
Di kantor Polisi.
Desta disambut Pak Danu dan Pak Koko.
"Silahkan, Mas" Pak Danu mempersilahkan Desta duduk du kursi berhadapan dengan beliau.
Sedangkan Pak Koko meminta anak buahnya membawa Wisnu keluar.
"Bagaimana, Mas Desta?" Tanya Pak Danu.
Wisnu keluar bersama seorang Polisi.
"Wisnu.." Panggil Desta.
"Mas.. maafkan saya Mas. Saya khilaf. Saya benar-benar tidak sengaja." Ucap Wisnu terbata-bata.
Desta hanya mendengarkan kalimat Wisnu tanpa ada niatan membalasnya.
"Pak, saya dan Aqeela bermaksud memaafkan pelaku dan menempuh jalur damai. Namun kami minta ada persyaratan yang harus Wisnu penuhi." Ucap Desta.
Wisnu yang ikut mendengarkan ucapan Desta, langsung sujud syukur.
"Mas Desta yakin.." Tanya Pak Koko.
"Kami yakin, Pak. Tapi jika Wisnu tidak jera serta mengulangi kembali aksinya dalam bentuk apapun, kami tidak akan memaafkannya lagi." Jawab Desta.
"Oh ya, ini titipan dari Aqeela." Desta menyerahkan sebuah amplop kepada Pak Danu.
Pak Danu menerima dan membukanya. Isinya poin-poin persyaratan yang harus dipenuhi Wisnu jika ingin bebas.
"Mas, saya akan menyalin ini. Dan akan saya sampaikan kepada Wisnu. Jika tidak keberatan, akan kami proses saat ini juga." Kata Pak Danu.
"Baiklah Pak, segera kabari saya jika selesai. Saya pamit dulu." Desa menjabat tangan Pak Danu dan Pak Koko sebelum meninggalkan ruangan.
Desta akan kembali ke rumah sakit, hari ini ia bermaksud absen. Karena Aqeela barusan memberi kabari agar segera kembali ke rumah sakit. Nanti siang dokter Dika akan melakukan pengecekan jahitannya.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
"Assalamu'alaikum..." Salam Desta begitu masuk kamar Aqeela.
Tak ada jawaban. Sepi.
Desta membuka pintu ruangan. Kosong.
"Aqeela, Ibu sama Mommy kemana ya?" Gumam Desta, sambil mensterilkan tangannya dengan hand sanitizer.
Desta keluar, menuju ruangan jaga.
"Sus, pasiean kamar 204 kemana ya?" Tanya Desta.
"Oh, Mbak Aqeela?" Suster bername tag Yuli itu malah balik tanya, sambil menatap kagum Desta.
"Ya Tuhan, gantengnya..." Batin Suster Yuli.
"Iya, Sus." Jawab Desta cuek menyadari Suster di depannya itu menatap tak berrkedip.
__ADS_1
"Eh, anu Mas. Mbak Aqeela jalan-jalan ke ruang rawat anak." Suster itu segera menjawab mengalihkan tatapannya yang di cueki Desta.
"Dimana itu?" Tanya Desta kaget, ternyata Aqeela keluar kamar.
"Masnya lurus saja, kemudian belok ke kanan. Nanti dari situ ada petunjuknya." Suster Yuli memberi arahan kepada Desta.
"Okay, makasi Sus..." Balas Desta, sambil berlalu.
Berjalan mengikuti petunjuk arah dari Suster Yuli. Begitu sampai di lokasi yang dituju. Desta membaca nama yang terpasang di depan pintu ruangan.
Ternyata ada Ruang jaga. Setelah menanyakan ruangan yang dimaksud. Desta langsung melesat ke sana.
Sebelum.masuk, Desta mengintip dari jendela kaca. Ia melihat Aqeela sedang di kerubuti banyak anak kecil. Sedangkan Mommy dan Ibu ikut duduk di belakang bocah-bocah itu.
"Mommy sama Ibu kok sampai bengong gitu ya? Emangnya Aqeela ngomong apaan itu. Bibirnya kadang monyong. Kadang senyum. Lhaa ini meringis." Gumam Desta dalam hati.
Iapun mengurungkan niatnya untuk masuk. Setelah melihat bocah-bocah yang anteng dengan Aqeela.
"Mereka pasti lagi fokus. Ya sudahlah aku kembali saja. Toh ada Mommy dan Ibu." Destapun kembali ke ruang rawat Aqeela. Karena merasa Aqeela akan baik-baik saja bersama Mommy dan Ibu.
Di kamar rawat Aqeela, Desta merebahkan diri di kasur Aqeela. Memejamkan matanya. Sebentar kemudian ia sudah berada di alam mimpi.
Hampir tiga puluh menit, Desta tertidur. Sayup-sayup ia mendengar suara pintu di buka. Desta yakin itu Mommy, Ibu dan Aqeela. Desta masih memejamkan matanya walaupun ia sudah bangun..
"Lho.. Bae.. " Teriak Aqeela begitu masuk dan melihat ada seorang laki-laki tidur di bednya.
"Desta..." Seru Mommy dan Ibu bersamaan.
Ketiga perempuan tersebut langsung menghampiri Desta.
"Bae... kapan nyampe?" Tanya Aqeela mencubit jahil hidung suaminya.
"Dari tadi, saat kalian di ruang rawat anak." Bisik Desta tapi terdengar oleh Mommy dan Ibu.
Desta menguap dan mengucek matanya.
"Kok gak masuk?" Tanya Mommy kepo.
"Takut ganggu, abis liat Mommy sama Ibu sampai bengong gitu ndengerin My Beb ini." Ucap Desta sambil bangkit dari bed. Masih menggenggam tangan Aqeela.
"Ya malu deh, Ibu ketauan bengong." Kata Ibu dengan nada humor sambil mengatupkan kedua telapak tangannya menutup mata.
"Iya.. ketahuan kalo ternyata istri cantik aku ini bisa menghipnotis semua usia." Goda Desta.
"Makasi ya, Bu. Udah melahirkan Aqeela." Bisik Desta ke Ibu. Ibu sampai terdiam mendengarnya. Desta malah langsung mendorong kursi roda Aqeela mendekatkan posisinya ke sofa yang akan ia duduki.
"Mbak Alesha ,makasi yaa... sudah melahirkan Desta." Bisik Ibu ke Mommy.
Mendengar ucapan besannya Mommy tersenyum dan memeluk Ibu.
Aqeela dan Desta hanya melihat. Membiarkan kedua ibunya saling berpelukan.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Pukul dua siang dokter Dika ditemani Suster Septi dan Suster Yuli masuk ke kamar Aqeela.
__ADS_1
"Mas, maaf saya akan memeriksa jahitan Mbak Aqeela." Dokter Dika menatap Desta seolah minta izin karena akan membuka bagian tubuh Aqeela.
"Sebentar Dok, saya bantu." Jawab Desta sopan. Meskipun sebenarnya ia tak terima ada lelaki lain yang melihat bagian tubuh istrinya.
Desta menaikkan bed Aqeela. Dan menegakkan duduk istrinya itu. Menggeser posisi duduk Aqeela agar bisa duduk di tepi bed. Membelakangi dokter Dika dan Suster.
"Suster Septi, tolong di buka resliting Aqeela." Pinta dokter Dika.
Tanpa bersuara Suster Septi segera membuka resliting Belakang Aqeela. Dan membuka perban penutup luka Aqeela.
Desta menggenggam tangan Aqeela. Gadis itu sesekali meringis menahan sakit entah jahitannya atau karena perban yang dilepas.
"Dokter Dika ternyata tidak seburuk dugaanku. Dia profesional." Batin Desta.
Dokter Dika melihat hasil jahitannya. Sesekali dahinya berkerut.
Dokter Dika dan Suster Septi sepertinya berdiskusi. Sedangkan Suster Yuli, mencatat pembicaraan keduanya. Sambil sesekali melirik ke arah Desta.
Desta yang menyadari dirinya jadi obyek lirikan Suster Yuli malah mengelus pucuk kepala Aqeela. Membenamkan kepala Aqeela di dadanya.
Suster Septi menutup kembali resliting Aqeela.
"Makasi ya Sus.." Kata Desta yang hanya dijawab senyuman oleh Suster Septi karena fokus dengan dokter Dika.
"Mas Desta, setelah saya amati. Perkembangan hasi jahitannya sudah bagus. Mulai hari ini, sudah saya buka perbannya. Kemungkinan besok atau lusa Mbak Aqeela sudah boleh pulang." Ucap Dokter Dika.
"Alhamdulillah..." Ucap Desta dan Aqeela barengan. Desta melepeskan pelukannya mengembalikan posisi tidur Aqeela agar lebih nyaman menyandar.
"Tapi..."
"Ya... kok ada tapi sih Dok.." Rengek Aqeela.
"Ya harus Mbak. Karena lukanya belum kering 100 persen. lukanya masih belum kena air. Harus rajin diolesi salep. Dan kalo sudah di rumah usahakan pakai baju yang terbuka di bagian punggungnya."
"Haa.. apaa tuh dok?" Oceh Aqeela.
Desta hanya tersenyum kecil mendengar protes Aqeela.
"Iya Mbak.. pakai baju yang punggung terbuka supaya jahitannya lebih cepat kering. Makan makanan yang bergizi." Ucap dokter Dika.
"Iya, dok. Insya Allah semua saran dokter akan kami lakukan." Kata Desta cepat sebelum keduluan istrinya yang sepertinya akan melakukan aksi protesnya kembali efek tidak puas dengan syarat dokter Dika.
"Baiklah, kalo begitu saya kembali. Selamat istirahat ya Aqeela." Pamit dokter Dika sambil menatap Aqeela lebih lama.
"Kamu memang bukan pasien biasa, tapi sayang kamu sudah ada yang menyegel." Gumam dokter Dika dalam hati.
"Sama-sama, dok.." Jawab Aqeela sambil membuang pandangannya ke arah lain, menyadari sang dokter tengah menatapnya.
"Iya dokter, terima kasih ..." Desta ikut menyahut perkataan dokter Dika mengalihkan tatapan hangat dokter Dika kepada Aqeela.
"Untung saja Aqeela buang muka, kalo malah balik menatapnya. Awas saja.." Umpat Desta dalam hati.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
**wah, Desta posesif yaa gengs...
__ADS_1
Sambil nunggu up mendadak ustadzah, kunjungi Princesa of Mojopahit dan Istri tetangga yaa...
Terus tinggalkan jejak juga yaa**...