
Leo dan Shena terus mengejar Refald yang berlari menuju hutan belantara, sungguh baik Leo ataupun Shena tidak tahu ada dimana mereka sekarang. Keduanya mulai memasuki hutan belantara dan berhenti berlari setelah melihat beberapa orang tak dikenal mengelilingi Refald. Kira-kira jumlah orang itu sekitar kurang lebih 10 orang. Dilihat dari pakaian yang mereka kenakan, semuanya hanyalah penduduk biasa, bukan prajurit ataupun penghuni istana.
"Leo ...."
"Ssssttt! Jangan berisik Sayang, kita amati dulu keadaan." Leo menghentikan Shena yang hendak bicara dan anehnya, Shena menurut saja apa yang dikatakan suaminya. "Sayang, ingat-ingatlah, dalam cerita yang pernah kau baca, situasi seperti ini sudah sampai dimana? Apakah sudah mendekati ending atau bukan? Sepertinya, saat kita tertidur, alur cerita dalam cerita ini berjalan dengan sangat cepat." Leo mulai mengutarakan argumennya.
Shena mencerna perkataan suaminya dan apa yang diucapkan Leo memang ada benarnya. Dulu, saat Shena tertidur, ia sudah ada dalam cerita alur yang berbeda dari sebelumnya. Dan kini, iapun mengalami hal sama begitu Shena terjaga dari tidurnya. Namun, berkali-kali ia mengingat cerita istana sentris ini, tetap saja kejadian yang sekarang ia lihat tidak ada dalam cerita tersebut. Mungkin saja karena Refald tak punya peran apapum dalam cerita sehingga alurnya sedikit berubah.
"Tidak ada adegan seperti ini dalam cerita yang pernah kubaca, Leo. Sebab, kak Refald tak ada dalam cerita itu."
Suasana mendadak hening dan tidak ada sahutan dari Leo, mata suami Shena itu terus menatap tajam kakaknya yang sedang terkepung dan mencoba menguping pembicaraan mereka. Dengan begitu, mungkin ada petunjuk untuk bisa segera keluar dari sini.
"Siapa kau? Kenapa mengejar kami sampai kemari?" tanya salah satu orang yang mengepung Refald.
"Lepaskan dulu wanita yang kau culik itu!" seru Refald tenang.
"Enak saja! Memangnya dia siapamu?" tanya orang itu agak sedikit nyolot.
Dia istriku!" tandas Refald.
"Huaaaahahahaha ... kau pikir kami bodoh? Sehingga gampang tertipu oleh ucapanmu? Semua orang bisa mengaku-ngaku sebagai suaminya, bukan hanya kau saja!" pekik orang itu.
__ADS_1
Shena langsung tertegun mendengar percakapan singkat antara Refald dan orang tak dikenal itu. "Leo, kakak ipar ...."
"Ehm, aku tahu. Sepertinya situasinya sudah melenceng di luar cerita. Jika sampai ada pertumpahan darah diluar cerita, maka ... itu akan mengubah sejarah dan artinya kita akan terperangkap di dunia ini selamanya." Lagi-lagi Leo memotong kata-kata Shena.
"Lalu kita harus bagaimana
Kak Refald tidak akan terima bila ada orang lain mencoba menyakiti kakak ipar. Berani-beraninya mereka menculik kak Fey. Benar-benar orang itu cari mati, apa?" Shena terlihat gelisah dan juga panik sekaligus kesal juga. Perasaannya seperti sedang diaduk-aduk tak karuan.
"Tenanglah Sayang. Ada aku disini. Apa kau lupa dengan siapa kau menikah? Aku akan buat kekacauan disana dan mengalihkan perhatian mereka. Selagi aku sibuk disana, lepaskan kakak ipar yang ada di dalam gubuk kecil itu." Leo menunju sebuah gubuk kecil yang terbuat dari kayu dan beratapkan daun kelapa kering bercampur daun-daun yang lain. "Hanya ada dua penjaga di depan gubuk itu. Ketapel saja kepala mereka dengan ini." Leo menyerahkan sebuah ketapel sederhana pada istrinya dan sontak saja Shena terkejut melihat ketapel aneh itu.
"Darimana kau dapatkan ketapel ini?" tanya Shena bingung.
"Tapi itu kan gelang keberuntunganmu, kau tak pernah sekalipun melepas gelang itu selama ini." Pantas saja sejak tadi tangan Leo tidak bisa diam, rupanya diam-diam dia membuat ketepil aneh ini.
"Aku baru sadar, bahwa keberuntunganku bukan terletak pada gelangku. Melainkan karena ada dirimu disisiku. Gelang itu hanya simbol saja, Sayang. Kaulah sumber keberuntunganku sesungguhnya. Bersiaplah! Jangan sampai membunuh siapapun yang ada di dunia ini." Leo menggenggam erat tangan istrinya dan menciumnya mesra. "Aku pergi dulu, jika mereka semua lengah, kau harus segera beraksi. Kau mengerti Sayang?" tanya Leo sambil membelai lembut pipi istrinya.
"Ehm, aku mengerti. Hati-hati." Shena mencoba tersenyum menyembunyikan kepanikannya.
Entah apa jadinya jika tidak ada Leo disini. Shena tak bisa membayangkannya. Sejujurnya, Shena sedikit merasa tenang karena ada Leo disisinya yang selalu menjaga dan melindunginya. Entah mengapa, Shena merasa, apapun masalahnya, jika ada Leo, semuanya seperti terselesaikan dengan baik.
Sebenarnya, Shena tidak tahu menahu rencana apa yang akan dilakukan Leo untuk mengalihkan perhatian orang-orang itu. Shena sendiri juga lupa bertanya. Dan tiba-tiba saja, suami nggak ada akhlaknya itu berlari kencang sambil berteriak-teriak nggak jelas.
__ADS_1
"TROLL! TROLL! TROLL!" teriak Leo mengagetkan semua orang yang ada didalam hutan ini dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Ia berlari mendekat kearah Refald sambil terus meneriakkan makhluk mitologi yang berasal dari cerita rakyat Skandinavia. "Ada Troll di dalam hutan sana! Cepat kalian pergi dari sini! Cepat!" Teriaknya lagi sambil pura-pura ngos-ngosan. Namun, yang diteriaki tak ada yang bergeming dari tempatnya dan malah menatap bingung Leo.
Bukannya takut atau panik dengan teriakan Leo, semua orang malah memandang aneh dirinya yang terlihat seperti orang gila dan baru saja keluar dari rumah sakit jiwa.
"Ada Troll di dalam hutan sana! Kenapa kalian malah duan saja?" tanya Leo ikutan bingung.
"Siapa troll?" tanya salah satu orang yang berdiri paling dekat dengan Leo.
"Apa ... kalian tidak tahu Troll?" Mata Leo mendelik menatap wajah bingung orang-orang yang ada disekelilingnya.
Orang-orang itu saling pandang karena baru pertama kali ini, mendengar istilah asing yang disebutkan Leo.
"Kami tidak tahu apa itu Troll? Apakah itu makanan atau apa?" tanya yang lainnya.
"Masa kalian semua tidak tahu Troll? Troll adalah makhluk buas sejenis raksasa dalam cerita-cerita rakyat Skandinavia. Mereka hidup di gua-gua yang dalam dan gelap, atau di dalam tanah. Mereka berukuran lebih besar daripada manusia dan memiliki tenaga yang besar. Wajahnya sangat mengerikan dan auwww ...!" Erang Leo sambil memegangi kepalanya. "Siapa yang menjitak kepalaku!" teriaknya tak terima.
"Aku!" Seru Refald dari balik punggung Leo. "Hei boodoh? Kau pikir ini dunia Harry Potter apa? Mana ada troll disini ha? Setan apa yang merasukimu sampai kau jadi gila begitu?" Refald terlihat kesal.
"Heh biksu Tong! Aku hanya sedang berusaha membantumu dengan menakut-nakuti mereka, kenapa kau malah menjitakku?" protes Leo.
"Kau ini begoo apa boodoh, sih? Jika kau berteriak ada kingkong, macan, singa, serigala, beruang dan binatang buas berbahaya lainnya itu masih masuk akal. Tapi kenapa kau malah berteriak 'troll'? Mana ada yang tahu apa itu Troll disini? Dasar boodoh." Refald berdecak kesal melihat Leo.
__ADS_1