MENDADAK USTADZAH

MENDADAK USTADZAH
Masih Cemas


__ADS_3

Desta dan Ronald masih berjaga di depan ruangan IGD.


Seorang dokter dan beberapa perawat sedang melakukan perawatan kepada Aqeela.


"Des, kamu juga harus diperiksa. Tangan kamu luka." Kata Ronald sambil menarik kasar tangan Desta yang masih mengeluarkan darah.


Desta menggeleng. Namun Ronald menyeretnya mendatangi seorang suster.


"Mbak, tolong periksa teman saya. Tangannya terluka." Ucap Ronald.


Perawat itupun membawa Desta ke sebuah bilik di samping Aqeela, dan mulai membersihkan luka Desta.


"Keluarga pasien atas nama Aqeela." Panggilan dari bagian administrasi.


"Iya, Mbak..." Sahut Ronald meluncur cepat menemui suara yang memanggilnya.


"Dengan siapanya ya Mas?" Tanya Mbak bername tag Via.


"Temannya, Mbak. Karena suaminya juga sedang dirawat di kamar sebelahnya." Jawaban Ronald membuat mata si Mbak Via melototot gak percaya.


"Sudah ndak usah kaget. Mana, yang harus saya tanda tangani. Siapkan juga untuk pasien atas nama Desta ya Mbak. Suaminya Mbak Aqeela." Mbak Via hanya mengangguk.


💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗


Desta keluar dari bilik perawatan.


Tangannya sudah diperban.


" Mas, tangannya terkena air dulu ya. Tungu sampai jahitannya lepas."Kata seorang perawat sebelum meninggalkan Desta.


"Mas jangan lupa obatnya di tebus." Ucap perawat itu lagi sambil mencuri pandang ke arah Desta. Desta hanya tersenyum. Dan mengucapkan terima kasih.


Desta Ikut duduk di sebelah Ronald.


"Gimana?" Tanya Ronald begitu Desta duduk.


"Ya gitu... lukanya gak seberapa dalam. Tapi tetep harus dijahit karena terlalu lebar." Jawab Desta.


"Aqeela, gimana ya?" Gumam Desta lirih. Karena masih belum ada tanda-tanda tirai di bilik Aqeela terbuka.


Ronald hanya menatap dengan kosong ke arah tirai lalu berganti menatap sahabatnya dengan perasaan perih.


💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗


Flas back on


Awwhh... Bae sakit.." Bisik Aqeela


Wisnu mundur beberapa langkah menyadari, belatinya malah melukai Aqeela.


Wisnu terduduk lemas, sambil memegang lututnya.


Aqeela menyandarkan tubuhnya yang lemas ke bahu Desta.


"Bae.. I love you. Aku kemarin udah bilang ayo lakukan. Kenapa, kamu gak mau Bae? Aku sekarang nyesel..." Bisik Aqeela matanya mulai terpejam dan tubuhnya hampir terjatuh kalau saja Desta tidak segera menopangnya.

__ADS_1


Vian, Ronald, Wawan dan Doni berlari ke arah Desta dan Aqeela.


Vian segera mengamankan belati milik Wisnu. Tak lupa ia menggunakan salah satu ujung bajunya untuk memasukkan benda berbahaya itu ke dalam sebuah kantong kresek berwarna putih yang kebetulan ada di kantongnya.


"Des, Aqeela..." Bisik Ronald yang melihat Desta tak bergeming.


Mendengar bisikan Ronald, Desta tersadar, ia memandang Aqeela yang hampir tak mampu menyangga tubuhnya.


"Beb.. tahan, kamu harus bertahan... Nald bawa mobilku, kita ke rumah sakit. Don,Wan, Vian aku serahkan Wisnu ke kalian." Desta membopong tubuh Aqeela ke mobil diiringi Ronald.


Desta berjalan cepat, ia bahkan tidak menghiraukan luka ditangannya.


Bersamaan Ronald membuka pintu, Pak Jamal, Pak Soleh dan Ustadz Zainal bersiap masuk.


"Aqeela. Dia kenapa, Des?" Pekik Ustadz Zainal.


Desta hanya menarik napas kasar, sedih dan panik terlihat diwajahnya.Enggan menjawab. Desta terus melangkah tanpa menjawab.


"Kena tusuk, Wisnu..." Ucap Ronald sambil berlalu meninggalkan Pak Jamal, Pak Soleh dan Ustadz Zainal.


Di dalam mobil


Desta menidurkan Aqeela di pahanya.


Ronald memegang kemudi.


"Cepet, Nald..." Titah Desta


Ronald segera melajukan X~pander Desta dengan kecepatan tinggi.


Desta terus memeluk dan menahan aliran darah di punggung Aqeela dengan kaos hitam Aqeela.


Desta bersyukur istrinya memakai kaos, sehingga bisa menyerap darah yang keluar dari punggungnya. Walaupun kaos itu sekarang sudah robek bagian punggungnya karena belati Wisnu tadi.


"Beb, kamu denger aku kan.." Ucap Desta lirih.


Aqeela hanya tersenyum menatap suaminya.


"I love you..." Bibir Aqeela hanya mengisyaratkan kata itu.


"Allah... Allah...." Kemudian kata itu terus terdengar di telinga Desta.


Desta terus menatap dan memanggil nama Aqeela.


Dan setiap Aqeela mendengar panggilan suaminya ia tetap tersenyum, sambil berucap "I love you.." Walau dengan isyarat bibir.


Dan selebihnya yang terdengar hanya kata," Allah.... Allah... Allah..." Sampai mobil tiba di ruang IGD.


Flash back off


Kembali ke aula dimana Wisnu dan gengnya tertahan. Dimana Wawan, Vian dan Doni menghadapinya. Dimana Daffa dan Nabila hanya mampu memantau dari lantai 3 gedung utama. Dan dimana sekarang Pak Jamal, Pak Soleh dan Ustadz Zainal bertindak.


Wawan, Vian dan Doni mengumpulkan paksa Wisnu dan gengnya serta preman yang membantunya. Dengan dibantu Pak Soleh dan kroni-kroni dari Vian dan Doni, membawa para tersangka kehadapan Pak Jamal dan Ustadz Zainal.


Ustadz Zainal dan Pak Jamal memandang Wisnu dan gengnya. Ada rasa benci dan muak yang mendalam di dalam dada keduanya.

__ADS_1


Namun sebagai guru, mereka juga merasa ikut bertanggung jawab atas sikap Wisnu dan teman-temannya.


Doni, Vian, Wawan serta kroni-kroninya mohon izin keluar.


"Kalian bole keluar kecuali Doni. Kamu tetep di sini Don..." Titah Ustadz Zainal saat pamit.


Donipun menuruti permintaan guru agamanya tersebut. Ia mengambil posisi duduk di sebelah Ustadz Zainal.


"Wisnu, sebenarnya apa yang kalian inginkan?" Tanya Ustadz Zainal menahan amarah.


Bagaimana tidak marah, murid kesayangannya dibuat terluka oleh seseorang yang notabene Kakak kelasnya sendiri. Seorang mantan ketos yang harusnya jadi panutan.


Baik Wisnu ataupun yang lain diam. Tak ada suara.


"Wisnu, segera jawab pertanyaan saya." Hardik Ustadz Zainal.


Wisnu hanya bergidik mendengar hardikan Ustadz Zainal. Tak ada niatan darinya untuk menjawab pertanyaan gurunya.


"Wisnu, kalo kalian tetap diam. Tak akan menyelesaikan masalah." Ustadz Zainal benar-benar marah, suara semakin meninggi. Bahkan Pak Jamal yang tidak pernah melihat Ustadz Zainal marah sampai kaget.


"Wis, baiklah. Kalo gitu kita perkarakan kasus ini ke kantor polisi. Saya yang akan melaporkannya." Akhirnya Pak Jamal angkat bicara.


Ustadz Zainal, Pak Soleh dan Doni yang mendengarnya menganga tak percaya.


"Wisnu, Feri, Frans, Juna dan juga kamu Halim. Kalian sekarang sudah kelas dua belas. Harusnya kalian belajar. Tapi ini malah ngajak Aqeela adu jotos kayak gini." Ucap Pak Jamal datar.


"Pake bawa sajam lagi." Suara Pak Jamal terdengar lebih tinggi.


"Apa kalian sudah memikirkan dampaknya? Lihat sekarang Aqeela malah terluka. Bagaimana perasaan keluarganya sekarang? Apa kalian ingin dilaporkan keluarga Aqeela atau Desta?" Suara Pak Jamal semakin meninggi.


Wisnu dan kawan-kawannya masih terdiam.


"Baiklah, saya akan menghubungi orang tua kalian sekarang." Pak Jamal merogoh kantongnya mencari ponselnya.


"Sore, Pak Han..." Sapa Pak Jamal dalam sambungan line telpon.


"Iya.. Pak Jamal.." Suara line seberang


"Pak, mohon maaf. Apa saya bs dikirimi nomer telpon orang tua Wisnu?" Tanya Pak Jamal.


"Ada apa, Pak?" Suara Pak Handoko terdengar cemas.


"Wisnu, Pak. Ia baru saja menusuk Aqeela dengan belati."


"Apaa.... Biar saya saja yang kesana..." Pungkas Pak Handoko.


Pak Jamal menutup sambungan telponnya.


Dengan wajah putus asa. Pak Jamal memandang wajah muridnya satu per satu.


"Harusnya kalian cerita ke saya....Kalau sudah begini saya tidak tahu lagi. Bagaimana membantu kalian..."


💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗


Next part ya...

__ADS_1


__ADS_2