
Setelah Aqeela menyampaikan keinginannya membangun masjid. Desta mulai mencari lokasi di sekitar komplek rumah mereka yang sekiranya ada tanah atau rumah dijual atau bisa di belinya.
Desta juga minta bantuan asissten rumah tangganya untuk mencari tahu tentang kemungkinan rumah dijual.
Sore itu tak sengaja Desta berdiri di depan balkon rumahnya.
Tak sengaja, Desta melihat sebuah banner di seberang rumahnya. Banner bertuliskan rumah dijual. Ada kontak personnya.
Desta mencoba menghubungi nomer tersebut. Tersambung.
"Haloo..." Sapa suara di seberang line.
"Dengan Indra Ganendra?" Tanya Desta.
"Iya.. benar.." balas yang di seberang
"Saya tertarik dengan properti bapak yang ada di komplek Asri."
"Harganya 1,7 M, Pak." Jawab yang di seberang.
"Apa gak bole kurang Pak?" Desta mencoba nego.
"Belum bisa, Pak."
"Saya diskusikan dengan istri saya dulu ya Pak." Ucap Desta sebelum mengakhiri panggilan.
"Kenapa Bay? kok kayaknya kesel banget." Tanya Aqeela sambil memeluk suaminya dari samping.
"Coba perhatikan rumah rusak di depan. Ia di jual dengan harga 1,7 M. Wajar gak sih?" Gumam Desta lirih.
Aqeela memperhatikan rumah yang ditunjuk suaminya.
Disana berdiri sebuah rumah yang tidak terawat dan hampir reyot. Tepat di depan rumah mereka.
" Bae, cocok untuk masjid. Tepat dihadapan rumah kita." Bisik Aqeela sambil melonggarkan pelukannya.
Desta menuntuk Aqeela duduk di tepi ranjang.
"Iya, karena itu aku tadi menghubungi sang agen. Ternyata harganya fantastik." Ucap Desta sambil menatap istrinya.
"Sebentar deh Bae. Itu nama agennya Indra Genendra yaa?" Tanya Aqeela.
"Iya. Kenapa Beb?" Tanya Desta.
"Sebentar Beb, aku mau tanya dulu kebenarannya?" Bisik Aqeela.
Aqeela meraih ponselnya. mendial satu nomer.
Meloadspeakernya.
"Haloo..."
"Daffa..."
"Tumben telpon aku."
"Haa haa ha..." Suara tawa Aqeela meledak karena memang jarang sekali ia menelpon sahabatnya itu.
"Diem gak.. ? Ada apa?" Tanya Daffa setengah teriak.
"Daf, nama papa Kamu Indra Ganendra, bukan?" Tanya Aqeela.
"Iya. Ada apa sama papaku?" Tanya Daffa heran.
"Dia agen properti bukan?" Aqeela bertanya lagi.
" Sebetulnya Ayah pemilik developernya. Tapi kadang hrs turun sendiri. Kenapa Qee? Kepo Daffa.
"Apa properti yang ada di komplek asri milik papamu?" Tanya Aqeela.
__ADS_1
"Entahlah, akan aku cari tahu." Janji Daffa.
Aqeela menutup sambungan selulernya.
"Jadi, maksud kamu. Agen rumah di depan milik Papa Dafaa?" Seru Desta berbinar.
Aqeela hanya mengangguk.
"Terima kasih yaa, Beb." Bisik Desta sembari memberi kecupan kecil di bibir Aqeela.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Di sekolah...
Di kantin...
"Daf..." Panggil Aqeela.
"Kenapa tuuh muka di tekuk kayak gitu." Goda Daffa.
"Aku udah nanya ke Papa. Ternyata benar itu punya papa." Ucap Daffa.
"Ngomongin apa siih kalian?" Tanya Doni gak ngerti.
"Itu loo Don, properti di depan rumah kita. Kan jual. Ternyta milik papanya Daffa." Kata Aqeela.
"Daf, bantu kita dong." Pinta Aqeela dengan puppy eyesnya.
"Gak usah pake tampang memelas gitu. Gak cocok lagi seorang Aqeela punya tampang memelas." Kata Daffa yang sangat sebal melihat Aqeela sudah memelas begitu.
"Terus, apa aku perlu teriak-teriak gitu?" Protes Aqeela.
"Enggak juga. Biasa ajalah Qee..." Pinta Daffa.
"Kamu bantu kita dong, Daf.." Ulang Aqeela datar.
"Aku usahakan." Jawab Daffa.
"Mau bangun masjid sama asrama." Jawab Aqeela santuy.
"Beneran, Qee?" Sontak Daffa , Nabila dan Doni menatap ke arah Aqeela gak percaya.
"Kamu gak lagi sakit, kan?" Tanya Daffa.
"Secara kalian beli dengan budget mahal hanya untuk membangun masjid. Aku gak habis pikir bagaimana sih jalan pikiran kalian?" Daffa terus saja nyerocos.
"Aku serius, makanya minta tolong kamu, Daffa..." Ucap Aqeela dengan mimik sebel.
" Yaaa.. maaf.. aku kira kalian mau invest properti gitu."
"Ini juga inves Daffa..." Ucap Aqeela lebih sebel lagi.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Berkat bantuan Daffa, hari ini Desta dan Aqeela bertemu dengan Pak Indra. Papa Daffa. Untuk membahas jual beli properti di depan rumah mereka.
Mereka sepakat bertemu di rumah Desta. Yang notabene lebih dekat dengan propertinyang mereka inginkan.
Pukul tujuh malam, Pak Indra dan keluarga datang ke rumah Desta. Tentunya karena permintaan Desta supaya Pak Indra membawa keluarganya ikut serta.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Rumah Daffa
Tiga hari sebelumnya.
"Pa.. Papa ada properti yang di komplek Asri?" Tanya Daffa ke Papa yang sedang nontin berita di televisi.
"Iya. Tumben nanya?" Tanya ulang Papa.
__ADS_1
"Hmm.. itu loo Pa, teman Daffa ada yang tertarik mau beli." Ucap Daffa.
Papa menatap anaknya tak percaya.
"Teman kamu? Memangnya dia dapat uang darimana bisa beli properti semahal itu." Papa Daffa tidak menggubris ucapan anaknya.
"Serius, Pa. Dia pengusaha." Jawab Daffa.
"Loo bukan teman sekolah kamu?" Tanya Papa menatap anak.
"Sejak kapan, kamu punya banyak teman?" Tanya Papa kepo.
"Sejak sekolah, Papa... Gimana?" Tanya Daffa.
"Gimana, apanya?" Tanya Papa tidak mengerti ucapan anaknya.
"Kalau Papa berkenan, teman aku mengundang Papa untuk membahas jual beli properti itu. Tapu kasi harga pertemanan dong Pa..." Bisik Daffa dengan mode merayu.
"Haa haa haaaa.... kamu tuh yaa bisa aja. Tapi bole deeh. Kita temui teman kamu. Lusa ya.." Ucap Papa meyakinkan.
"Siap Papa.. Terima kasih ya Pa.." Jawab Daffa sambil memeluk papanya.
Dan hari ini
Keluarga Daffa bersiap bertemu Desta.
Begitu tiba di depan rumah Desta.
"Daf, beneran yang ini rumahnya?" Tanya Papa Daffa begitu melihat bangunan sederhana namun berarsitektur unik. Halaman depannya tidak seberapa luas. Nampak dua mobil terparkir di sana.
"Iya, Pa. Kita masuk." Ajak Daffa sambil kekuar mobil.
Daffa langsung membuka pagar rumah Desta, karena ia tahu pagar itu takkan pernah digembok karena saking banyaknya jama'ah yang keluar masuk. Menjelang tengah malam baru di gembok, itupun oleh Desta atau Doni.
Papa Daffa memperhatikan gerak gerik putra semata wayangnya dengan heran.
Setelah pintu pagar terbuka, Daffa memberi isyarat kepada Papanya agar memasukkan mobil. Papa Indra menuruti anaknya, memasukkan mobil ke halaman rumah calon buyer-nya.
"Assalamu'alaikum...." Daffa mengucapkan salam.
"Wa'alaikum salam..." Jawab suara di dalam sambil membuka pintu.
"Looo.... Kamu kan.." Seru Mama Daffa panik.
"Masuk Om.. Tante..." Jawab Desta sambil tersenyum melihat kepanikan Mama Daffa.
"Maaf ya Om, Tante.. rumah kami di desain tanpa meja kursi. Jadi duduknya lesehan." Ucap Desta begitu tamunya masuk dan mencari kursi.
Desta mempersilahkan tamunya duduk lesehan di ruang tamunya. Beberapa meja kecil masih berserakan setelah digunakan mengaji.
Aqeela dan Yulian keluar membawa suguhan untuk tamunya.
"Lhoo benar kan. Kamu Aqeela." Seru Mama Daffa.
"Iya Tante." Aqeela menyalami Mama Daffa. Dan menelangkupkan kedua tangannya di depan Papa Daffa.
Aqeela meletakkan baki berisi minuman kepada masing-masing tamunya.
"Terima kasih, Yulian." Ucap Aqeela kepada Yulian yang bersedia membawakan beberapa toples makanan ringan.
💗💗💗💗💗💗💗💗
Like
komen
Vote
Rate
__ADS_1
😘😘😘😘
makasii yaa