MENDADAK USTADZAH

MENDADAK USTADZAH
Ustadz dan Ustadzah


__ADS_3

Mommy, Daddy, Ibu, Ayah, Desta dan Aqeela berkumpul di ruang tamu rumah Bapak Syarief.


Jarum jam masih menunjukkan pukul 7.20, belum terlalu malam. Namun sempat membuat beberapa agenda tertunda.


Wajah mereka nampak tegang dan bingung satu sama lain.


"Ini sebenarnya ada apa?" Tanya Ayah, tentunya pertanyaan ini ditujukan kepada Aqeela dan Desta.


Keduanya masih terdiam, belum ada yang menjawab.


"Desta..., Aqeela? Adakah diantara kalian berdua yang bisa menjelaskan kepada kami?" Ulang Tuan Wijaya.


Aqeela dan Desta saling berpandangan. Karena keduanyapun sebenarnya belum ada kesepakatan apapun.


"Kenapa tiba-tiba kamu mau beli rumah yang di barat sana? Meski kami tahu uang yang kamu gunakan itu uang kamu sendiri." Terang Tuan Wijaya.


Aqeela terkaget-kaget mendengar ucapan ayah mertuanya. Tapi tidak dengan kedua orang tuanya. Atau mungkin hanya dirinya saja yang tidak tahu.


Aqeela beralih, memandang suaminya lekat-lekat. Seoalah meminta jawaban atas pertanyaan mertuanya tadi.


"Begini Daddy, Ayah... Desta mohon maaf sebelumnya. Desta tidak bermaksud apapun. Kalau untuk rumah yang ingin Desta beli, itu semata-mata hanya untuk Aqeela." Kata Desta tegas.


"Tadi sore, ketika banyak orang tua dan anak kecil yang ke sini, Desta ikut mikir. Mereka meminta Aqeela mengajar ngaji dan karate untuk anak-anaknya sedangkan ruangan yang di sini tidak cukup untuk anak sebanyak tadi. Belum lagi kalo pas latihan karate harusnya ada ruangan khusus, walaupun hanya halaman atau apalah begitu. Karena itu, Desta akan membeli rumah di barat itu yang kebetulan dijual serta memiliki halaman yang lumayan." Desta berhenti sejenak.


"Apa Desta, salah ?" Ucap Desta mengakhiri Kalimatnya


Flashback sore tadi


Setelah mendengar permintaan ibu-ibu tadi, Aqeela berpikir sejenak.


" Saya bersedia, Tan..." Ucap Aqeela


"Alhamdulillah...." Seru ibu-ibu komplek kompak.


"Tapi...." Sahut Aqeela ragu.


"Tapi kenapa Qee?" Ibu-ibu mulai cemas....

__ADS_1


"Tapi, Aqeela bisanya hanya sore hari. Dan ibu-ibu juga adik-adik harus mau bekerjasama apapun kebijakan Aqeela nanti. " Seru Aqeela.


Mendengar ucapan Aqeela ibu-ibu nampak lega, karena mereka pada khawatir tentang syarat yang tidak masuk akal.


"Syukurlah kalau hanya begitu. Kebetulan anak-anak kami juga pulang sekolahnya siang." Kata Bu RT mewakili yang lain.


"Jadi, bisa kita mulai kapan?" Tanya Mama Amar.


"Lusa ya, Tan... Karena saya juga perlu menyiapkan tempat. Oh ya.. lagi kegiatan mengajinya hanya senin sampai jum'at ya Tan... hari jum'at bisa kita manfaatkan untuk latihan karatenya. Karena hari sabtu dan Minggu ada kelas kajian di sini." Kata Aqeela seakan ingat kalo hari Sabtu Minggu ada kelas kajian dirumahnya.


Ibu-ibu saling berpandangan.


"Jadi, pas sore-sore di sini banyak remaja pakai kerudung itu mereka pada ngaji juga?" Tanya ibu yang lain.


"Iya Tan..." Jawab Aqeela sambil mengangguk.


"Bu Syarief kenapa tidak cerita ke kita-kita kalo mereka kajian." Lanjut ibu tadi.


"Iya Bu Syarief, kami minta maaf ya Bu Syarief dan Aqeela kami mengira kalian itu sedang melakukan hajatan tapi tidak pernah mengundang warga sekitar." Ucap ibu yang gendut, di sambut kekagetan antara ibu dan Aqeela.


"Eh, tapi kita juga mau lhoo nak Aqeela dibuatkan kelas mengaji emak-emak gak perlu sering-sering seminggu 2 kali atau 3 kali saja cukup. Yaa.. maklumlah kita juga repot di rumah." Kata ibu yang berbaju bahan minim.


Aqeela dibuat melongo dengan ucapan ibu itu yang diamini ibu-ibu yang lain.


"Kalo itu saya diskusikan dengan suami, Ibu dan ayah saya ya, Tan. " Ucap Aqeela.


"Lhoo kapan nikahnya?" Tanya ibu berbaju minim tadi.


"Udah dua bulan yang lalu ya Bu Syarief." Kata Bu RT yanh kebetulan waktu acara ijaban kemarin diundang.


"Kok udah nikah, suaminya pasti yang juga pake seragam tadi ya?" Tanya ibu lain kepo.


"Iya Tante. Tante mau kenapa sama suami saya?" Tanya balik Aqeela.


"Bole... Supaya nanti ndak kaget kalo melihat saya jalan berdua. Ntar yang ada saya dikira pacaran gak jelas lagi." Kata Aqeela dengan senyum kecil.


"Sebentar ya Bu, saya panggilkan dulu." Kata Aqeela sambil masuk ke dalam sebentar.

__ADS_1


"Nah, ini Bu suami saya. Namanya Desta..." ucap Aqeela keluar bersama Desta.


"Wah, ganteng banget.. tadi saya hanya lihat sekilas ternyata baru tahu kalau ganteng banget. Kita, panggil siapa?" Potong ibu yang kepo tadi.


"Panggil Desta saja, Tan." Jawab Desta


"Wah.., ndak bisa begitu. Nanti anak-anak pasti ikutan manggil Desta." Kata Mama Ammar.


"Kita panggil Ustadz saja... Ustadz Desta kalo Aqeela yaa... Ustadzah Aqeela." Kata Bu RT, dan langsung disetujui yang lain.


" Nanti Ustadz ikut bantuin Ustadzah mengajar mengaji kan?" Tanya Bu RT lagi.


"Kalo nanti pas saya ndak ngantor insya Allah saya bantu, Tan. Tapi kalo saya harus ngantor yaa... Aqeela sendiri entah nanti akan dibantu sama teman yang lain." Ucap Desta.


"Waah, udah kerja. Pantesan mereka ngebet nikah...." Ucap ibu yang lain.


Desta, Aqeela dan Ibu yang juga bisa mendengarnya tersenyum.


"Bukan begitu Bu. Kamu hanya menghindari fitnah. Lagian kita juga masih tinggal terpisah. Hanya sesekali kamu bersama, yaa persis kayak ibu-ibu dulu pas pacaran sama suaminya. Hanya saja status kami suami istri. Dan halal." Terang Desta.


"Oowwwhhh... jadi tinggal terpisah juga." suara koor ibu-ibu membuat seisi ruang tamu tertawa.


"Tante, tidak keberatan kan dengan status kami?" Tanya Aqeela.


"Ndak kok Ustadzah, karena kami akhirnya juga tahu ternyata Guru ngajinya anak kami ternyata sangat menjaga adabnya." Kata Bu RT.


"Terima kasih Tante.." Balas Desta


\=====================================


maaf ya... upnya agak lama..betewe apapun yang terjadi tetap support aku yaa...


like, komen , vote dan rate nya sangat saya butuhkan....


see you @ Next episode


Lop yu pull 😍 😍 😍

__ADS_1


__ADS_2