
Tiga hari di rumah sakit, membuat Aqeela merasa bosan. Meskipun Mommy, ibu,Daddy dan Ayah bergantian menemaninya.
Desta N the genk, Vian, Doni, Nabila, Teman-teman kelas dan anak-anak Rohis yang terus memberi support.
Bahkan Ibu-ibu komplek jama'ahnya dan adik-adik yang biasa ia ajari mengaji dan karate menengok dengan berjama'ah.
Aqeela tetap saja masih merasa bosan. Karena kerjaannya hanya rebahan. Bergerakpun masih sakit. Duduk dibantu dengan bed. Ruang geraknya benar-benar terbatas.
Untuk mengusir rasa bosannya, yang bisa ia lakukan hanya mengaji dan bersenandung.
Menyenandungkan sholawat hingga lagu-lagu yang hafal.
Di hari ke empat.
Pukul sembila pagi, sehabis sholat dhuha. Aqeela membuka Al-qur'an digitalnya.
Perlahan ia mulai membaca Surat Ar-Rohman, Waqi'ah, dan Al-Mulk.
Kebetulan hari ini Mommy sedang tidak enak badan. Jadi tidak bisa menemaninya. Sedangkan Ibu harus ikut Ayah menemui klien. sehingga Aqeela ditinggal sendiri.
Dan Desta, setiap hari masih harus mondar mandir kantor, kampus, kantor polisi dan rumah sakit. Aqeela sampai tidak tega melihat kondisi suaminya. Nampak kelelahan setiap sampai rumah sakit. Tapi Desta selalu tersenyum tak pernah mengeluh.
Bagi Desta maupun Aqeela, bagaimanapun kondisi dan keadaan semua harus dilalui. Dan Aqeela meskipun dalam kondisi sakit, ia terus memberi support suaminya.
Suara Aqeela mengaji yang begitu syahdu, membuat seorang suster yang hendak memeriksa kondisinya terpaku. Memandang dan mendengarkan suara syahdu pasien cantiknya.
"An, kamu kok lama banget." Hingga sebuah suara mengingatkannya.
"Itu..." Perempuan yang dipanggil An itu hanya menunjuk ke arah Aqeela.
Teman suster An, ikut terbengong, mendengar suara Aqeela.
Aqeela mengakhiri mengajinya ". صدق الله العظيم "
( Shodaqollahul adzim )
"Lhoo Suster...? Ngapain di situ?" Tanya Aqeela kaget melihat ada dua orang suster bediri di depan pintu kamarnya.
Suster An dan temannyapun bergegas masuk, "Kami ingin melihat kondisi Mbak Aqeela, ternyata Mbak Aqeela sedang mengaji. Udah gitu suaranya bikin hati tenang." Jawab Suster An, yang ternyata kependekan dari Anna. ( liat name tag nya gengs..)
Suster Anna segera mengeluarkan alat tensinya. Mengukur tekanan darag Aqeela.
"110/90." Ucap Suster Anna kepada temannya.
"Mbak Aqeela, saya ganti perbannya ya.." Pinta Suster Anna, yang diiyakan sama Aqeela.
Suster Anna membuka resliting baju Aqeela perlahan. Sesekali Suster Anna menghembuskan napas panjang dan berat. Seolah ia ikut merasakan kesakitan karena luka Aqeela.
"Mbak, ini kok bisa kayak gini kenapa ya?" Tanya Suster Anna.
"Di tusuk Sus, sama orang. Beruntung teman saya tahu langsung menendang orang itu. Sayangnya ujung belatinya udah nusuk jadi yang atas lukanya lebih dalam. Coba kalo teman saya gak tahu, belatinya pasti nusuk sangat dalam, bisa kena tulang-tulang saya." Kata Aqeela dengan menahan sakit karena Suster Anna memberikan salep pada jahitan luka Aqeela.
"Mbak Aqeela yang sabar ya.. mudah-mudahan lukanya segera kering." Ucap Suster Anna memberikan dukungan kepada Aqeela.
__ADS_1
"Amiin... Insya Allah, Sus.." Jawab Aqeela.
"Hmm...Mbak Aqeela kok ngajinya lancar gitu siih. Apa Mbak Aqeela selalu mengaji kayak tadi?" Tanya Suster Anna kepo.
"Awwh.. " Teriak Aqeela karena merasakan ada yang sakit.
"Aduh maaf ya mbak.." Kata Suster Anna
"Gak pa_pa kok Sus. Hmm.. iya sih Sus. Kan kalo ngaji lebih baik di tilawahkan." Jelas Aqeela.
"Mbak, saya pengen bisa ngaji kayak tadi." Bisik Suster Anna pelan.
Aqeela tersenyum.
"Suster Anna mau ngaji sama saya?" Tanya Aqeela.
"Mbak Aqeela gak keberatan gitu?" Tanya balik Suster Anna, sambil menutup luka Aqeela.
"Enggaklah Sus, lagian juga bosen di sini terus." Bisik Aqeela.
"Serius Mbak? gak pa_pa?" Tanya Suster Anna.
"Serius, Sus. Nanti kalo shiftnya Suster Anna selesai, langsung ke kamar Aqeela. Kita belajar di sini saja." Ucap Aqeela meyakinkan Suster Anna.
"Tapi, aku gak bawa kerudung Mbak? Terus Al-qur'annya?" Suster Anna sangat bahagia tapi juga bingung karena belum menyiapkannya.
"Ndak usah bingung. Pake kerudung saya. Kalo Al-qur'an, pake Al-qur'an digital dulu gak pa_pa kok Sus." Aqeela memberi solusi yang terbaik.
Suster Anna tersenyum bahagia, " Baiklah Mbak. Nanti jam 2 saya ke sini ya."
Setelah selesai memberi salep dan mengganti perban Aqeela, Suster Anna dan temannya pamit kembali ke nurse room.
Dan Aqeela kembali menyelesaikan mengajinya. Kali ini ia kembali ke Surat Al-Baqaroh.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Di Nurse Room
"An, sepertinya Mbak tadi itu aku kok gak asing ya?" Seru suster temannya Suster Anna.
"Ya.. sapa tahu kamu pernah ketemu dimana gitu kali, Sep." Ucap Suster Anna.
"Enggak An, serius. Bentar..." Suster Septi merogoh kantongnya, mencari ponselnya. Setelah menemukan, ia segera mengetik sesuatu.
"An.. Anna.. lihat. Bener kan... Ini Mbak yang tadi." Sorak Suster Septi temannya Suster Anna.
Suster Anna akhirnya melirik ponsel Septi yang ternyata udah membuka aplikasi you tube.
Suster Anna yang awalnya ogah-ogahan akhirnya menonton dengan serius.
"Sep, beneran.. ini Mbak Aqeela. Ustadzah yang masih muda banget itu. Yang viral itu. " Suara Suster Anna terdengar sangat keras sampai dokter Dika menatap mereka.
"Kenapa An?" Tanya Dokter Dika heran.
__ADS_1
"Itu loo Dok, Mbak Aqeela ternyata Ustadzah yang viral itu. Nee Dokter Dika lihat saja sendiri. Suaranya persis kayak tadi yang saya dengar." Aqeela menyodorkan ponsel suster Septi kepada dokter Dika.
Dokter Dika menerimanya. Memperhatikan dengan seksama. Tak berkedip.
"Dok.. dokter..." Kata Suster Anna sambil menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah dokter Dika.
Namun dokter Dika seakan menikmati video you tube Aqeela, sampai tidak menyadari ada tangan bergerak di depan wajahnya. Suster Annapun menyerah.
Suster Septi berinisiatif menjentikkan jari telunjuk dan ibu jarinya di depan wajah dokter Dika.
"Tik.. tik tik.."
"Eh. ah he.. .." Dokter Dika tersadar.
"Hmm.. liat dokter Dika sampai terkesima begitu." Goda Suster Septi.
"Sayangnya dia udah ada yang punya." Gumam dokter Dika lirih namun masih bisa didengar kedua suster tersebut.
"Sudah punya pacar?" Teriak kedua suster tersebut bareng.
"Bukan.. dia udah punya suami." Bisik dokter Dika membuat kedua suster tersebut speechless.
"Suami?"
"Siapa?"
Anna dan Septi melotot bareng.
"Desta." Jawab cepat dokter Dika.
"Ha.. cowok ganteng yang selalu menemaninya itu?" Anna masih belum percaya.
"Iya." Dokter Dika menjawab dengan singkat.
"Kirain dia kakaknya." Suara suster Anna nampak rada frustasi.
"Bukan, Desta suaminya." Jelas dokter Dika.
"Hik.. hik.. hik.. ya sudahlah.. Mbak Aqeela juga cantik. Mas Destanya juga ganteng. Mereka serasi." Suster Anna menenangkan hatinya. Tak dipungkiri ia sempet melirik cogan suami Aqeela itu. 🤭🤭🤭
"Kenapa kamu, An. Suka sama Mas Desta?" Bisik Suster Septi setelah dokter Dika kembali ke singgasananya.
"Bukan suka, tapi liat Mas Desta yang perhatian banget sama Mbak Aqeela bikin ngiri." Wajah Anna berubah menjadi memelas.
"Sabar ya An.. yang ikhlas.. kamu nanti jadi kan belajar ngaji sama Mbak Aqeela." Hibur Septi yang tahu bagaimana perjalanan hidup dan cinta temannya itu.
"Iya.. jadi." Balas Anna singkat.
"Aku ikut ya..."
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
To be continue...
__ADS_1
Trm ksh yaa udah dukung Mendadak Ustadzah