraga.
Berharap Doni tanggap.
"Hati-hati, Qee..." Kata Doni.
Aqeela hanya mengangguk.
"Don, Aqeela kemana?" Tanya Nabila.
"Kok perasaanku gak enak ya... dari tadi pagi Aqeela udah beda." Kepo si Nabila.
Daffa yang masih di posisinya, ikut memandang Doni.
"Aqeela ndak ngomong jelas. Tapi katanya barusan dia ke aula olahraga. Kalian pulanglah. Seperti akan ada pertempuran. Barbahaya buat kalian. Segera pulanglah." Titah Doni.
"Don, aku tunggu sampai Aqeela pulang." Ucap Nabila.
"Jangan, Bil. Ntar Wawan bisa ngomelin aku. Gak kuat aku..." Doni ikut panik.
"Don, segera susul Aqeela. Aku sama Nabila nnt yang hubungi Kak Desta. Aku akan jaga-jaga di luar. Ponsel stay trs ya... " Daffa ikut panik.
"Kalian serius... " Doni menganga gak percaya.
"Iya kita serius bantuin. Aku sama Nabila sebisa mungkin akan sembunyi." Ucap Daffa meyakinkan Doni.
"Ya sudah aku susul Aqeela sekarang. Kalian hati-hati." Doni langsung melesat.
"Bil..., ikut aku." Ajak Daffa.
Nabila mendorong kursi roda Daffa. Daffa meminta tolong Nabila mengambilkan kruknya. Yang sengaja ia simpan di kelas jika mendadak dibutuhkan.
"Bil, usahakan kamu pasang muka biasa saja. Kita amati dari kejauhan saja." Bisik Daffa saat melintas di koridor.
"Di sini aman deh, Bil.." Daffa mengajak Nabila duduk setelah naik ke lantai 3 gedung di seberang aula.
Napas Daffa nampak ngos-ngosan setelah susah payah berjalan menggunakan kruknya.
Dari atas keduanya lebih leluasa mengamati. Nabila dan Daffa bisa melihat bagaimana kondisi dan situasi aula olahraga.
Tapi keduanya berusaha sebisa mungkin tidak menampakkan keberadaannya.
Nabila, terlihat begitu gugup dan cemas. Wajahnya mengeluarkan keringat dingin. Karena baru kali ini ia melihat aula olahraganya menjadi begitu seram.
"Bil, kamu duduk saja... Tarik napas keluarkan..." Titah Daffa.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Doni
Setelah keluar dari kelas. Doni hanya sempat mengirimkan satu pesan ke grup.
"Aula Olahraga..."
__ADS_1
Dan begitu sampai di aula olah raga. Doni mengendap-endap masuk. Ia menyusup bak maling yang mau mencuri. Doni langsung ke tribun atas dengan jalan jongkok. mengintai kondisi aula.
Masih kosong. Bahkan Aqeela sepertinya belum di sana.
Doni menyandarkan punggungnya ke di dinding masih dengan posisi jongkok.
Satu pesan ia kirimkan kembali, kali ini untuk teman-teman gengnya.
"Gengs... segera meluncur ke SMA Nusantara. Aqeela gengs..."
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Desta N the genk feat Vian dan Geng
"pesan dari Doni, gaes..."
"Aula Olahraga"
"Des, ayoo kita meluncur sekarang." Ajak Ronald.
Desta mengemudikan X~pandernya sedikit ngebut.
"Des, kita masih belum kawin ya... bawa mobilnya pelan-pelan, napa?" Oceh Wawan.
"Diem kalian... Aku juga belum pernah ngerasain malam pertama, jadi gak usah banyak omong." Maki Desta.
Mendengar jawaban Desta rasanya Ronald dan Wawan pengen godain Desta, tapi tidak mungkin untuk saat ini. Jadi mereka memilih diam
"Pesan dari Daffa, tolong kalian baca." Sesta menyerahkan ponselnya kepada Ronald yang kebetulan di sebelahnya.
"**Kak, kalian jangan terlihat dulu. Di depan aula ada sepuluh oran berjaga. Di belakang ada tujuh orang. Di samping kanan kiri ada lima orang."
"Kalo Kakak masuk, dari gerbang muter lewat gedung utama, terus gedung A. Kakak pasti taukan setelah itu**...."
"Kok jadi Daffa. Doni kemana? Telpon Daffa..."
"Iya, Kak.. ini Daffa sama Nabila."
"Nabila?" Sahut Wawan
"Iya, Kak. Kakak gak usah khawatir. Aku sama Nabila sembunyi di gedung seberang Aula. Gak terlihat sama mereka, kok." Daffa sedikit berbisik takut suaranya terdengar orang lain.
Klik...
Daffa langsung memutus sambungan line telponnya.
"Kak, kalo kalian bawa teman. Berpencar saja..." Daffa kembali mengirim pesan.
"Kita ikuti permintaan Daffa." Putus Desta.
"Hallo, Vian.. posisi dimana?" Suara Desta di line telpon yang tersambung dengan Vian.
"Di halte deket sekolah kamu." Jawab Vian.
"Kamu masuk, cepet parkir. Bilang sama pak Satpam nunggu Desta." Titah Desta.
"Vian, jangan menghubungi Doni, sepertinya dia sudah di dalam aula." Ucap Sesta mengingatkan Vian.
"Okay..."
Lima menit kemudian, X~pander Desta masuk parkiran.
"Mas, sudah di tunggu temannya." Kata Pak Satpam begitu Desta membuka jendela mobilnya.
"Iya.. makasi ya Pak Soleh..." Kata Desta santun.
__ADS_1
"Gimana sekarang?" Tanya Vian.
Desta merasakan kepalanya berat. Pikirannya membayangkan Aqeela yang harus menghadapi kelicikan Wisnu sendirian.
Suara beberapa motor, tiba-tiba memasuki halaman SMA nusantara.
"Loo....kalian kan temannya Doni." Seru Desta bingung.
"Yupzz, Doni WA, agar membantu kalian." Desta nampak begitu lega melihat kehadiran teman-teman Doni.
"Asta, Sandy, Martin, Gino, Leo, Hadi, Roni." Setelah saling bersalaman.
Ronald mengambil alih komando. Sesuai kesepakatan kemarin. Dan membuat keputusan terbaik.
Semua rekan Desta membagi posisi menjadi empat penjuru.
Dan Daffa.. Posisi Daffa yang menguntungkan tetap memantau dan memberi informasi secar detail.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Di dalam gedung
Setelah pamit ke aula olah raga, Aqeela segera ke kamar mandi. Menukar seragamnya dengan Kaos dan training. Kerudungpun ia tukar dengan kerudung hitam dan diikat sedemikan rupa untuk mempermudah gerakannya.
Begitu keluar kamar mandi, Wisnu sudah menyambutnya.
"Hai cantik.." Sapa Wisnu.
"Ya Allah, Kak... Aku sampai kaget.." Aqeela sedikit menjerit saking kagetnya dengan keberadaan Wisnu.
"Bagaimana Beb, sudah kamu putuskan Desta?" Tanya Wisnu. Aqeela hanya menatap sebentar ke arah Wisnu kemudian kembali ke hall utama. Meletakkan seragamnya ke dalam tasnya.
" kalau kamu udah meninggalkan Desta, kan lebih enak..Kita gak perlu repot-repot melakukan adegan berbahaya." Bujuk Wisnu.
"Aku lebih memilih mati di tangan Kak Wisnu daripada meninggalkan suamiku." Tantang Aqeela dengan suara lantang. Membuat Wisnu hampir begidik.
Suara tawa Wisnu menggema ke seluruh gedung. Menampakkan kekuasaannya yang kuat.
"Kamu jangan sombong sayang. Ingat kamu hanya sendiri di sini." Bentak Wisnu.
"Kata siapa aku sendirian?" Jawab Aqeela tak kalah keras dari Wisnu.
"Maksud kamu...?" Wisnu mengerutkan dahinya.
"Apa kamu lupa, aku punya Allah..." Jawab Aqeela tak ada takut di matanya.
Wisnu tidak pernah menyangka, bakal menerima jawaban seperti itu dari Aqeela.
Ada sedikit sisi gentar di dadanya. Namun Wisnu masih berusaha menenangkan sisi hatinya.
"Kamu yakin, sayang?" Ucap Wisnu.
"Aku yakin, dan aku tidak akan dengan mudah mengubah keputusanku..." Aqeela meyakinkan Wisnu.
Wisnu menelan salivanya, membuang pandangannya ke samping.
Menjauhkan matanya dengan tatapan menakutkan milik Aqeela.
"Sungguh perempuan ini, bukan perempuan biasa...." Wisnu berharap menemukan keputusasaan di mata gadis berkerudung itu.
Alih-alih putus asa, yang ada Wisnu mandapat tatapan menakutkan Aqeela.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Bersiap yaa...
__ADS_1
Next part...
Ramaikan Princess of Mojopahit dan Istri Tetangga yaa...