
"Daddy....!" Teriak Desta mendapati Daddynya udah duduk manis di depannya.
"Kenapa tuh muka, ditekuk kayak gitu. Sampai gak liat Daddy masuk kan." Kata Daddy menatap Desta yang sibuk dengan lamunananya.
Desta hanya tersenyum kaku melihat Daddynya.
"Ayah, barusan meminta Desta menggantikan posisinya." Curhat Desta ke Daddy.
"Terus dimana masalahnya." Tanya Daddy.
"Dad... ngurusin perusahaan daddy aja udah bikin Desta kewalahan. Ini harus ngurusin dua perusahaan. Bisa-bisa Desta gak pulang. Kasiyan banget istri aku, Daddy..." Desta masih panik.
"Anak Daddy, kenapa siih kok bingung gitu. Tinggal cari asissten pribadi, napa?" Usul Daddy.
Tok... tok.. tok..
( Terdengar suara pintu di ketuk dari luar )
Pak Seno masuk sambil membawa setumpuk berkas untuk Desta.
"Lhoo Pak Wijaya..." Sapa Pak Seno.
"Hai... gimana kabar kamu?" Tanya Daddy.
"Baik, Pak."
"Sini Sen. Ada yang mau aku bicarakan." Pak Wijaya mengajak Pak Seno duduk di sebelahnya.
"Ada apa Pak?" Tanya Pak Wijaya setelah duduk.
"Buat lowongan pekerjaan untuk asisten pribadi presdir kamu ini." Kata Daddy sambil nunjuk Desta.
"Dia bakal gantiin mertuanya di perusahaan Pak Syarief." Kata Daddy lagi.
"Oowwhh... baik Pak akan saya laksanakan. Mas Desta ada kriteria khusus?" Tanya Pak Seno.
"Enggak ada, Pak." Kata Desta masih bimbang.
"Ya sudah kalo begitu saya akan keluar. Silahkan kalian berbincang." Pak Seno pamit keluar.
"Gimana keadaan calon cucu-cucu Daddy?" Tanya Daddy begitu Pak Seno menghilang dari ruangan Desta.
"Mereka masih kecil Dad... "
"Haa haa ha.. maksud Daddy mereka ngerepotin mamanya enggak?" Tanya Daddy.
"Kayaknya siih enggak sama sekali. Yang repot mah Desta." Gumam Desta sambil menhembuskan napas kasar mengingaat betapa seringnya Aqeela mengisenginya.
"Emang kamu diapaain sama Aqeela." Tanya Daddy kepo.
"Tiap hari tuuh, yang diminta makanan warna warni melulu. Terus yang dimakan cuman tiga biji. Pusing gak, Dad. Udah nyarinya susah. Terus gak dihabisin."
"Haahaa haa.. Wajarlah kayak gitu. Dulu pas Mommy hamil kamu juga kayak gitu. Kamu harus ikhlas. Ingat yang di dalam perut Aqeela itu anak kamu juga." Nasehat Daddy terlepas dari suara tawanya.
"Kamu harus siap jadi suami siaga." Bisik Daddy.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Aqeela dan Adinda hari ini berada di kampus, mengurus administrasi mahasiswanya. Mereka berdua mengantri di bank.
"Ini Qee... kamu isi. Biar aku nanti yang ngantri." Kata Adinda.
"Nanti kamu capek." jawab Aqeela.
"Enggak. Nanti kalo kamu yang capek, aku yang susah.Kita gak bisa pulang. " Omel Adinda, yang tadi memang berangkat berdua dengan Aqeela dengan mobil yang dikemudikan si Bumil.
"Haa haa haa... Bisa aja kamu tuuh yaa.." Suara tawa Aqeela sekilas membuat Adinda tersenyum.
Setelah menuliskan jumlah nominal yang diakan dibayarkan, Aqeela memberikan sejumlah uang kepada Adinda untuk pembayarannya.
Sambil menunggu Adinda, Aqeela menghubungi Desta.
"Lagi apa, Bae?"
"Mau interview."
"Buat?"
"Asisten pribadi."
"What..."
__ADS_1
Aqeela menyudahi chatingannya dengan Desta. Ia segera mencari nomer kontak seseorang.
"Haloo.. Don, kamu dimana?"
"Dikampus Qee, kenapa?"
"Udah kelar belum urusan kamu?"
"Udah."
"Don, anter aku ke kantor suami aku. Aku tunggu di restonya Vian ya..." Pinta Aqeela.
"Ada Kak Mita, gak?"
"Gak ada..."
"Ya udah aku tungguin."
💗💗💗💗💗💗💗💗
Setelah Aqeela dan Adinda menyelesaikan urusannya. Aqeela segera meluncur ke resto H&N milik Vian.
"Kok ke sini, Qee?" Tanya Adinda curiga begitu mereka masuk resto.
"Udah nurut aja." Bisik Aqeela.
"Wuiih... tamu spesial nee..." Ucap Vian begitu melihat kehadiran Aqeela dan Adinda ke restonya.
"Vi, aku nitip Adinda sama mobil ya..." Ucap Aqeela to the poin begitu mereka bertiga duduk di kursi resto Vian.
"Maksud kamu apaan Qee...?" Adinda langsung nyahut.
"Aku ada urusan ke kantor suamiku sama Doni. Kamu di sini aja. Mau ngapaian juga kamu bisa. Kalo laper kl haus tinggal ngomong ntar aku yang bayar. Kl mau pulang. Vian anterin dia ya.. pake mobil aku aja. Aku lebih tenang kamu di sini. Daripada ke rumah teman-teman yang gak jelas. Maaf ya Din, resto Vian lebih deket soalnya daripada pulang ke rumah." Jelas Aqeela.
"Emang ada urusan apa ke kantor Desta sama Doni?" Tanya Vian.
"Gak usah banyak kepo. Udah layanin tuan putri ini saja." Balas Aqeela sambil melirik Adinda.
"Din, kamu udah gak takut sama Vian kan?"
Adinda hanya menggeleng pasrah.
"Tuh Doni udah dateng. Aku langsung cabut ya..." Pamit Aqeela.
"Vian, nee kontak mobil aku." Aqeela melempar kontaknya kepada Vian. Vian langsung menangkap dengan sigap.
"Aku tinggal ya... Yuuk Don." Ajak Aqeela.
,💗💗💗💗💗💗💗💗
Sampai di kantor. Aqeela dan Doni langsung masuk ruangan yang digunakan interview.
"Beb, kamu kok ke sini?" Tanya Desta heran.
"Aku mau lihat asisten pribadi pilihan suamiku." Jawab Aqeela sambil duduk di sebelah Desta.
Aqeela memperhatikan setiap wajah yang masuk ke dalam ruang interview satu per satu.
Ada cowok gagah, tapi begitu ditanya Aqeela.
"Sholat loe gimana?"
"Aku gak sholat, Mbak."
"Hadeeh.. Bae, aku gak setuju kalo asisten kamu kayak dia."
Akhirnya gugurlah dia.
Masuk lagi seorang perempuan. Cantik. Berusia sekitar dua puluh limaan. Berbaju seksi. Nampak begitu menggoda.
"Fera." Desta membaca CV wanita tersebut.
"Iya, Mas." Balas Fera dengan suara genit.
"Kamu sudah menikah?" Tanya Desta.
"Belum." Jawab Fera sambil melirik ke arah Desta.
Aqeela yang memperhatikan sejak tadi, jadi ikut gemas.
"Fera, dia sudah menikah." Kata Aqeela dengan jutek. Membuat Fera terkejut setengah hidup.
__ADS_1
"Se-muda dia udah kawin. Sayang banget." Komen Fera yang akhirnya menggugurkan kesempatannya jadi asisten pribadi Desta.
"Beb, kamu tuh gimana sih. Masa cari asisiten pribadi sembarangan." Omel Aqeela setelah menggugurkan semua pelamar asisten pribadi Desta.
"Carilah asisten yang berstandart tinggi. Ingat Bae, perusahaan Daddy dan Ayah bukan perusahaan biasa. Mereka berjuang dengan keras memajukan perusahaannya." Desta masih terdiam memdengar omelan Aqeela.
Sedangkan Pak Seno yang ada di sebelah Desta hanya membenarkan ucapan istri Preedirnya itu.
"Kalo kamu mau dan bersedia, aku sudah siapkan satu nama. Aku yakin kamu akan lebih tenang jika bekerja dengan dia." Kata Aqeela menenangkan Desta dari kegalauannya.
Desta menatap istrinya tak percaya.
"Siapa dia?" Tanya Desta.
"Doni." Jawab Aqeela singkat.
Doni yang masih ada di ruangan tersebut nampak bagitu terperanjat mendengar namany disebut.
Begitupun Desta dan Pak Seno.
"Apa, Qee?" Teriak Doni.
Desta dan Pak Seno saling berpandangan.
"Aku sih terserah kamu Bae. Mau diterima syukur gak diterima aku paksa." Ucap Aqeela setengah maksa.
"Sekarang kalian berdua bicaralah baik-baik. Selesaikan dengan cara yang indah enaknya bagaimana? " Lanjut Aqeela.
"Aku akan keluar dari sini. Kata orang siih, jika ada dua orang, berdua-an maka ketiganya adalah setan. Dan aku tidak mau jadi setan diantara kalian berdua." Ledek Aqeela sambil setengah menggoda suaminya.
"Dadaaah.... aku tunggu diluar ya Bae. Pak Seno mau jadi setan di sini?" Ajak Aqeela ke Pak Seno dengan gaya centilnya. Seperti anak ke bapaknya.
Membuat Pak Seno terkekeh, mengikuti Aqeela keluar ruangan.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
"Don.."
"Ta.."
Panggil keduanya bareng. Membuat keduanya tersenyum.
"Kamu duluan deh Ta.." Kata Doni.
"Kita kayak orang baru kenal aja yaa... Yang malu-malu kucing mau dinikahkan. Wkwkkkk..." Kata Desta terkekeh.
Doni ikut terkekeh mendengar candaan Desta.
"Garing banget." Balas Doni.
"Kamu bersedia jadi asisten pribadiku?" Tanya Desta
"Aku gak akan pernah bisa menolak." Kata Doni.
"Ta, kata-kata kamu persis kayak cowok ngajak merried pacarnya, haa haa haaa...." Ledek Doni.
Membuat Desta langsung memukul bahu Doni.
"Kampret..."
"Gak usah sok formal di depan aku."
"Di kantor panggil Bapak, Pret.."
"Siap, Pak."
"Haa haa haaa...." Suara tawa keduanya terdengar begitu keras.
"Istri aku memang the best ya Don." Puji Desta setelah teda tawanya.
"Emang kamu beneran gak sreg ama pelamar-pelamar tadi?" Doni kepo.
"Enggak..."
"Aqeela tahu, aku lebih sreg kerja sama kamu." Jawab Desta lega.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Gengs.. mampir yaa ke Princess of Mojopahit dan Istri Tetangga
ramaikan juga yang di sana.
__ADS_1