
Setelah selesai, Rhea keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan sangat fresh. Rey yang melihat Rhea dari atas tempat tidur langsung melongo karena Rhea terlihat sangat cantik dengan rambut basah seperti itu. Jiwa lelakinya langsung tergugah dan ia mencoba untuk menekan semua perasaannya. Jangan sampai Rey tergoda dan jadi hilang akal.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Rhea.
Untuk sesaat, memang tidak ada sahutan, Rey masih terpaku memandangi Rhea. "Kau cantik sekali," gumam Rey kemudian.
"Terimakasih," ujar Rhea sambil tersenyum. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk dan itu semakin membuat Rey jadi memejamkan mata. Ia bergerak cepat merengkuh tubuh Rhea ke dalam pelukannya.
"Apa kau sengaja menggodaku?" tanya Rey tepat di manik mata Rhea.
"Siapa yang menggodamu? Aku tidak melakukan apa-apa?" Rhea jadi bingung karena Rey tiba-tiba berkata seperti itu.
Rey mendorong pelan tubuh Rhea sehingga gadis itu terjatuh tepat diatas tempat tidur. Rey langsung mengunci tubuh Rhea dengan tubuhnya agar Rhea tidak bisa bergerak.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Rhea lagi.
Lagi-lagi, Rey tidak menjawab. Ia sungguh ingin melakukannya dengan Rhea tapi ia tidak bisa. Rey tidak ingin menjadi Jakson kedua. Meskipun pada akhirnya ia dan Rhea juga bakal segera menikah. Namun, sampai kapanpun Rey akan berusaha menjaga kesucian Rhea hingga tiba saatnya. Rey menggeser tubuhnya dan bebaring disebelah Rhea.
"Aku ... hanya ingin tidur disampingmu," bisik Rey pelan ditelinga Rhea.
Rhea sama sekali tidak mengerti dengan sikap Rey yang aneh ini. "Kau aneh sekali, tunggu ... sejak kapan kau jadi rapi begini? Kau kan belum mandi?"
"Aku pinjam kamar mandi ibuku," jawab Rey sambil memejamkan mata.
"Ibu sudah pulang? Aku ingin menemuinya."
"Besok saja, ibu sedang galau. Sejak datang, ia hanya memandangi surat cinta dari ayah."
"Apa? Surat cinta?"
__ADS_1
"Ehm, sudahlah ayo tidur. Temui ibu besok saja. Lagipula, jawaban ibu pasti sama dengan jawabanku."
"Wuah, kau tahu apa yang akan aku tanyakan pada ibu?"
"Tentu saja, aku tahu semua yang ada dalam pikiranmu." Rey semakin menguatkan pelukannya. "Cepat tidur atau aku ...."
"Oke-oke aku tidur," sela Rhea dan iapun langsung tertidur dalam pelukan Rey tanpa mimpi.
Melihat kecepatan tidur Rhea, Rey langsung tersenyum, "Dasar kau ini! Cepat sekali kau tertidur?" Rey memerhatikan wajah Rhea yang terlelap. Ada sedikit guratan senyum disudut bibir Rhea. Napasnya juga sangat teratur. Ini pertama kalinya, Rey melihat Rhea tidur sesenang ini. Sepertinya, sudah tidak ada lagi hal yang mengganjal dihatinya. "Selamat malam, Sayang. I love you." Rey mengecup mesra kening Rhea dan ikut tertidur sambil memeluk erat Rhea.
Pukul 03.00 dini hari, Rhea terjaga dan ia langsung bangun dari tidurnya. Gadis itu memerhatikan wajah tampan Rey yang sedang tertidur lelap disampingnya.
Rhea bergerak perlahan agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan Rey juga. Rhea memang sudah terbiasa bangun di jam seperti ini dan mulai beraktivitas. Ia pergi ke dapur dan langsung memasak untuk semuanya. Ia juga menyiapkan bekal untuk seseorang. Begitu bekalnya siap, Rhea langsung bersiap pergi keluar untuk memberikan bekal itu pada kakaknya.
"Kau mau kemana Rhea, ini masih sangat pagi," ujar seseorang yang tidak lain adalah Fey. Ibu mertuanya sendiri.
"Ehm ... maafkan saya jika lancang, Ibu. Saya hanya ingin mengirimkan bekal ini untuk kakak. Ia pasti belum makan."
"Rey mungkin terlalu lelah ibu, dia menjagaku selama 24 jam penuh. Biarkan saja Rey istirahat. Tunggu, ibu tidak marah?"
"Kenapa aku marah?"
"Karena saya sudah lancang. Tanpa izin, sudah berani mengobrak abrik dapur dan membuat bekal untuk kakak." Rhea menundukkan kepalanya.
"Kau adalah menantu di keluarga ini, Rhea. Lakukan apapun yang kau suka. Tidak akan ada yang melarang. Aku bukan mertua yang jahat, aku pernah berada diposisimu jadi aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Aku senang karena punya menantu berhati malaikat sepertimu, jadi tidak ada alasan bagiku untuk marah."
"Terimakasih, Ibu. Aku juga bahagia menjadi menantu dikeluarga ini."
"Aku dengar latihanmu sempurna."
__ADS_1
"Rey juga bilang begitu, Ibu. Aku janji pada ibu, akan mengembalikan ayah dan juga semuanya." Rhea tersenyum senang.
Fey tak bisa berkata-kata lagi. Ia memeluk erat Rhea karena menantunya ini sudah berusaha keras. "Kau pasti berhasil, karena kau adalah menantuku." Fey mengusap lembut rambut panjang Rhea.
Ucapan Fey membuat Rhea semakin bersemangat hari ini. Ia jadi lebih percaya diri dan yakin kalau ritualnya bakal berjalan dengan lancar seperti apa yang ia harapkan.
***
Rhea membantu segala kebutuhan yang Rara butuhkan. Awalnya, Rara keberatan dan tidak setuju dengan apa yang dilakukan adiknya. Namun, Rhea tetap bersikukuh dengan apa yang ia lakukan. Jika sudah begitu, Rara hanya bisa diam saja karena ia tidak punya tenaga untuk berdebat dengan Rhea.
"Ini ada beberapa makanan yang aku buat sendiri. Jika kakak lapar, ambil dari kulkas dan hangatkan. Aku juga menyiapkan banyak sekali camilan. Aku juga mengganti tv kakak dengan yang lebih besar. Ada beberapa dvd yang mengibur disana. Aku juga mengganti mesin cuci itu dengan yang baru. Jadi kakak tidak perlu sudah payah jika ingin mencuci pakaian sendiri. Oh iya, Setiap pagi, kakak harus jalan-jalan pagi. Makanlah buah yang kakak suka. Aku meninggalkan uang di dalam tas Kakak supaya kakak bisa menggunakannya untuk kebutuhan kakak. Beberapa hari ke depan mungkin aku agak sibuk, tapi begitu ada waktu, aku pasti datang kemari untuk melihat kondisi kakak. Dan nenek ...."
"Nenek sedang sibuk dengan persiapan ritual terakhirmu," sela Rara dan langsung membuat Rhea terkejut.
"Bagaimana kakak bisa tahu?"
"Ibu mertuamu yang bilang padaku."
"Apa? Ibu menemuimu? Kapan?" Rhea tidak tahu ibu mertuanya menemui kakaknya.
"Semalam, saat aku baru saja tiba dirumah. Kau beruntung, Rhea. Kau punya ibu mertua yang luar biasa. Ya sudahlah, jangan pikirkan itu. Kau sudah berusaha keras selama ini. Aku hanya bisa bilang, semoga kau berhasil menjalankan ritualmu dan hidup bahagia selamanya." Rara tersenyum penuh makna.
"Apa yang ibu katakan pada kakak?" tanya Rhea agak was-was.
"Tidak ada, ia hanya bilang kalau nenek tidak bisa pulang sampai acara ritualmu selesai dilakukan." Rara memandang Rhea yang juga menatap tajam ke arahnya. Rara hanya berharap, semoga saja adiknya tidak tahu kejadian yang sebenarnya. "Sudahlah, sekarang pergilah. Jangan buat Rey menunggu lama diluar. Bukankah kalian ada kelas sekarang? Tidak perlu khawatirkan aku dan terimakasih atas semua ini. Aku jadi merasa punya suami kalau kau terus berlebihan seperti ini." Rara berusaha tersenyum walau hatinya menangis.
BERSAMBUNG
****
__ADS_1
detik-detik menuju ritual datangnya Refald dan seluruh pasukannya. Berhasil nggak ya?