MENDADAK USTADZAH

MENDADAK USTADZAH
The Best Momen 14 ( Asissten Pribadi )


__ADS_3

Maaf ya geng lama ... Aqeela sama Desta udah ketok-ketok pintu rumah aku neeee..


Mereka gak sabar looo...


Akupun menulis ini dalam keadaan setengah sakit. Mudah-mudahan langsung bisa publish yaaa...


💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗


"Nak, Mama minta kamu jangan kecewakan Desta dan Aqeela yaa. Mereka udah banyak membantu kita." Kata Mama Intan saat Doni berkunjung ke rumah Mamanya.


"Insya Alloh Mama... Doni janji selalu jadi teman terbaik mereka. Mereka bahkan sudah menganggap kita saudara." Kata Doni sambil rebahan di paha mama Intan.


"Anak hebat. Mama selalu mendo'akan yang terbaik buat kalian. Desta dan Aqeela bahkaan sudah mama anggap seperti anak mama sendiri. Seperti keluarga mereka menganggap kamu putranya." Ucap Mama dengan terharu.


"Ma,maafin Doni yaa Ma. Belum bisa bahagiakan Mama. Nanti kalo tabungan Doni sudah cukup. Kita beli rumah ya Ma. Mama jangan tinggal di kos an lagi. Doni harus menjaga mama." Kata Doni sambil memeluk mama Intan. Membuat mama Intan berkaca-kaca mendengar impian putranya itu.


"Amiiin... mudah-mudahan keinginan kamu dikabulkan Alloh ya Nak. Mama selalu menunggu kesuksesan anak Mama." Bisik Mama Intan semakin terharu.


💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗


Di rumah Desta dan Aqeela.


"Iya, Ayah?" Desta mengangkat panggilan line telpon dari Ayah.


"Des, bisa ke kantor ayah?" Tanya Ayah.


"Bisa, Yah."


"Bae... kok Ayah nelpon kamu siih?" Tiba-tiba Aqeela protes begitu tahu Ayahnya menelpon Desta.


"Nanti yaa jam sebelas." Pinta Ayah masih di line telpon.


"Iya ayaah.. Yah, kayaknya ada yang jeles neee..." Bisik Desta


"Nee.. ngobrol sendri sama ayah." Desta menyodorkan ponselnya ke Aqeela.


"Ayah kok telpon Kak Desta siih. Kenapa gak telpon Aqeela?" Protes Aqeela.


"Duuh anak ayah, jeles sm suaminya sendiri." Goda Ayah.


"Ayah... Aqeela serrius nee..."


"Ayah juga serius , Nak. ini urusan laki-laki. Sudahlah... tanya suamimu ada apa?"


"Jaga diri baik-baik. Ingat di perut kamu ada 3 nyawa. Gak bole sering-sering ngambek. Kasiyan calon cucu-cucu ayah nanti kalo Ummanya marah-marah melulu."


"Ayaaahhh..."


Ayah menutup panggilannya tanpa peduli teriakan putrinya.


"Kok masih cemberut siih, Beb?" Tanya Desta.


"Aku anak ayah bukan sih?" Oceh Aqeela.

__ADS_1


"Bukan, Kamu anaknya Mommy." Jawab Desta dengan wajah cemberut, mengingat bagaimana Mommy memperlakukan Aqeela lebih dari dirinya. Anaknya sendiri.


"Lha kan kalo ada apa-apa, Mommy tuh selalu prioritasin kamu. Aku anaknya gak pernah di telpon." Desta ikutan ngedumel.


"Haa haa haa... Bae... jadi ceritanya mau balas dendam gitu sama aku. Gak lucu kalee Bae. Gak usah jeles kayak gitu ahh.. Ntar diketawain loo ama anak-anak kamu." Tiba-tiba Aqeela malah terkekeh mendengar ocehan suaminya yang ternyata juga sangat jelas kepada dirinya jika selalu ditelpon sama Mommy.


Desta hanya menoleh, sekilas. Mencubit mesra pipi Aqeela dengan seenaknya.


"Bae.. sakit tauu..." Teriak Aqeela pura-pura sakit padahal gak sakit sama sekali.


"Haa haa ha...." Desta menjawabnya dengan tawa yang bahagia. Gak tau kenapa akhir-akhir ini Desta hobby banget ngisengin Aqeela.


"Beb, nanti aku di suruh Ayah ke kantornya jam sebelas. Ada apa yaa kira-kira?" Tanya Desta khawatir.


"Lhoo ya mana Qee tahu, Bae. Ntar aja nanya Ayah lagi. Atau mau telpon ayah lagi?" Tanya Aqeela.


"Ayah gak mau ngomong juga ke aku, Bae." Lanjut Aqeela.


"Mudah-mudahan bukan sesuatu yang rumit." Ucap Desta dalam hati.


"Hari ini kamu mau kemana, Beb?" Tanya Desta.


"Di rumah saja kayaknya. Belum ada info apapun dari kampus." Jawab Aqeela.


"Terus ngajuin cutinya kapan?" Desak Desta.


"Abis pembayaran mahasiswa baru kayaknya Bae. Ntar kan bareng-bareng sama Dinda registrasinya. " Tanya Aqeela.


Ya... setelah lulus SMA, Aqeela mengikuti ujian masuk universitas dan diterima. Kebetulan Aqeela dan Adinda mempunya pilihan kampus yang sama. UINSA. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel.


"Ya udah, hati-hati di rumah. Jaga si triple baik-baik ya..." Bisik Desta.


"Anak-anak Buya, jaga Umma yaaa. Buya mau berangkat kerja dulu. Muuaaacchh." Pamit Desta sambil mencium perut Aqeela.


Aqeela sampai kegelian melihatnya.


"Iya Buya.. kami baik-baik saja." Balas Aqeela dengan suara perutnya.


"Din... nitip Aqeela yaa.." Kata Desta melihat Adinda turun ke lantai satu.


"Iyaa.. udah kamu tinggal aja dia mah selalu baik-baik saja." Ucap Dinda.


Aqeela hanya tersenyum.mendengar ocehan Adinda.


"Assalamu'alaikum..." Pamit Desta sambil mengecup kening Aqeela.


"Hadeeh bener kata Doni, kalo kelamaan liat kalian mataku benar-benar terkontaminasi. Kalian gak liat ada banyak jomblo di sini. Hah..." Dinda kembali mengoceh tapi hanya di senyumin aja sama Aqeela dan Desta.


"Derita loo, Din..." Jawab Aqeela begitu Desta sudah berangkat ke kantor.


"Makan yuuuk, Din." Ajak Aqeela.


"Bukannya kamu tadi udah makan, Qee?" Tanya Dinda heran.

__ADS_1


"Masih laper... Yuuk aah. Mau makan enggak. Kalo enggak aku habisin neee..." Ancam Aqeela.


"Iyaa.. iya... aku juga laper, tau..." Ucap Adinda sambil duduk di kursi sebelah Aqeela.


"Makan yang banyak, Din. Jangan sampai kamu tinggal sama aku, malah tambah kurus. Dikira gak pernah dikasi makan." Kata Aqeela sambil menyendokkan nasi ke piring.


"Yang ada BB aku nambah tau gak siih." Oceh Dinda.


"Haa haa haa.. akhirnya aku gak gendut sendirian." Ucap Aqeela puas.


"Apaaa??? Dasar Bumil." Gerutu Dinda tapi masih dalam mode bercanda.


💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗


Jam sebelas di kantor Ayah.


Desta sudah duduk berhadapan dengan Ayah.


"Nak, sudah waktunya ayah sekarang pensiun. Gantikan posisi Ayah dikantor." Kata Ayah dengan tegas namun lembut.


"Tapi, Ayah... Desta udah pegang perusahaan Daddy." Ucap Desta kaget.


"Ya.. terus kalo bukan kamu siapa yang bakal meneruskan, Nak. Aqeela tidak mungkin. Dia terlalu sibuk dengan dakwahnya. Kamulah harapan kami satu-satunya."


"Kamu gantikan posisi yang seharusnya buat Aqeela. Support dia dengan cara gantikan posisi Ayah. Ayah akan fokus ibadah. Ayah sama ibu sudah mulai tua. Sebentar lagi kalian akan mempunyai bayi. Biarkan kami bahagia dengan cucu-cucu kami nanti." Kata Ayah dengan penuh harap.


"Tapi Yah, Desta belum begitu paham tentang perusahaan Ayah." Kata Desta dengan jujur.


"Jangan khawatir. Sebulan ini Ayah akan memberikan kamu waktu mempelajarinya. Ayah yakin kamu laki-laki cerdas. Dua tahun ini kemampuan kamu sudah banyak diperhitungkan. Sayangnya mereka belum tahu CEO muda berbakat ini menantu ayah." Puji Ayah.


"Ayah berlebihan." Kata Desta dengan menunduk.


💗💗💗💗💗💗💗💗


Desta masih memikirkan permintaan Ayah. Walaupun tadi ia mengiyakan, ternyata ada masih ada beban di hatinya.


"Daddy...?"


"Asisiten..."


💗💗💗💗💗💗💗💗💗


Bagaimana Desta mengatasi kegalauan hatinya. Dan apa peran Aqeela untuk Desta?


Next yaa gengs...


Jangan lupaa...dukung Mendadak Ustadzah terus yaa...


Like


komen


Vote

__ADS_1


Rate


__ADS_2