
Pemilihan Ketos berjalan lancar.
Wisnu dan pengurus yang lain sudah melakukan sertijab kemarin barengan sama upacara bendera.
Aqeela ikut bangga, akhirnya Aldo teman sekelasnya yang terpilih jadi Ketos.
"Do...selamat ya..." Kata Aqeela dengan bangga
"Makasii ya Qee..." Jawab Aldo.
Aldo dan kandidat yang lain, tidak pernah tahu insiden yang terjadi antara dirinya yang menolak menjadi calon ketos. Karena memang sengaja dirahasiakan. Aqeela malah bersyukur dengan itu.
Sehingga siapapun yang terpilih, takkan merasa disepelekan.
Jika ada yang bertanya tentang kejadian pemanggilannya waktu itu. Ia hanya mengatakan ini berhubungan dengan Karate dan Rohis.
Tapi tentu saja, Doni dan Nabila tahu semuanya. Dan mereka hanya berani keep sikent. Keduanya menjaga kondisi hati Aqeela dengan baik.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Dua bulan lewat....
Wisnu dan kawan-kawannya berdiri di depan kelasnya. Wisnu menyandarkan tubuhnya ke dinding memandang ke arah kelas seberang.
"Kamu, masih ngarep tuh cewek.." Tanya Halim mengikuti posisi Wisnu bersandar ke dinding, satu tangannya dimasukkan ke dalam kantong celananya.
"Senyumnya, Lim... Tenang banget..." Oceh Wisnu lirih.
"Dia punya orang." Sahut Halim
"Dia masih segel. Aku pengen dia." Ocehan Wisnu makin gak jelas. Matanya menatap Aqeela yang sedang berjalan beriringan dengan ketiga sahabatnya. Nabila, Doni dan Daffa.
"Terus..."
"Aku rebut dia, dari si songong itu..."
__ADS_1
Halim menatap Wisnu tak percaya. Setelah semua rencananya gagal. Masih saja ada keinginan merebut Aqeela dari Desta.
"Wis, elo udah pake semua cara. Tapi apa?" Ucap Halim hampir putus asa melihat kondisi Wisnu yang begitu berambisi.
"Masih ada yang belum aku tempuh." Halim memiringkan posisinya menghadap Wisnu.
"Elo, ada plain apa lagi?" Bisik Halim
"Pertempuran terbuka..."
"Whatt...???? Wait, Wis.." Terlambat Wisnu sudah menjauh dari posisinya semula.
Halim berusaha mengejar, tapi langkah Wisnu begitu cepat. Halim sampai ngos-ngosan.
"Fer, Jun, Frans ke kantin sekarang." Halim berinisiatif menghubungi ketiga rekannya via telpon grup.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
"Kalian mau pesan apa?" Tanya Aqeela.
"Bakso.."
"Seblak..."
Jawab Doni, Nabila dan Daffa barengan.
"Tunggu di sini Aku pesankan!" Titah Aqeela menuju masing-masing kios pedagang pesanan teman-temannya itu.
Aqeela mengantri dengan sangat sabar. Untunglah si Ibu dan Bapak penjualnya cekatan. Jadi, gak pake lama nunggunya.
Aqeela masih mengantri giliran di kios Seblak.
"Ikut gue..." Sebuah tangan menariknya dari kerumunan antrian.
"Don... Aqeela..." Daffa berteriak panik
__ADS_1
"Kenapa, Fa..."
"I.. iittuuu... Aqeela dibawa Wisnu..." Kata Daffa sambil menunjuk ke arah Wisnu yang menyeret Aqeela.
Tanpa dikomando, Doni auto menuju ke arah Wisnu dan Aqeela.
"Kak, lepas..." Teriak Aqeela begitu Wisnu menghentikan langkahnya di taman belakang. Tempat yang sama dimana dulu ia suka berkumpul dengan Desta N the genk saat menyusun strategi perang.
"Enggak akan..." Jawab Wisnu dengan emosi.
"Kak, ini sakit..." Ucap Aqeela lebih kalem.
"Aku gak akan lepasin..." Kata Wisnu dengan menatap Aqeela sayu.
"Wisnu... lepasin Aqeela...." Teriak Doni dari jarak 3 meter, Namun sebuah tangan menarik bahunya.
"Biarkan mereka..." Ancam Halim.
"Kalian... " Mata Doni berkilat merah, ada kemarahan di dalamnya.
"Wis, urus Aqeela. Biar nee cowok kampret kita yang urus." Teriak Halim.
Doni berencana mengepalkan tinjunya. Tapi kembali ada yang menghalanginya. Feri, Juna dan Frans.
"Good prends... kalian urus dia. Aku mau ke Wisnu." Titah Halim.
Tentu saja, ketiga rekannya berteriak kegirangan seperti dapat rezeki nomplok.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
**To be continue....
Man teman... mampir ke princess Mojopahit ya...
Ramaikan juga yang di sana...
__ADS_1
Bentar lagi Mendadak Ustadzah mau habis**...