MENDADAK USTADZAH

MENDADAK USTADZAH
Di Rumah Doni


__ADS_3

Desta, Wawan dan Aqeela masuk ke area perawatan Doni. Suara bercanda mereka sudah berkurang karena dari jauh sudah terlihat beberapa petugas kepolisian masih mengawasi Doni.


Setelah menyapa beberapa petugas yang mereka kenal, ketiga langsung masuk ke dalam.


Intan terlihat sedang membereskan pakaian-pakaian Doni dan beberapa barang yang diperlukan selama di rumah sakit.


"Assalamualaikum, Ma," salam Desta dan Aqeela begitu masuk ke ruangan tersebut.


"Waalaikumsalam, Eh Mas Desta, Mas Wawan, Mbak Qee. Maaf, merepotkan kalian," ucap Intan begitu tahu yang datang teman-teman Doni.


Paling tidak yang Intan tahu mereka bertiga plus Ronald dan Vian yang paling sering datang menjenguk putranya. Selebihnya ia tidak tahu.


Bahkan latar belakang peristiwa penembakan Doni, mereka sembunyikan dari wanita paruh baya tersebut.


Mereka khawatir jika Intan tahu akan semakin syok karena selama ini Doni dalam pengawasan papanya, sedangkan mama sudah pindah ke rumah kontrakan kecil. Hanya sesekali Doni datang menemuinya.


"Sudah, Ma?" tanya Aqeela melihat Intan menutup resliting tas tempat pakaian Doni. tidak banyak hanya 4 stel, itu pun pemberian dari Desta.


Remaja itu tahu, semua pakaian Doni ada di rumah papanya karena itu ia beinisiatif membelikannya, meskipun tidak banyak. Minimal bisa digunakan sementara di rumah sakit. kalau terlalu banyak juga bingung menyimpannya.


"Sudah," jawab Intan meletakkan tas tersebut di nakas.


"Administrasi, bgaaimana?" tanya Desta.


"Sudah, Nak. Tadi Mama sudah laporan." Intan menunjukkan surat yang mengizinkan Doni untuk pulang.


"Selamat sore Mas Doni, Bu Intan," sapa seorrang petugas kepolisian yang berjaga di luar.


"Bagaimana? Sudah siap pulang?" tanya petugas tersebut.


"Sore, Pak. Alhamdulillah sudah," jawab Intan.


"Mas Doni, jangan lupa terus laporan setiap bulan ke kantor," ucap petugas tersebut sebelum keluar kembali.


"Siap, Pak," jawab Doni.


"Yuk, pulang!" ajak Desta.


"Don, pakai kursi roda?" tanya Desta.


"Jalan aja. Ada kruk juga," tolak Doni.


"Okelah," kata Desta membantu Doni turun dari ranjang.


Setelah berpamitan kepada suster penjaga mereka meninggalkan ruang perawatan Doni dikawal petugas kepolisian.


"Selamat jalan, semoga Mas Doni cepat sehat," kata petugas tersebut.


"Baik, Pak. Terima kasih atas penjagaannya selama ini," kata Doni menjabat tangan polisi tersebut.


"Sama-sama," kata petugas tersebut.


Setelah semua masuk ke dalam mobil, Desta mulai mengemudi dengan kecepatan sedang menuju kediaman Intan.

__ADS_1


***


"Bu Intan, Mas Doni," sapa seorang tetangga Intan yang kebetulan sedang di depan teras.


"Mari Bu Heru," sapa Intan dengann ramah.


Intan dan Aqeela berjalan di depan, sedangkan Desta dan Wawan membantu Doni berjalan menggunakan kruk di belakang.


"Silahkan masuk, Nak!" kata Intan setelah membuka pintu.


Aqeela membantu Intan memasukkan tas milik Doni dan membersihkan ruang tamu kecil di rumah tersebut.


Doni, Desta dan Wawan segera duduk lesehan begitu lantai selesai dipasang tikar oleh Aqeela dan Intan.


***


Sebuang panggilan dari Ronald menghentikan candaan diantara mereka.


"Dimana posisi, kamu?" Terdengar suara Desta memberi arahan jalan yang harus dilalui Ronald agar sampai di rumah Doni.


"Aku keluar bentar, ya?" pamit aqeela pada Desta.


"Oke," Desta mengacungkan jempol sudah paham maksud istrinya


Lima menit setelah Aqeela keluar, Ronald datang dan bergabung.


***


Aqeela baru saja akan mengucapkan salam masuk ke rumah Doni Lamat-lamat ia mendengar suara Desta, Wawan dan Ronald menyebut serang dan Pongky.


"Assalamualaikum," ucap Aqeela masuk seolah tanpa mendengar apapun.


"Ini, Kak. Makan dan minum dulu. Kalian pti belum makan," kata Aqeela membuka kresek berisi nasi bungkus dan enam botol air mineral.


"Aku masuk dulu, kasih ini ke mama Intan," ujar Aqeela sambil menenteng kresek berisi sebungkus nasi dan sebotol air mineral.


Saat Aqeel masuk, mereka kembali berbisik.


"Kak, aku bisa mendengar. Kalian dan Pongky mau apa lagi? Terus siapa itu Pongky?" seru Aqeela yang tiba-tiba sudah ada di belakang mereka.


Seketika keempat remaja pria itu menoleh kepada gadis berhijab putih tersebut.


Wajah mereka tampak bingung, terutama Desta. Aqeela duduk di sebelah suaminya menatap keempatnya bergantian.


"kalian merencanakan apa lagi? tanya Aqeela.


"Nih," Ronald menyerahkan ponselnya pada Aqeela.


Menurut mereka menjelaskan dengan suara tidak akan membuat gadis itu percaya begitu saja


Aqeela menerima dan membaca pesan yang tertulis di aplikasi ponsel Ronald.


"Oh, ditantangin lagi," seru Aqeela begitu selesai membaca pesan tersebut.

__ADS_1


*Iya, tapi kali ini aku mohon kamu Ndak perlu ikut," ucap Desta.


"Yakin, gak butuh aku. Berarti Kak Vian juga gak perlu dikabari, cukup kalian bertiga saja yang berangkat," ancam Aqeela geram.


Ia kembali menyerahkan ponsel pada Ronald. Seketika wajah keempatnya menjadi pias.


Bukan tidak mau dibantu, tetapi mereka bertiga paham bagaimana Pongki dan gengnya jika melihat makhluk bernama perempuan.


Mereka tak segan-segan berbuat nekat demi mendapatkan makhluk tersebut. Sehingga mereka khawatir jika ada Aqeela diantara mereka, Pongki akan bertindak diluar nalar.


"Kalo itu janganlah, kita masih butuh bantuan Vian dan anak buahnya. Kita cuma bertiga mana bisa menang dan bertarung dengan cara tidak imbang," sahut Wawan.


"Lalu," seru Aqeela.


"Untuk kali ini lebih baik kamu nurut, karena si Pongki itu bukan lawan biasa," tutur Desta.


"*Memangnya yang kemarin-kemarin itu lawan biasa?" tukas Aqeela kesal.


"Waduh, rempong kalo Aqeela sudah begini. begini salah begitu salah," gumam Desta dalam hati.


"Begini, Qee." Doni akhirnya buka suara.


Ia melihat ada gelagat tidak baik dalam ucapan istri Desta tersebut, sehingga ia segera meluruskan.


"Pongki penjahat yang bisa menghalalkan segala cara yang takluk dengan perempuan," kata Doni sambil memberi isyarat mengangkat jari tengah dan telunjuk menggerakkan sebagai kode tanda kutip.


"Nah, mereka tidak ingin si Pongki menyerah karena melihat kamu. Apa kamu mau?" tanya Doni menatap Aqeela.


"What? Maksudnya? Dia akan menyerah tapi ngambil aku, gitu?" ulang Aqeela memperjelas ucapan Doni


"Iya," jawab Doni lirih


"Gak takut, kalo ngambil aku tinggal melarikan diri aja," kata Aqeela.


"Gak segampang itu," sahut Desta.


"Emang sanggup ngelewati anak buah Pongki yang sebanyak itu. Terus kamu dibawa kemana juga gak tahu, kan? Ya kalo, di sini-sini aja. Kalo sampai luar kota atau luar negeri, gimana?" sambung Doni.


*Rekreasi," sahut Aqeela dengan santainya


Auto Doni menepuk jidatnya dengan kasar mendengar ucapan Aqeela.


"Don, ini obatnya!" perdebatan mereka terhenti karena seruan Intan kepada Doni yang mengingatkan obat.


"Ini?" Intan menyerahkan obat pada Doni.


"Makasi ya, Ma," kata Doni sambil tersenyum.


"Awas, gak usah ikut main kali ini di rumah aja. Aku gak mau kamu diapa-apain sama Pongky. Aku aja belum ngapa-ngapain kamu. Eh, malah dia duluan. Gak Sudi!" bisik Desta mengancam Aqeela.


****


Gaes tinggalin jejak kalian, ya ...

__ADS_1


Hepi reading 📙


__ADS_2