
Penampilan teman-teman Aqeelapun tak luput dari pandangan ibu-ibu.
Ketika pembacaan Mahallul Qiyam, yang mengiri acara cukur rambut bayi. Oleh Orang tua, kerabat dan Aqeela tentunya sebagai tamu kehormatan.
Dan Vokalis dipindahkan ke Ronald. Semalam ia sudah di gembleng habis-gabisa sama Aqeela.
Berkali-kali Aqeela mencium pipi debay dengan antusia. Desta yang melihat momen tersebut dengan segera mengabadikan dengan kamera ponsel pribadinya.
Aqeela terlihat imut di keliling ibu-ibu. Terkadang ia mempersilahkan ibu-ibu lainnya yang sekedar ingin memegang sang bayi.
Atas inisiatif Aqeela, debay di keliling ke undangan dengan di gendong sang Bunda.
Bayi laki-laki yang tertidur pulas itu, sesekali menggeliat karena colekan ibu-ibu yang gemas. Beberapa juga mendo'akan.
❤❤❤❤💖💖💖💖💖❤❤❤❤
Di rumah Aqeela...
Setelah acara Aqiqah...
Semua duduk kesehatan di ruang tamu Aqeela. Ditengah-tengah mereka terpampang kardus nasi dan bingkisan yang tidak sedikit belum lagi amplop coklat yang berisi uang sejumlah satu juta rupiah dari Bu Hani.
Semua mata menatap ke area tengah, kecuali Aqila, Desta dan Rian yang sudah terbiasa dengan pemandangan tersebut.
"Des... Desta... " Panggil Wawan
"Kenapa Waan?" Jawab Desta sambil memandang ke arah Wawan.
__ADS_1
"Pantesan ya... kamu tambah tajir..." Semua mata memandang aneh ke arah Wawan.
"Pasti duit kamu gak pernah dipakai Aqeela belanja. Tiap hari kamu pasti sering dikirimin beginian..." Lanjut Wawan sambil menunjuk ke area tengah ( barang-barang dari Bu Hani, maksudnya ).
Mendengar kalimat Wawan yang terdengar antara sedih, meledak dan iri semua penghuni ruangan tertawa lebar kecuali Wawan. Ia masih memandang tak percaya dengan hasil yang diterima kali ini.
Karena Wawan masih beranggapan bahwa penampilan mereka di rumah Bu Hani hanya untuk hiburan saja. Tanpa ada tujuan menerima imbalan dan sebagainya.
Ternyata semua itu di luar dugaannya. Bu Hani memberi yang banyak dan sangat berlebih bagi mereka.
"Kak... Kak Wawan ini kenapa sih?" Tanya Aqeela masih dengan sisa tawanya.
"Kampret kamu ya.. kirain kenapa? Ternyata cuma mau ngomongin duit belanja Aqeela. Memang kalo utuh kenapa? Aqeela dan aku ndak pernah meminta. Jadi, ya ini yang namanya rizky. Terima saja." Oceh Desta.
"Don, aku kasihan deh sama kamu.Kamu pasti tiap hari dikasih mereka makan nasi hasil panggilan Aqeela ya..." Kali ini Wawan beralih ke arah Doni.
"Enggak juga. Aqeela tiap hari masih masak." Kata Doni santuy.
"Wah, nee anak bela Desta kayak nya." Ledek Wawan
"haa haa.. woles men..." Sahut Vian
"Nee duit mau diapain?" Sambung Ronald.
"Terserah kalian. Itu sudah hak milik kalian. Aku udah di kasi sendiri sama Bu Hani." Kata Aqeela.
"Waaah... curang... " Kata Wawan lagi dengan nada pura-pura marah.
__ADS_1
Desta yang mendengar ocehan teman-temanya hanya bisa meringis.
"Kita bagi..." Kata Wawan
"Kita simpan..." Kata Doni
"Ngapain di simpan Don?" Sahut Nabila cepat.
"Ya... buat beli kostum. Sapa tau ntar kita ada yang manggil lagi... Biar gak kayak tadi. Liat kita pake kostum gak jelas gini." Jawab Doni.
"Wah, ide bagus tuuh.." Ucap Ronald.
"Eh, kok kamu bisa bilang begitu? Yakin ada yang suka sama permainan kita..." Gimana Wawan
"Tau laah... aku denger tadi ada yang pengen pengajian di rumahnya terus ada baca sholawat kayak tadi." Jelas Doni sambil merebahkan diri ke karpet.
"Aku merem bentar ya... ngantuk..." Dan jleb, semenit suara Doni terlelap dengan nyaman.
"Nee anak ya... cepet banget molornya." Oke Wawan.
"Wan, tau gak kamu sekarang cerewet banget siih... Bil, kamu betah banget sama Wawan." Ledek Ronald.
"Ya udah... terus... nee duit mau dipake apa???" Kata Vian.
Dan semua memandang ke arah Vian.
Weeeekkk..... sambil melet...
__ADS_1