Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 102 Perang Dimulai


__ADS_3

Kedua kubu sudah siap untuk berperang. Refald sendiri menatap tajam musuh-musuhnya yang terdiri dari sekumpulan para monster berbahaya. Tak seperti peperangan yang biasa Refald alami sebelumnya, kali ini raja dedemit itu hanya diam berdiri dan terus menyunggingkan senyumnya sembari menunggu para monster itu menyerang terlebih dulu.


Apa yang kalian tunggu! Cepat serang kami! Batin Refald pada seluruh monster-monster bertopeng itu dengan tatapan mata elangnya yang menawan hati setiap wanita yang memandang.


Seakan tahu suara hati Refald, para monster bertopeng itupun mulai melancarkan aksinya. Semuanya langsung berpencar kesembarang arah dan langsung berdiri dekat dengan seluruh anggota keluarga Refald. Gerakan monster itu benar-benar cepat melebihi kecepatan kilatan cahaya sehingga membuat seluruh keluarga Refald terkejut dibuatnya.


Semua monster itu kini membaur dengan setiap orang yang berpasang-pasangan tak terkecuali Refald sendiri. Mereka berdiri didepan seluruh anggota keluarga Refald. Bahkan Refald dan monster bertopeng itu juga saling berhadapan satu sama lain.


Semua monster bertopeng itu diam tak bergerak, sebab mereka semua tahu kalau tak bisa menyentuh seluruh anggota keluarga Refald yang sudah dilindungi dengan lapisan pelindung dari raja dedemit tersebut.


“Apa ini? Kenapa semuanya berdiri di depan kita?” tanya Bima. “Apa yang sedang mereka rencanakan? Haruskah kita menyerang mereka terlebih dulu?” Bima menatap monster bertopeng yang tak bergeming itu mulai dari atas hingga bawah.


"Daripada dibilang monster bertopeng, mereka lebih mirip robot satria baja hitam. Bedanya, memang ada aura mistis mengerikan didalamnya," gumam Bima lagi setelah puas mengamati musuhnya.


“Diam dan perhatikan saja! Tunggu aba-aba dari Paman. Mereka takkan bisa menyentuh ataupun menyakiti kita karena paman sudah melindungi tubuh kita semua dengan kekuatannya,” ujar Yeon penuh waspada. Pikirannya juga sama dengan Bima, tapi Yeon lebih tenang dan memercayakan semuanya pada pamannya.


“Ini baru seru,” ujar Leo sambil menyunggingkan senyumnya. Sepertinya ia sudah tidak sabar ingin segera bertarung.


Sedangkan Shena, tetap menggenggam erat tangan suaminya dengan hati was-was. Walaupun ini bukan pertama kali ia dihadapkan dengan hal berbahaya seperti ini, tetap saja Shena agak sedikit cemas.


Sementara ditempat lain, Rey, Rhea, pak Po dan Divani langsung terkejut karena tiba-tiba saja ada sekelompok orang tak dikenal dengan memakai topeng, datang mengepung mereka semua. Dengan sigap, Divani dan pak Po membuat lapisan pelindung sendiri untuk melindungi anak dan menantunya. Sementara Rey dan Rhea langsung saling bergandengan tangan dengan tegang.

__ADS_1


“Sepertinya sudah dimulai Di, jadi ini tamu tak diundang yang dimaksud Raja.” Pak Po menatap tajam para monster-monster itu.


“Kau benar, kita harus berhati-hati. Prioritas utama kita adalah anak-anak kita.” Divani terlihat keren saat ia bertekad melindungi anak dan menantunya dari musuh berbahaya. Dan ini pertama kalinya Rhea melihat aksi ibunya.


Ibuku keren juga, batin Rhea senang. Alih-alih takut, Rhea malah menikmati suasana tegang ini.


Anehnya, para monster ini tak langsung menyerang Refald dan yang lainnya. Semuanya hanya berdiri tegak tak bergerak seolah sedang menunggu perintah selanjutnya dari seseorang yang hingga detik ini tak diketahui siapa pemimpin para monster bertopeng tersebut. Pak Po dan Divani juga menunggu aba-aba dari rajanya mengenai apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Mereka berdua juga tak bisa bertindak gegabah karena semua kendali ada ditangan sang raja dedemit Refald.


Sepertinya, Refald tak berniat menyerang lebih dulu sebelum musuhnya ini bertindak. Tidak ada yang tahu apa yang ada dalam pikiran Refald saat ini, yang jelas segala keputusan yang diambil Refald, pasti itulah yang terbaik untuk keselamatan semuanya.


“Tetap berdiri bersamaku, Suamiku. Kau manusia biasa sekarang. Aku akan melindungimu.” Rhea mempererat genggamannya pada Rey.


“Jangan ingatkan aku tentang itu Sayang. Itu membuatku badmood, disaat seperti ini … harusnya akulah yang melindungimu, kenapa malah kau yang melindungiku? Runtuh sudah kemachoanku.” Raut wajah Rey memang terlihat sedih, tapi tak ada yang bisa ia lakukan selain menerima takdir ini.


“Nanti akan aku beritahu, kemachoan mana yang aku maksud begitu perang ini selesai.” Rey tersenyum penuh pesona. “Jangan pernah lepaskan genggaman tanganmu ini, Sayang. Apapun yang terjadi, kau mengerti!” Rey mencium punggung tangan Rhea dengan mesra. Sungguh manis dan syahdu suasana yang mengelilingi Rhea dan Rey walau situasi saat ini tak memungkinkan mereka untuk bermesraan lebih lama.


“Ehm, aku mengerti.” Rheapun memamerkan senyum menawannya. Wajahnya yang ayu alami, membuat Rey semakin jatuh cinta pada istrinya.


Tiba-tiba saja, semua lampu yang ada di istana Refald padam tanpa sebab, dalam sekejap mata, semuanya menjadi gelap gulita dan sama sekali tak ada cahaya. Apalagi ini di malam hari dan cuaca sedang mendung sehingga cahaya bulan yang harusnya menerangi bumi, jadi tak terlihat karena tertutup awan.


Semua orang mulai panik, tapi Refald meminta mereka supaya tetap tenang diposisinya. “Kalian semua tetap tenang dan jangan ada yang bergerak. Jangan pernah lepaskan genggaman tangan kalian pada pasangan kalian masing-masing,” seru Refald dengan lantang. Semuanya langsung mengikuti interupsi dari Refald.

__ADS_1


Refald mencoba menghidupkan listrik yang mendadak padam, tapi entah mengapa usahanya gagal. Refald mencobanya sekali lagi dan tetap gagal lagi.


"Kenapa Refald?" tanya Fey mulai cemas.


"Ini aneh Honey, aku tak bisa menyalakan listriknya."


"Mungkin bukan hanya tempat ini saja yang padam. bisa saja semua wilayah disini. Kau tak bisa menghidupkan listrik hanya dengan menggunakan satu tangan. Gunakan kedua tanganmu." Fey memberikan saran yang masuk akal.


"Tidak Honey, jika aku menggunakan kedua tanganku artinya, aku harus melepaskan genggaman tanganku padamu."


"Tidak masalah, aku bisa memelukmu seperti ini supaya kau tidak khawatir." Fey melepas genggaman tangannya dan berjalan berdiri di belakang Refald. tangan Fey terulur memeluk erat pinggang suaminya. "Kau suka?" tanya Fey dari balik punggung Refald.


"Sangat suka, peluk aku yang erat Honey." Refald tersenyum senang. Kini ia bisa konsentrasi dengan kekuatannya tanpa perlu mengkhawatirkan istrinya.


Tak dinyana-nyana, beberapa angin topan datang dengan sangat kencang dan langsung memporak-porandakan seluruh ruangan. Angin topan tersebut menerbangkan semua benda yang dilewatinya. Bahkan beberapa anggota keluarga Refald ikut terbawa angin topan tersebut. Tubuh mereka berputar-putar di udara karena terseret pusaran angin yang bertiup kencang. Suara teriakan terdengar menggema menghiasi seisi ruangan.


Melihat hal itu, Refald langsung merentangkan kedua tangannya dan menghalau seluruh angin-angin itu agar menghilang dari tempat ini. Dalam sekejap, Refald bisa menghentikan laju angin tersebut dan semua orang terjatuh ke lantai karena angin topan yang membawa tubuh mereka sudah hilang seketika. Listrik yang padam tadi juga sudah menyala terang.


Semua orang yang tadi terbawa angin mengerang kesakitan, sebab tubuh mereka habis terjatuh dari ketinggian. Untungnya, tidak ada yang terluka karena lapisan pelindung yang dibuat Refald juga bisa melindungi tubuh mereka dari benturan. Hanya saja, mata mereka semua jadi terbelalak menyaksikan pemandangan aneh yang ada dihadapan mereka semua.


"Apa ini?" tanya semua orang hampir bersamaan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2