
Hari Kamis...
Masih jam pelajaran pertama.
Bu Indah yang kebetulan hari ini jaga piket. Mengetuk pintu dan mengantar seseorang.
Aqeela terbelalak melihat siapa yang datang. Begitupun dengan orang yang masuk. Keduanya saling menatap.
Seorang cowok dengan kursi rodanya.
Entah apa yang di rasakan keduanya.
"Anak-anak...ini ada teman baru kalian. Silahkan memperkenalkan diri." Kata Bu Mei yang kebetulan sedang mengajar.
"Selamat pagi teman-teman. perkenalkan saya Daffa Ganendra. Sebelumnya saya hanya ikut home scholling jadi mohon bimbingannya." Kata Daffa mengakhiri perkenalannya.
Aqeela tertunduk, matanya memandang ke bawah. Saat itu rasanya ia ingin menjauh dari kelasnya.
Daffa Ganendra. Cowok yang tak sengaja bertemu dengannya saat menjenguk Doni di rumah sakit.
Daffa Ganendra yang juga teman masa SDnya. Yang lebih dalam lagi Daffa itu musuh kecilnya.
Taukan sejak kecil Aqeela sudah suka cari masalah. Lebih tepatnya mempertahankan diri tapi sering disalah artikan oleh banyak orang. Sehingga terlihat seperti perusuh.
Enam tahun yang lalu...
Tepatnya ketika Aqeela kelas lima SD...
"Aqeela... pinjam buku pe-er nya... Biar aku salin..." Seru seorang cowok yang duduknya di samping Aqeela.
"Enggak bole..." Kata Aqeela
"Kalo aku bilang pinjam ... ya pinjam... " Seru anak laki-laki itu tak kalah kenceng.
"Daffa... kamu gak bole asal pinjam .. sini aku ajarin kalo mau..." Ujar Aqeela.
Bug...
"Awwwwhhh...."
Sebuah tinju melayang di punggung Aqeela.
Bug bug brak...
Dua kali tinju dan satu kali bogem mengenai pipi Daffa.
Tenan-teman mereka mundur ketakutan. Bahkan ada yang menjerit bahkan menangis.
Mendengar ada keributan seorang guru masuk.
"Ada apa ini?" Tanya Pak Firman.
"Aqeela... pak..sama Daffa... berkelahi..." Jawaban kompak seisi kelas.
Pak Firman langsung menoleh ke arah Daffa dan Aqeela. Keduanya saling meringis. Daffa dengan muka bengkaknya sedangkan Aqeela memegang punggungnya.
"Kalian berdua ikut Bapak ke Kantor." Perintah Pak Firman seketika.
Keduanya mau tak mau. mengikuti langkah Pak Firman menuju kantor.
"Aqeela, Daffa kenapa kalian?" Tanya beberapa guru yang menatap keduanya yang meringis kesakitan. Tapi baik Daffa maupun Aqeela tidak menjawab. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Ada rasa takut yang amat di wajah keduanya.
__ADS_1
"Daffa, Aqeela jelaskan kepada Bapak. Kalian kenapa sampai saling memukul begitu!" Tanya Pak Firman dengan memandang lekat wajah muridnya tersebut.
"Aqeela Pak... " Daffa membela diri
"Daffa yang mulai duluan Pak.." Aqeela tidak mau disalahkan.
"Aqeela, coba sekarang ceritakan. Apa yang terjadi." Pak Firman melunak. Ia berbicara lebih pelan ke arah Aqeela.
"Hm....Dafa...Daffa..." Aqeela nampak ragu untuk mengatakannya. Ada gurat ketakutan diwajahnya.
Aqeela takut dihukum Pak Firman, belum lagi nanti di rumah Ayah pasti juga akan menghukumnya. Karena memukul temannya.
"Katakan... Daffa kenapa? Tidak usah takut." Bujuk Pak Firman.
Aqeela melirik ke arah Daffa yang ternyata dia menunduk.
"Daffa... Daffa.. mau pinjam pe-er Pak. Tapi tidak Aqeela kasih. Terus mukul punggung, Qee. Ya.. Qee balas dong Pak." Ucap Aqeela jujur. Membuat Pak Firman geleng-geleng kepala.
"Benar itu, Daffa?" Tanya Pak Firman seolah meminta kepastian.
Daffa hanya mengangguk pelan tanpa berani mengangkat wajahnya.
"Aah.. kalian selalu bertengkar, hampir setiap hari selalu kalian berdua. Kenapa sih.." Pak Firman nampak frustasi menghadapi siswa siswi di depannya itu.
Keduanya seolah tidak pernah saling mengalah satu sama lain. Bahkan orang tua keduanya sudah pernah dipanggil menghadap kepala sekolah tapi masih saja belum ada perubahan.
"Daffa.. lain kali kalo pinjam pe-er, sampaikan dengan baik-baik. Kalo teman kamu tidak mengizinkan kamu ndak bole maksa." Pak Firman menasehati Daffa dengan lembut.
"Dan kamu Aqeela. Daffa memukul kamu berapa kali?" Tanya Pak Firman.
"Sekali pak." Jawab Aqeela
"Terus kam bales berapa kali?" Tanya Pak Firman lagi.
"Ya Allah, tiga kali tapi bengkaknya kayak gini. Nee anak kekuatannya kayak apa ya?" Pak Firman jadi mikir.
"Qee... lain kali kalo mau balas lapor dulu sama Bapak.. nanti Bapak bantu. Kalo seperti ini Bapak bisa bantu apa nanti. Orang tua kalian pasti akan marah." Ucap Pak Firman yang seakan paham dengan kondisi kedua muridnya itu.
Sama-sama memiliki orang tua yang sangat disiplin dan tak segan-segan melakukan kekerasan kepada anaknya. Walaupun mereka juga sama-sama anak tunggal. Tapi gak ada pengaruhnya sama sekali.
"Sakit tidak?" Tanya Pak Firman lagi
"Sakit, Pak." Jawaban kompak keduanya.
"Kalau sudah tahu rasanya sakit, masih saja suka berkelahi." Lanjut Pak Firman.
"Gini aja, kalian sebaiknya mulai sekarang berteman. Saling memaafkan." Usul Pak Firman.
Membuat Daffa dan Aqeela saling menatap tidak percaya.
"Ogah.. berteman ama cowok songong kayak dia." Gumam Aqeela dalam hati
"Sapa juga yang mau temenan ama cewek bar bar kayak gini. Gak ada cantik-cantiknya." Gerutu Daffa dalam hati.
Tapi demi kebaikan bersama dan supaya lebih cepat kelar urusan mereka mengiyakan dengan mengangguk.
Melihat persetujuan keduanya Pak Firman tersenyum.
"Kalo gitu sekarang salaman dong. Saling memaafkan." Ucap Pak Firman.
Aqeela dan Daffa menurutinya. Bersalaman.
"Maaf" Kata keduanya bareng.
__ADS_1
Perjalanan menuju kelas.
"Qee... jangan harap aku maafin kamu." Kata Daffa dengan kasar
"Cih, sapa juga yang mau temenan ama cowok songong kayak kamu." Balas Aqeela gak kalah Kasar.
Dan permusuhan masih belum rampung. Tapi setelah peristiwa di kantor itu. Mereka lebih suka berantem dengan mode cantik ala keduanya. Lanjut di luar jam sekolah.
Kebayang gak sih anak kelas lima SD, berantem. ðĪŠððð.
Hingga siang itu... Pulang sekolah.
Aqeela yang terbiasa berangkat dan pulang jalan kaki. Melihat ada kerumunan anak laki-laki yang berseragam sama dengan dirinya.
Aqeela mendekati kerumunan. Semakin mendekat, Aqeela mendengar teriakan mengaduh lirih.
Aqeela memandang tak percaya, Daffa dikeroyok.
"Daffa..." Auto Aqeela berteriak, menerobos kerumunan anak-anak yang seumuran dengannya itu.
"Kalian... beraninya main keroyokan saja." Bentak Aqeela.
Bug
Bug
Bug
Prak
Aqeela yang waktu itu sudah memegang sabuk hijau, dengan sigap mengusir pengeroyok Daffa dengan sekali bug.
"Daffa... Daf..." Aqeela memanggil nama Daffa yang masih tergolek lemah di pinggir jalan.
Daffa sedikit membuka matanya. Ia tersenyum.
"Ayoo... pulang. Kamu bisa berdiri?" Ajak Aqeela yang hanya dijawab gelengan kepala.
Aqeela sedikit bingung, apa yang harus dia lakukan.
Beruntung sebuah becak melintas dijalani sepi itu. Aqeela memanggil si Abang becak.
"Becaaaakkk...." Teriak Aqeela dengan kencang namun terdengar gemetar.
"Iya Nak..." Kata si Abang becak begitu sudah di depan Aqeela.
"Bantu saya mengantar teman saya pulang." Pinta Aqeela
Abang becak itupun membantu Aqeela menggendong tubuh Daffa kecil duduk di atas becak. Aqeela duduk di sampingnya dengan terus mengajak Daffa berbicara.
Aqeela masih mengkhawatirkan kondisi Daffa.
Sampai di rumah Daffa, mereka disambut mama Daffa yang terkejut dengan kondisi anaknya.
Dan tanpa bertanya kepada Aqeela, Mama Daffa langsung membentak dan menyalahkan Aqeela.
Aqeela kecilpun hanya bisa menangis. Tak ada ucapan terima kasih atau apapun dari sang Mama. Aqeela begitu sakit.
Aqeelapun pulang membawa duka. Dan entah apalagi yang akan ia terima nanti di rumah atau besok di sekolah.
ðâĪðâĪðâĪðâĪðâĪðâĪðâĪðâĪ
Bersambung...
__ADS_1