
Refald terus saja memandangi Fey tanpa henti. Sebab, wajah istrinya itu berubah menjadi merah merona karena merasa malu atas kehamilan keduanya. Dan itu membuat Refald semakin jatuh cinta pada Fey. Semakin lama, cinta yang Refald rasakan tak pernah pudar. Malah ia merasa, saat ini cintanya pada Fey semakin bertambah kuat.
Tanpa permisi terlebih dulu, Refald menggendong istrinya dan ia langsung melompat ke udara. Refald berpijak dari satu pohon ke pohon yang lain mirip si vampir tampan Edward Antony Mason Cullen kalau sedang berkencan dengan Isabella Swan. Bedanya, Refald bukanlah vampir, melainkan raja dedemit tampan yang sebentar lagi akan mendapat momongan kembali.
Tak bisa digambarkan betapa bahagianya wajah Refald sekarang. Sejak tadi, ia tak pernah berhenti tersenyum. Sudah lama, Fey tak melihat suaminya sebahagia ini terlepas dari semua hal yang menimpa keluarga mereka selama ini. Entah kenapa, Fey tersentuh melihat reaksi suaminya yang mengajaknya kembali mengenang masa-masa bahagia mereka saat masih muda dulu, walau sampai sekarang mereka berdua masih tetap terlihat awet muda. Padahal, mereka sudah memasuki kepala empat, tapi wajah Refald dan Fey sama sekali tak menua. Bahkan keduanya malah terlihat seperti pasangan pengantin baru yang baru saja menikah layaknya Rey dan Rhea.
“Kau suka, Honey?” Tanya Refald saat ia bertengger disalah satu pohon besar, di tengah hutan.
“Aku selalu suka saat kau menggendongku seperti ini. Kau tahu? Kau itu sangat mirip …,”
“Edward Cullen, aku tahu … kau selalu saja menyamakanku dengannya. Padahal jelas-jelas kami sangat berbeda.” Refald memotong kata-kata istrinya dengan cepat, tapi wajahnya tak terlihat marah. Sebaliknya, Refald malah tersenyum. Rona bahagia, terus saja menghiasi wajah tampannya.
“Kau memang mirip dengannya. Kau adalah satu-satunya manusia yang bisa terbang seperti Edward. Kau juga sangat kuat dan tak terkalahkan. Bahkan aku merasa kau jauh lebih luar biasa diatas Edward. Kau adalah suami mesumku yang sempurna,” ujar Fey penuh semangat diatas gendongan suaminya.
Senyum merekah Refald langsung pudar saat mendengar kalimat terakhir Fey.
“Honey, itu pujian atau ledekan? Kapan aku mesum?” tanya Refald sedikit tidak terima dikatain mesum.
“Haish, kau hebat, tapi pikun,” gerutu Fey dan tentu saja Refald langsung memelototinya. “Apa … aku benar, kok. Kau membuatku hamil lagi, apa itu namanya kalau tidak mesum? Baru juga kita bertemu kembali setelah sekian lama terpisah, tapi aku sudah bunting anakmu.” Fey berdecak kesal tapi tangannya tetap melingkar erat dileher Refald.
Refald tertawa mendengar nada bicara Fey yang ceplas ceplos itu. “Honey, jangan salahkan aku jika aku benar-benar memakanmu sekarang, kau sungguh membuatku gemas padamu!” Refald melompat lagi dan keduanya langsung berada di dunia cinta Refald dan Fey.
“Kamar ini lagi?” gumam Fey memerhatikan sekeliling. “Kenapa kau membawaku kemari? Bukankah kita sedang jalan-jalan?”
“Honey, moodku sedang jelek sekarang. Jadi aku butuh nutrisi darimu!” Refald menurunkan istrinya diatas ranjang dan dengan gerakan cepat, Fey langsung berguling kesamping sebelum Refald menindih tubuhnya. Ibu satu anak itu bangun berdiri dan menjauh dari suaminya.
__ADS_1
“Aku juga sedang badmood, Refald. Sementara ini, aku tidak bisa memberimu nutrisi! Kembalikan aku ketempat yang tadi. Aku ingin menghirup udara segar dan menikmati pemandangan alam.”
Refald terdiam, perlahan ia mendekat kearah istrinya berdiri. Namun Fey terus menjauh dari suaminya. “Kemarilah Honey,” pinta Refald lembut, selembut sutera.
“Tidak mau! Kau bilang, kau mau memakanku! Aku tidak mau dekat-dekat denganmu!” tolak Fey mentah-mentah. Ia masih berjalan mundur menjauh dari suaminya. Tak terasa, ia sampai dibalkon dan menabrak dinding balkonnya.
“Disana pemandangannya juga indah, Honey. Kita bisa bermain maju mundur cantik disini sambil menikmati suasana romantis,” bujuk Refald. Tatapan mata elangnya terus ia tujukan pada Fey.
“Kau bilang aku sedang hamil? Masa kau mengajakku main?” protes Fey. Ia mendorong tubuh Refald agar menjauh darinya. Namun, suaminya itu terus saja mendekatinya dan langsung merengkuh pinggan Fey kedalam pelukan Refald.
“Aku ingin mengunjungi anakku, aku ingin tahu apa dia baik-baik saja atau tidak didalam sini.” Refald menyentuh lembut perut rata istrinya. “Jadi, kau harus main denganku. Jika tidak, kau tidak akan pernah kembali lagi kedunia nyata sana. Kau dan aku, akan tinggal disini selamanya,” ancaman yang manis dari Refald. Raja dedemit itu menempelkan dahinya di dahi Fey.
“Hah?” mata Fey melotot menatap wajah semringah Refald. Ia tahu kalau tak mungkin bisa menolak keinginan suaminya jika tak ingin terkurung disini selamanya bersama suami mesumnya ini.
***
Rhea menatap wajah Rey lekat-lekat. Dan tersenyum simpul. Suaminya ini sangat tampan bahkan disaat ia tertidur.
“Rey, kau sudah bangun?” Tanya Rhea pelan. Ia mengusap lembut kepala dan pipi Rey yang mulus.
Kejadian semalam terlintas diingatan Rhea. Ia sunggguh bahagia karena akhirnya bisa melakukan malam pertama dengan Rey. Untuk sesaat, ia benar-benar terbuai dengan aksi suaminya saat mengajaknya menikmati indahnya surga dunia.
Perlahan, Rey membuka matanya saat merasakan sentuhan tangan Rhea diwajahnya. Cowok itu melihat wajah cantik Rhea yang begitu sempurna dimatanya. Iapun langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan dan itu membuat Rhea bingung.
“Kenapa kau menutup wajahmu?” Tanya Rhea.
__ADS_1
“Jangan melihatku seperti itu, aku jadi malu,” ujar Rey sambil tertawa.
“Harusnya aku yang bicara begitu, kenapa jadi, kau? Lagian kau ini malu kenapa?” Rhea jadi keki melihat tingkah suaminya seperti itu.
Apalagi, Rey kini malah membelakanginya dan menarik selimut putih mereka sehingga tubuh Rhea yang tadinya tertutup, jadi terlihat jelas. Untung hanya ada mereka berdua saja di dalam kamar ini. Sebab, Rhea masih belum memakai apapun akibat gempuran panjang dari suaminya saat melakukan malam pertama.
“Rey!” teriak Rhea kesal dan ia langsung menarik kembali selimut yang menutupi tubuh Rey. Alhasil keduanya jadi saling tarik menarik selimut dipagi hari yang indah nan syahdu menghiasi pasangan pengantin baru yang sedang malu-malu tapi mau.
Rhea tak sengaja terjatuh diatas tubuh suaminya saat keduanya sedang tarik menarik selimut. Mata indah mereka saling betatapan satu sama lain.
“Mau melakukannya lagi?” tanya Rey dengan senyuman menggodanya.
“Tidak mau! Rasanya masih sakit.” Rhea mencoba bangun tapi tubuhnya dibekap erat oleh Rey.
“Aku juga kesakitan, Sayang. Lihat! Kau menggigiti seluruh bagian tubuhku hingga berbekas merah begini! Apa yang harus aku katakan jika sampai orang lain melihatnya. Haruskah aku bilang kalau istriku … sangat ganas di ranjang.” alih-alih marah, Rey malah tertawa.
“Kau sendiri yang memintaku menggigitmu setiap kali aku merasakan sakit, jadi bukan salahku … kalau kau jadi seperti itu!” Rhea membela diri.
“Hadeuh, sepertinya aku harus segera bercocok tanam denganmu.” Rey mulai beraksi menyentuh setiap bagian intim tubuh istrinya.
“Hah? Sejak kapan kau beralih profesi menjadi petani?” Tanya Rhea masih belum ngeh maksud ucapan suaminya.
“Sejak semalam!” Rey sudah tidak tahan lagi melihat betapa menggemaskannya Rhea sekarang. Akhirnya, adegan bercocok tanampun terjadi begitu saja dan Rhea tak bisa menolaknya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***
Dilarang senyam senyum sendiri hehe ...