MENDADAK USTADZAH

MENDADAK USTADZAH
Siap


__ADS_3

Frans menyeret Doni turun dengan kasar. Aqeela memandang ketiganya dengan seksama.


Baik Doni, Frans maupun Juna wajah ketiganya sudah bengkak. Menandakan bahwa terjadi permainan berimbang di atas.


"Fer...Lim... kalian hadapi nee cewek angkuh. Aku gak mau ketika dia luluh tenagaku terkuras. Aku ingin saat dia luluh, aku bisa menikmati keindahannya... haa haa ha"


Suara tawa Wisnu begitu memekakkan telinga.


Aqeela hanya bisa bergidik mendengarnya.


Aqeela sampai ngeri. Melihat Wisnu yang tidak mau menyerah.


"Frans tahan Doni disana. Biarkan dia menyaksikan, bagaimana kita menghabisi kakak iparnya ini dengan sadis." Kembali Suara tawa Wisnu terdengar sadis.


"Wis, gak akan aku biarin kamu menyentuh Aqeela..." Teriak Doni dari kursi dimana Frans mendudukkannya dengan kasar.


"Loe kalo pengen Aqeela selamat. Diem aja deh Lo... Nikmatin aja pemandangan indah di depan kita..." Kata Wisnu.


"Kamu sakit, Wis..." Teriak Doni.


"Feri, Halim....cepet kalian taklukan gadis itu..." Titah Wisnu tidak sabar.


Halim dan Feri mendekat ke aula utama.


Keduanya memandang Aqeela dengan tajam.


Sebagai lelaki, Feri harus mengakui kecantikan Aqeela yang begitu alami. Jakunnya bergerak menikmati makhluk cantik bernama Aqeela. Bukan hanya Wisnu, dirinya juga seakan ingin menerkam gadis tangguh di depannya ini.


Sedangkan Halim, sekilas memandang Aqeela. Ia mundur.


"Wis, maafin aku. Aku udah janji sama diriku sendiri gak akan menyakiti seorang perempuan bagaimanapun keadaannya. Fer, gantiin aku..." Halim tidak sanggup bertarung mengeroyok seorang perempuan hanya demi sebuah nafsu.


Halimpun memilih mundur, mendekati bangku tempat Doni di tahan.


"Kamu pengecut, Lim..." Teriak Wisnu geram, mendengar ucapan tidak masuk akal dari Halim.


"Apa kamu lupa, Aqeela bukan perempuan biasa...." Maki Wisnu. Tapi Halim mengacuhkan semua ucapan Wisnu.


"Bagiku dia tetap perempuan..." Oceh Halim tanpa menoleh ke arah Wisnu.


Ia terus melangkah mendekati Doni.


"Frans.. Juna... kalian berdua hadapi Aqeela bersama Feri..." Ucap Wisnu lantang masih dengan menahan sakitnya.


"Nee... awas loo jaga Doni baik-baik. Jangan di lepas. kalo gak ingin end.." Ancam Frans dengan emosi jiwa. Lima jarinya ia sejajarkan dengan leher lalu menariknya lurus ke samping mengisyaratkan maut.


Halim hanya tersenyum sarkas memandang sahabatnya itu. Dan mensejajarkan diri dengan Doni.


"Kenapa kamu gak mau ikut main sama mereka..." Ucap Doni.


"Aku gak sanggup kalo lawannya cewek." Jawab Halim


"Kamu sadarkan Aqeela bukan perempuan biasa..." Halim hanya mengangguk menjawab pertanyaan Doni.


"Sudahlah Don, kamu bertahan di sini. Jangan sampai.... " Halim tak melanjutkan kalimatnya. Ia melihat Doni yang begitu ingin menggantikan posisi Aqeela. Jadi Halim berusaha menahan diri.


Doni kembali terdiam, bukan menuruti Halim. Tapi pikirannya terpecah. Antara Aqeela dan bebas dari aula.


Di hadapan Aqeela sudah berdiri Feri, Juna dan Frans.


"Oh, jadi begini permainan kalian. Main keroyokan. Okaylah... aku hadapi kalian." Aqeela menatap tajam pada tiga lawannya secara bergantian.


Saat memandang Feri, sungguh tatapan Feri lebih menyeramkan daripada Wisnu. Aqeela sempat bergidik beberapa kali. Tapi segera ia tepis.

__ADS_1


Ketiganya sudah pasang kuda-kuda. Begitupun Aqeela.


Dan permainan ini bisa dikatakan seimbang dan bisa juga dikatakan tidak seimbang.


Seimbang karena Aqeela mampu menangkis, menyerang balik dan memblok ketiga lawannya.


Dikatakan tidak seimbang karena 3 laki-laki melawan 1 orang perempuan.


Cowok sadis mana coba yang sanggup melakukannya kalo bukan si Sinting Wisnu.


💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗


Kita tinggalkan sejenak permainan Aqeela dan Gengnya Wisnu.


Kita tengok kondisi di luar aula.


Vian dan Desta masuk melalui gedung A.


Sedangkan Ronald dan Wawan masuk melalui gedung D.


Sampai di gedung A Desta dan Vian berpencar. Desta bertahan di samping aula. Sedangkan Vian mengendap-endap ke pintu belakang.


Bersama Vian ada lima orang. Sedangkan bersaam Desta cukup dua orang.


Ronald dan Wawanpun demikian.Hanya saja mereka bertahan di gedung D bersama. Karena di depan aula tidak ada tempat aman untuk sembunyi.


Cukup Daffa dan Nabila yang di sana memantau dengan sempurna.


Pesan masuk dari Doni


**Aqeela masih bertahan.


Wisnu terus melancarkan serangannya


Aku gak tau Aqeela sanggup bertahan sampai kapan


Di dalam ada Wisnu, Feri, Halim, Juna dan Frans.


Kalian hati-hati


dan**


Hanya sampai di situ pesan yang dikirim Doni. Karena lama tak ada pesan masuk lagi...


Wawan : **Gimana sekarang


Vian : Main feeling


Ronald : Lanjutkan rencana


Desta : 😤😤😤**


Sebuah icon kemarahan....


Ronald memasukkan nomer Daffa ke dalam grup


Pesan grup


**Ronald : Fa, informasikan situasi aula


Daffa : Masih banyak penjaga


Daffa : Wait, penjagaan di pintu depan berkurang gaess... Dua orang masuk. Di depan tinggal delapan orang.

__ADS_1


Pintu belakang juga berkurang dua orang, jadi di belakang hanya sisa lima orang.


Wawan : Tengs ya Fa.. tolong jagain Nabila


Ronald, Vian, Desta : 😠😠😠


Wawan : Sory gaes... fokus..


Ronald : Situasi lebih kondusif, kalian sudah ready.


Wawan, Vian, Desta : 👍🏻👍🏻👍🏻


Ronald : Okay tepat pukul 16.40 bergerak**


Daffa menatap Nabila yang masih ketakutan.


"Bil, berdo'a saja. yakinlah Aqeela baik-baik saja." Hibur Daffa.


Nabila sedikit memberikan senyumnya.


"Tuh, udah cantik. Kata Kak Wawan aku di suruh jaga kamu.." Goda Daffa membuat pipi gadis itu bersemu merah.


💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗


Sementara abaikan aula...


Kita tengok Pos Satpam


"Rip, Urip Mas Desta kok suwe yooo? Biasane nek nyusul Mbak Aqeela iku mung sedhilok terus balik muleh... Lha iki kok sampak wayah ngene gak ono jebus e." Ucap Pak Soleh kepada Pak Urip sesama satpam di SMA Nusantara.


( Rip, Urip Mas Sesta kok lama ya? Biasane kalo jemput Mbak Aqeela hanya sebentar terus pulang )


"Lha piye too, mau pamit e opo nang awakmu?" Kata Pak Urip


( Lha tadi izinnya bagaimana ke kamu? )


" Yo ora pamit, mung arep nyusul Mbak Aqeela. ngunu ae.." Jawab Pak Sholeh.


( Ya tidak izin, hanya mau jemput Mbak Aqeela )


"Tapi kok aneh yo Leh, nang parkiran kok sik akeh sepeda karo mobil." Kata Pak Urip curiga.


( Tapi kok aneh ya Leh, di parkiram kok masih banyak sepeda dan mobil )


Pak Soleh menatap parkiran. Ia nampak seperti menghitung atau mengingat sesuatu.


"Rip, iku mobil e Mas Desta, sebelah e mobil e kancane Mas Desta. Lha sing Brio putih kuwi nggone Mas Doni. Sing ireng nggone Mas Wisnu. Lha sepeda motor iku sing sebelah e Mobil e Mas Desta jarene kancane Mas Doni


Lha sing kae rodo adoh iku nggone Mas Halim, Mas Juna, Mas Frans karo Mas Feri." Kata Pak Soleh mengabsen.


( Wuaah Pak Soleh nee satpam ngerangkep jukir kalee ya... Hafal sama kendaaraan murid SMA Nusantara. Beneran deh, satpam idaman banget ) 😀😀😀


( Rip, itu mobilnya Mas Desta. sebelahnya mobil temannya Mas Desta. Dan yang Brio putih itu punya Mas Doni. Yang hitam punya Mas Wisnu. Sepwda motor di sebelah mobil Mas Desta itu temannya Mas Doni. Dan yang agak jauh itu punya Mas Halim, Mas Juna, Mas Frans sama Mas Feri )


Pak Urip dan Pak Soleh saling berpandangan. Mereka sependapat.


"Ono sing gak beres iki..."


( Ada yang tidak beres ini...)


💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗


Masih dalam posisi game duel ...

__ADS_1


Next part ya....


__ADS_2