MENDADAK USTADZAH

MENDADAK USTADZAH
Bertemu Ustaz Zainal


__ADS_3

Senin siang selepas pelajaran agama islam. Ustad Zainal memanggil Aqeela ke ruang BK. Kebetulan juga pas jam istirahat pertama.


Seperti yang di sampaikan Ayahnya Jum'at lalu, bahwa Ustaz Zainal nyuruh Aqeela menemuinya di ruang BK.


Karena hari Sabtu sekolah libur, maka Aqeela menunggu haru Senin.


Eh, gak taunya Ustaz Zainal langsung Gercep.


Aqeela yang penasaran gak berani nanya macem-macem apalagi membantah.


Karena memang akhir-akhir ini ia kerap diancam masuk ke ruang BK.


“Aqeela, Ustad ingin kamu membantu saya?” Kata Ustad Zainal memulai pembicaraan, begitu mereka nyampe di ruang BK


“Apa yang bisa saya bantu, Ustad?” Aqeela balik nanya


“Mulai Jum’at nanti kamu jadi asissten saya, ya!”


“maksudnya assisten itu apa ya, Ustad?” Aqeela makin gak ngerti.


“ Kamu bantu saya ama Ustazah Dewi ngajar siswi perempuan di sini ketika jam tambahan agama. Oke. Gak pake bantah.”


“ Tapi, Ustad. Saya gak mungkin….” Aqeela berusaha menolak.

__ADS_1


“ Kamu gak usah bantah deh. Saya udah tau lo kamu dulu sempet cicipi perjuangan hidup di pesantren, bukan?” Ustad Zainal meyakinkan Aqeela.


Jawaban Ustadz Zainal makjleb langsung kena ke dasar hatinya yang paling dalam. Dan Aqeela benar-benar tak bisa berkutik. Rahasia terbesarnya udah berada di tangan Ustadz Zainal.


“ Bukan soal itu Ustad. Saya… sudah nggak punya kerudung.” Jawab Aqeela dengan ragu-ragu. Karena seluruh kerudung yang ia punya udah dibagi-bagi ke teman-teman di pesantren.


Ustaz Zainal tahu itu hanya alasan klise Aqeela. Kalo memang Aqeela mau, seketika itu juga berapapun jumlah, warna dan harga kerudung yang dia mau dan dia inginkan bias langsung tersedia. Mengingat keberadaan orang tua Aqeela yang kekayaannya tidak terhitung.


“Kalo misalnya, saya ada solusinya kamu bersedia kan?”


“ belum tau Ustaz..” jawaban Aqeela benar-benar mengambang.


Bersamaan dengan selesai Aqeela menjawab pertanyaan Ustad Zainal.


“Ustazah Dewi.” Kata Aqeela


“Wa’alaikum salam.” Jawab mereka serempak.


“Ustazah, ini Aqeela. Dia nanti yang akan bantu kita.” Ustadz Zainal langsung mengenalkan Aqeela pada seorang wanita cantik berjilbab biru muda, senada dengan baju yang dipakainya.


“Assalamu’alaikum, Aqeela.”


“Wa’alaikum salam, Ustazah.”

__ADS_1


“Gimana, kamu ndak keberatan kan?”


Ustazah Dewi sudah mendengar semua tentang Aqeela dari Ustaz Zainal.


“Enggg, gimana ya, Ustazah. Biasanya kalo mengajarkan mengaji itukan pake kerudung. Sedangkan saya. Sekolah aja pake rok pendek. Entar gak ada yang percaya lagi ama saya.” Aqeela mencoba mengelak


“Ya. Ntar tinggal kamu pake kerudung ganti roknya dengan rok panjang. Kan ndak masalah.”


“Itu masalahnya Ustazah. Saya ndak punya kerudung apalagi rok panjang.” Kali ini Aqeela lebih jelas jawabnya.


“nanti Ustazah pinjami.” Ustazah Dewi langsung nembak Aqeela, membuat gadis itu tak berkutik lagi. Dan masih dengan jawaban yang terpaksa Aqeela mengiyakan.


Dalam hati, Aqeela tengsin juga. Seumur-umur belum pernah pinjam barang milik orang lain. Dulu ketika di Pesantren pun Aqeela belum pernah pinjam barang ke temannya. Terus sekarang, ada yang mau minjemin.


“Enggak usah deh Ustazah. Terima kasih. Biar Aqeela usaha sendiri aja.” Aqeela akhirnya menyerah. Karena sudah tidak ada jalan lainnya.


“Ya udah terserah kamu. Asalkan Jum’at besok kamu ready.” Kata Ustazah Dewi.


“ Baiklah Ustaz, Ustazah.” Aqeela akhirnya tunduk dengan permintaan Ustaz Zainal.


Ustaz Zainal dan Ustazah Dewi tersenyum penuh arti. Mereka sedang berusaha menyelamatkan gadis pintar itu dari list daftar hitam para guru.


**

__ADS_1


__ADS_2