
Lima menit setelah motor Wawan dan Nabila berlalu, sebuah Brio putih berhenti tepat di hadapan Doni dan Hasna.
"Hai, Sayang.." Sapa Doni sambil mengecup kening Mita.
Hasna hanya melongo melihat pemandangan romantis di depannya.
"Gak tau malu." Bantin Hasna
"Ada anak kecil too... Siapa dia sayang?" Tanya Mita dengan manja mengamit lengan Doni.
"Hasna.." Jawab Doni singkat.
"Oowwhh... Hasna yang waktu itu.." Mita terkekeh mendengar Doni menyebut nama Hasna.
"Emang siapa aku?" Gumam Hasna kembali dalam hati.
"Kok aku kayak orang blo'on gini yaa.. Mereka seperti tahu aku. Hanya aku yang tidak tahu mereka." Gerutu Hasna masih dalam hati
"Hai.. anak kecil. Aku Mita. Tunangannya Doni." Mita memperkenalkan dirinya kepada Hasna. Hasna mengulurkan tangan tanpa menyebut nama, karena ia yakin cewek di samping Doni udah tahu dirinya mendengar bagaimana ia tertawa saat Doni menyebut namanya. Mita menyambut uluran tangan Hasna dengan senyuman yang khas.
"Kita ke MM sekarang." Titah Doni.
"Ada apa?" Mita terperanjat mendengar Doni menyebut nama sebuah rumah sakit.
"Aqeela dibawa ke sana sama Desta." Jawab Doni, Mita menghembuskan napas kasar mendengar dua nama yang disebut kekasihnya itu.
"Mereka kenapa lagi, Yang?" Tanya Mita.
"Aku ceritakan di mobil. Eh, anak kecil kamu ikut kita. Duduk di belakang." Titah Doni.
Doni membuka pintu untuk Mita, mendudukkan dengan lembut kekasihnya itu. Sedangkan Hasna dengan wajah cemberutnya menuruti perintah Doni.
Setelah dijok kemudi, Doni segera me mnstater Brionya, menginjak gas dan menarik persneling.
Brum..
"Has, bisa kamu ceritakan kronologi Aqeela tadi?" Tanya Doni sambil mengemudi. Sebelum Mita kembali menanyakan kronologi Aqeela.
"Aku tidak tahu Mas Don..... Aku tuh tadi baru keluar dari toilet terus ngeliat Mbak Aqeela lagi kesakitan dipegangin sama Mbak Nabila. Itu aja." Cerita Hasna dengan suara super sewotnya.
"Aku juga tidak tahu persis apa yang terjadi sama mereka, Yang." Kata Doni mengusap pucuk kepala Mita.
"Aishh... sungguh ya.. mataku dari tadi ternoda dengan adegan kalian." Omel Hasna dengan kencang.
"Hei anak kecil diem gak?" Ancam Doni.
Hasna kembali terdiam.
"Don, kasiyan kan dia takut." Kata Mita.
"Anak kayak dia mah, gak ada takutnya." Balas Doni sambil mengenggam tangan Mita.
"Hmm.. jadi Mbak ini yaa yang waktu itu disebut sama Mbak Aqeela?" Gumam Hasna dalam hati saat melihat jas putih bertuliskan Mita dengan logo Unair tersampir di jok kemudi yang sedang diduduki Doni.
"Yang dibilang dokter itu. Cantik juga sih. Tapi Kok mau ya sama Brondong kayak Mas Doni." Masih aja nee anak membatin. ( Lama-lama punya ilmu kebatinan loo Dek, nanti ha haaha )
"Dek, kamu beneran suka sama Doni?" Tanya Mita blak-blakan melihat Hasna terdiam tak bersuara.
__ADS_1
"Ogaah.. Malas banget suka sama cowok dodol kayak dia... " Oceh Hasna spontan yang disambut tawa oleh Mita.
"Anak kecil bisa diem, gak?" Doni yang kini sewot mendengar Hasna menyebutnya dodol sekali lagi.
"Udah ah, ngalah napa sama anak kecil." Mita menenangkan Doni dengan mengusap bahunya. Dan menyandarkan kepalanya dibahu Doni.
Doni hanya melenguh, menarik napas dalam menguasai emosi. Apalagi setelah Uprak olahraga, rasanya badan remuk. Donipun paham kekasihnya itu sangat letih setelah seharian di kampus. Sehingga ia membiarkan menjadi sandaran keletihan Mitanya.
"Lhoo kok manggilnya gak pake panggilan Mas, Kakak, abang atau apa gitu. Ini mereka malah manggil nama masing-masing." Haduuh masih kepo aja tuuh si Hasna, dengan bahasa kebatinannya.
Ketiganya terdiam dalam pikiran masing-masing.
Brio Doni berhenti di pelataran parkir Rumkit MM.
Doni, Mita dan Hasna keluar dari si Brio. Hasna mengekor Doni dan Mita karena sampai saat inipun ia tidak pernah tahu apa tujuan Doni membawanya ke Rumkit MM.
Sampai di depan UGD sudah ada Wawan dan Nabila di sana.
"Gimana Aqeela?" Tanya Doni
"Masih ditangani dikter Dika." Jawab Wawan
"Desta?"
"Kayak gak kenal dia aja. Auto masuk ke dalamlah. Mana bole orang lain nyentuh miliknya selain dia." Oceh Wawan yang hanya di sambut cengiran oleh Doni.
"Kita duduk di sana yuuk..." Ajak Doni menunjuk sebuah kursi tunggu yang kosong.
Tanpa diperintah Mita, Wawan, Nabila dan Hasna segera menuju kursi tersebut.
"Kak Doni...." Sebuah suara memanggilnya. Membuat Doni mencari sumber suara.
Ayah dan Ibu Aqeela malah mengikuti Doni duduk di ruang tunggu.
"Yulian..." Sapa Doni sambil memangku Yulian.
"Nah kok ada anak kecil?" Hasna masih dengan mode kebatinan.
"Haloo Kak Mita.., Kak Wawan .. , Kak Nabila.. eh ini siapa Kak?" Tanya Yulian kepo karena merasa baru pertama melihat sosok Hasna.
"Oh.. itu Kak Hasna. Kakak itu tadi yang bantuin Kakak Aqeela dan Kakak Nabila waktu di kamar mandi." Kata Doni memberi penjelasan kepada Yulian.
"Ooh.. makasii yaa Kakak Hasna udah bantuin kakak cantik aku..." Kata Yulian dengan senyum imutnya membuat siapapun akan mneyukainya.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Akhirnya Aqeela di pindahkan ke kamarnya yang dulu di 204.
Aqeela hanya bisa pasrah mendapat teguran keras dari dokter Dika.
Flashback on
"Qee, udah aku ingatkan berkali-kali. Sementara jangan di pakai gerakan yang ekstrim. Lha ini kamu malah roll depan roll belakang. Kalo sudah begini siapa yang susah." Omel Dokter Dika di depan Desta.
"Tapi aku kan ujian, Dok."
"Kenapa gak minta surat keterangan dari aku siih..." Dokter Dika masih menyesalkan aktifitas yang dilakukan Aqeela.
__ADS_1
Walaupun kejadian itu sudah setahun yang lalu. Tapi luka bagian atasnya belum sembuh seratus persen. Sedangkan yang bagian bawah sudah sembuh total karena hanya seoerti sebuah goresan.
"Mas Desta juga kenapa, Aqeela diizinkan ikut uprak olahraga." Dokter Dika ikut menegur Desta.
"Maaf Dok, saya juga ndak kepikiran sampai roll depan belakang begitu." Sanggah Desta.
" Ya sudah Aqeela biar di rawat dulu di sini." Putus dokter Dika tanpa bisa dibantah
Flashback off
Hasna masih terpukau betapa Kakak kelasnya dikelilingi orang-orang yang care.
Doni mendekati Hasna yang sedang melamun sendiri di depan ruang tunggu kamar rawat Aqeela.
"Has..."
"Eh.. iya Mas Don..." Hasna menegakkan punggungnya.
"Elo tau gak. Kenapa Aqeela bisa terluka kayak gitu?" Tanya Doni sambil menghela napas panjang seolah dia akan mengatakan sesuatu yang penting kepada Hasna.
"Gak tau, Mas.."
"Kamu ingat cowok yang menggendong Aqeela di kamar mandi?"
"Iya"
"Dia suami Aqeela."
"Whaaaat???" Hasna terbelalak tak percaya.
"Mereka menikah waktu Aqeela masih di kelas sepuluh, Desta kelas dua belas."
Hasna menatap Doni seolah tidak ingin mempercayai ucapan cowok itu.
"Luka itu ada, karena Aqeela ingin mempertahankan Desta menjadi suaminya. Karena teror seorang lelaki pengecut. Kami yang di sini adalah saksi kesakitan Aqeela dan Desta. Karena itu kami berusaha supaya saat ini Aqeela aman. Karena kondisi tubuhnya rapuh. Asala kamu tahu Aqeela itu atlet karate. Jadi tidak bisa di anggap remeh." Tegas Doni.
Hasna masih terdiam mencerna kalimat Doni.
"Jadi, kamu tahu maksud kami nyandera kamu kan. Kami mohon jangan sampai luka Aqeela terdengar siapapun. Cukup katakan Aqeela kecapekan jika ada yang bertanya. Kamu paham kan!" Doni menatap Hasna tajam.
"Iya Kak, aku paham kok..." Suara Hasna terdengar sendu.
"Don.. lagi ngapain kalian.. lhoo eeh.. siapa anak kecil ini?" Sapa seorang pemuda ganteng lain yang tiba-tiba udah nongol di depan mereka.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Nah.. yoo siapa kira-kira tuh cowok yaa...
Like
komen
Vote
Rate
aku tungguin yaaa...
__ADS_1
love you
😘😘😘😘