
"Pa.. pantesan anak kita tergila-gila sama Aqeela. Ternyata dia sangat cantik dan santun." Bisik Mama Wisnu kepada suaminya
"Hust.. Mama diem dulu deh.." Bisik Papa Wisnu. Dia ikut prihatin melihat Aqeela yang kesusahan untuk bisa duduk tegak.
"Maaf ya Om, Tante.. Qeela hanya bisa duduk sambil nyandar di bahu Kak Desta." Kata Aqeela ramah.
"Gak pa_pa kok Nak." Jawab Mama Wisnu sambil tersenyum menatap Aqeela tanpa berkedip.
"Aqeela, Om sama Tante minta maaf ya atas nama Wisnu. Tante sama Om juga berterima masih kalian memilih jalur damai.... " Kata Mama Wisnu tapi terhenti. Seakan ada yang mengganjal.
"Saya gak pa_pa kok Tante. Semoga anak tante bisa memetik pelajaran dari kejadian ini" Kata Aqeela lirih.
"Nak, maafkan Wisnu ya.. kamu jadi kesakitan kayak gini." Bisik Mama Wisnu yang langsung pindah ke sebelah Aqeela dan memeluknya.
"Iya.. Tante." Bisik Aqeela balas memeluk mama Wisnu. Desta dan yang lain hanya menonton drama di depannya tanpa berkedip.
Entahlah apa yang ada di otak masing-masing.
"Nak, kami ke sini bermaksud bertanggungjawab atas semua yang menimpa kalian. Mulai biaya rumah sakit, pengobatan dan lain-lain sampai sembuh." Kata Papa Wisnu menatap kurang suka kepada Aqeela yang sudah melepas pelukan istrinya.
"Terima kasih Om, atas kebaikannya tapi Keluarga kami masih mampu untuk mengobatkan saya." Kata Aqeela sambil menggenggam tangan suaminya. Karena ia yakin suaminya itu sedang dalam kondisi emosi mendengar penuturan Papa Wisnu yang seakan mengejeknya tidak bisa membiayai pengobatan Aqeela.
"Kami juga tidak meminta apapun atas keputusan damai kami. Ini semua atas nama kemanusiaan. Karena Kak Wisnu habis ini ujian. Pasti Om dan Tante sangat terluka kalo anaknya mengikuti ujian di lapas. Kami pun tidak ingin menghalangi cita-cita orang lain." Lanjut Aqeela kembali.
"Tapi, kami tidak ingin mempunyai hutang budi kepada kalian." Ucap Papa Wisnu ketus.
Aqeela menggenggam tangan Desta lebih erat. Mendengar suara gemerak gigi suaminya itu. Belum lagi hembusan napasnya yang tidak teratur.
"Kami tidak akan meminta hutang budi kepada Om dan Tante. Percayalah kami juga tulus." Aqeela masih bertahan dengan suara lembutnya.
"Nak, anggap saja kami juga orang tua kalian. Jadi kan kalo orang tua kami.juga bertanggungjawab kepada anaknya." Mama Wisnu ikut merayu Aqeela.
"Maaf Om, Tante.. Yang bertanggungjawab terhadap saya sekarang Kak Desta. Karena dia adalah suami saya." Kata Aqeela tegas.
Kedua orang tua Wisnu membelalakkan matanya memdengar Aqeela menyebut Desta suaminya.
"Iya Tante..Om.. Saya sudah bersuami. Karena itu permintaan saya, Kak Wisnu menjauhi saya. Cukup itu saja. " Pinta Aqeela.
"Tapi, nak..." Kata Papa Wisnu masih belum puas berargumen.
"Baiklah kalo Om memaksa. Sebentar. Bae, telpom dokter Dika atau dokter Bimo." Pinta Aqeela sambil mengganguk kepalanya.
Desta paham, segera ia mendial nomer dojter Dika yang tadi sempat ia save.
"Iya Mas?" Sapa suara di seberang.
"Dokter posisi dimana?" Tanya Desta.
"Di rumah." Jawab dokter Dika
"Yaa sudah deh, saya telpon dokter Bimo saja." Putus Desta.
"Ya sudah telpon Bimo saja. Biara nanti dia ngabari saya." Sahut dokter Dika tak mau kepo.
Desta mengakhiri panggilan dengan dokter Dika. Mencari kontak dokter Bimo.
__ADS_1
"Dokter Bimo?" Sapa Desta
"Iya, Mas?" Jawab Dokter Bimo
"Dok, maaf apa bisa ke ruang rawat Aqeela sekarang?" Pinta Desta
"Bisa, kebetulan sudah selesai kunjungan." Kata dokter Bimo.
Desta mengakhiri panggilannya.
"Tunggu ya, sebentar lagi dokter Bimo ke sini." Kata Desta dengan lembut.
"Makasi ya Bae.." Balas Aqeela dengan senyum khasnya.
Desta mengangguk membetulkan kembali posisi duduk Aqeela.
"Mas Desta.." Dokter Bimo masuk.
"Dokter..." Desta meminta dokter Bimo bergabung dengan dirinya dan tamunya.
"Dokter maaf ya.. nyuruh dokter Bimo datang ke sini." Ucap Aqeela.
"Gak pa_pa Mbak, kalo Mbak Aqeela atau Mas Desta yang nyari saya malah repot." Jawab dokter Bimo.
"Dokter.." Panggil Aqeela.
"Iya Mbak..." Sahut dokter Bimo
"Tadi kan dokter Bimo nyari donatur buat anak-anak kurang mampu. Ini loo ada calon donatur." Kata Aqeela sambil memperkenalkan orang tua Wisnu.
Dokter Bimo menatap Aqeela dan Desta bergantian. Kemudian beralih ke pasangan suami istri di depannya.
"Bener, Pak Bu mau jadi donatur rumah sakit kami?" Tanya dokter Bimo meyakinkan dirinya dan kedua orang di depannya..
Mama dan Papa Wisnu saling bertatapan. Seakan salimg meminta pendapat.
"Gimana Om?" Ulang Aqeela.
"Ada yang lebih butuh bantuan dari Om dan Tante." Ucap Aqeela yang mampu membuat kedua orang tua Wisnu speechless.
Mama dan Papa Wisnu ingin sekali menolak permintaan Aqeela menjadi donatur. Tapi gengsi. Untuk membiayai pengobatan Aqeela saja tadi mereka maksa, eh begitu diminta jadi donatur malah nolak.
"Gimana Ma?" Bisik Papa Wisnu.
"Ya, gimana lagi Pa.. Kita terjebak gengsi kita sendiri. Nee anak memang luar biasa. Malah nyuruh kita jadi donatur. Papa sih pake maksa." Oceh Mama Wisnu dengan berbisik.
Papa Wisnu menarik napas panjang.
Aqeela , Desta dan dokter Bimo cemas masih menunggu jawaban Orang tua Wisnu.
"Baiklah... saya bersedia jadi donatur." Kata Papa Wisnu.
"Alhamdulillah.." Ucap Ketiganya kompak.
Dokter Bimo menatap Desta dan Aqeela bingung.
__ADS_1
Ting.. ponsel dokter Bimo berbunyi.
Dokter Bimo membaca pesan wasapp yang masuk.
" Loo mas Desta." Gumam dokter Bimo dalam hati.
Dokter ndak usah bengong dan bingung nanti saya ceritakan detailnya.
Dokter Bimo tersenyum menutup ponselnya tanpa perlu membalas.
Dalam hati dokter Bimo ingin tertawa ngakak sekencang-kencang, "Pasti dua bocah ini habis ngerjain bapak sama ibu ini. Hadeeh..." Batin dokter Bimo.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Setelah orang tua Wisnu pulang.
Dokter Bimo kembali ke kamar Aqeela. Dia tidak peduli semua teman Desta sedang berkumpul.
"Hai...kalian.." Ucap dokter Bimo sambil menjewer telinga Desta.
"Awwwwhh....sakit dok.." Teriak Desta
"Sumpah yaa.. kalian ini bener-bener. Ngerjain orang tua sampai segitunya." Dokter Bimo mengomel dengan nada marah.
Auto semua yang di ruangan tertawa ngakak.
"Ya... biarin saja dok.." Kata Desta cuek sambil menggosok-gosok telinganya yang sakit karena jeweran dokter Bimo.
"Sapa suruh maksa Aqeela nerima uang. Memangnya dia kira, hanya dia orang kaya di dunia ini. Nyebelin tau." Oceh Desta.
"Betulll..." Sahut Teman-teman Desta dengan nada khas padus.
Dokter Bimo sampai hampir galfok gitu. Untung segera sadar.
"Terus ide siapa yang nyuruh jadi donatur tadi." dokter Bimo masih dalam mode marah.
"Aqeela.." Kompak seisi ruangan menatap Aqeela.
"Baguuss.. yaa.. kalian kenapa siih bisa kompak begini." dokter Bimo menatap takjub pasangan itu.
"Ya.. dokter Bimo gak usah kaget gitu napa. Mereka sih kompak dimana saja." Jawab Wawan menggoda Desta dan Aqeela.
Yang tentu membuat yang lain ikut tertawa.
"Dokter Bimo, ini Yuda..."
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Emang enak dikerjain.
Makanya jadi orang jangan sok...
uweek..
see youq next part ya..
__ADS_1
Terus kunjungi princess of mojopahit dan istri tetangga yaa..