Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 88 Amarah Rey


__ADS_3

Drama ikan terbang Refald benar-benar sukses menguras emosi jiwa raga Rey dan Rhea. Tak tanggung-tanggung, alur dari drama ikan terbang itu tak pernah bisa dibayangkan oleh dua insan yang kini merasakan betapa hancur lebur perasaan mereka karena merasa tak lagi saling memiliki.


Siapapun takkan pernah rela bila kekasih yang amat sangat dicintai harus bersanding dengan orang lain dan kita tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Bahkan untuk mati saja, tidak akan cukup menghilangkan rasa sakit yang dialami Rey dan Rhea.


Rhea sendiri juga tak pernah menyangka kalau semua rasa sakit yang ia rasakan sebelumnya ternyata hanyalah sandiwara belaka yang sengaja diciptakan mertuanya. Secara tidak langsung, kini Rhea adalah istri sah kekasihnya sendiri, yaitu Rey.


Bila Rhea bisa menerima sandiwara drama ikan terbang ciptaan Refald setelah mendengar cerita panjang lebar dari ibu mertuanya, lain halnya dengan Rey. Pangeran itu sama sekali tidak terima karena ayahnya, sang raja dedemit telah habis-habisan mengerjainya.


Api kemarahan Rey begitu besar karena untuk sesaat, ia merasa kehilangan segalanya dan hatinnya hancur berkeping-keping. Namun ternyata, semua itu hanyalah akal-akalan Refald saja, tentu saja Rey marah. Mereka berdua, ayah dan anak sedang berduel adu kekuatan untuk meluapkan amarah Rey yang membara.


“Kenapa kau lakukan itu, Ayah? Apa ini menyenangkan bagimu? Apa memainkan perasaan putramu sendiri itu sangat lucu? Harusnya kau beralih profesi menjadi sutradara saja. Siapa tahu kau akan tenar seperti Hanung Bramantyo!” teriak Rey menggelegar.


“Huh, apa kau tidak tahu? Aku sudah tenar sejak dulu. Tanyakan saja pada ibumu!” sifat narsis yang dimiliki Reafldpun mulai keluar.


Rey tersenyum sinis dan mulai menyerang Refald dengan kekuatannya. Tentu saja serangan putranya itu dengan mudah ditangkis oleh Refald. Ia berniat meladeni amarah Rey sekaligus mencari tahu seberapa kuat Rey sekarang.


“Katakan dimana naga hitam itu, Ayah? Aku ingin mencincangnya! Beraninya dia mengatakan padaku kalau kau sudah tiada. Atau jangan-jangan … itu suara Ayah sendiri?” tanya Rey yang belum sadar kalau suara naga hitam tadi memang suara Refald.


Refald hanya terkekeh mendengar pertanyaan putranya. Lagi-lagi, Rey melancarkan serangan api yang keluar dari kedua tangannya. Entah Rey sadar atau tidak, api tersebut setara dengan api yang keluar dari dalam mulut naga.


“Pangeran! Sayalah naga hitam itu!” ujar pak Po mencoba menenangkan amarah menantunya, tapi Rey malah tidak percaya.


“Bohong!” ujar Rey. “Bagaimana mungkin anda bisa berkata sekejam itu padaku dan juga pada Rhea. Satu-satunya orang yang bisa berkata sekejam itu hanyalah ayahku seorang!”


“Tapi wujud naga hitam itu memang saya Pangeran, hanya saja … yang bicara memang bukan saya.” Pak Po melirik Refald yang langsung memelototinya.

__ADS_1


“Sama saja! Apa bedanya? Semua ini perbuatan ayahku!” teriak Rey penuh emosi.


“Rey! Yang sopan sama orangtua!” bentak Refald.


“Maaf, Ayah! Tapi aku sedang marah!” Rey langsung memberondong serangan bertubi-tubi yang ia tujukan langsung pada Refald sampai hampir meruntuhkan seluruh goa ini.


Rey terus melesat cepat kearah Refald dan hendak melayangkan pukulannya. Tapi pukulan itu terhenti karena pak Po pasang badan tepat didepan Refald untuk melindungi rajanya.


“Minggir, Ayah. Aku tidak bisa memukulmu!”


“Tidak, Pangeran. Tugasku adalah melindungi raja, tidak akan aku biarkan anda memukul wajah tampannya. Ibu anda bisa mengomeliku habis-habisan jika wajah tampan suaminya kena bogem putranya sendiri!”


“Salah siapa rajamu itu membuat drama ikan terbang model begini, ha!” nada suara Rey meninggi, tapi ia tak bisa marah pada pak Po.


“Anak ayahlah? Kau meragukan istrimu yang melahirkan putramu sendiri?” geram Rey dan pak Po hampir saja tertawa mendengar jawaban nggak ada akhlak menantunya.


“Dasar bocah tengik! Beraninya kau padaku, ha? Apa kau ingin aku membatalkan pernikahan kalian?” ganti Refald yang emosi sekarang, tapi pak Po berusaha menengahi mereka berdua.


“Sabar, Raja. Pangeran sedang kalap sekarang. Harap maklum!”


“Diam kau!” sengal Refald. Suami Divani ini sedang apes karena terpaksa harus menjadi pelampiasan ayah dan anak yang sedang kalap.


Rey hendak melancarkan serangannya lagi, dan Refald kembali melempar tubuh pak Po hingga mertua Rey itu terpental jauh kebelakang. Hal itu ia lakukan agar pak Po tidak terkena serangan mematikan dari putranya. Secepat kilat, Refald menangkis serangan api berkobar itu dan hampir mengenai Rey sendiri kalau saja ia tidak segera menghindar.


“Raja! Bilang dulu dong kalau mau lempar-lempar! Kenapa aku selalu sial!” gerutu pak Po dan ia langsung mengendalikan jiwanya sebelum semakin jauh terlempar.

__ADS_1


“Refleks, pak Po! Kau bisa gosong jika sampai terkena api Rey!” teriak Refald dari kejauhan sambil terus menangkis semua serangan ganas putranya.


“Mana ada pocong gosong Raja? Anda ada-ada saja!” gumam pak Po.


Dalam sekejap, pak Popun kembali kesisi Refald. Refald yang mengetahui kalau amarah Rey sudah tak terkendali lagi, jadi mulai mengkhawatirkan yang lainnya.


“Pak Po, biar aku saja menghadapi putraku, kau bawa yang lainnya keluar dari tempat ini. Sebab, sebentar lagi goa ini akan runtuh.”


“Baik Raja ... tapi … bagaimana dengan pangeran? Sepertinya ia sudah tak bsia mengontrol emosinya lagi.”


“Dia baik-baik saja. Ini hanyalah luapan api kemarahannya. Kau tahu, pak Po? Putraku, jauh lebih kuat sekarang.” Walau suasananya sedang tegang, Refald tetap bangga pada perkembangan kekuatan Rey yang meningkat drastis dari sebelumnya.


“Benar Raja. Kekuatan pangeran meningkat pesat. Kalau begitu saya permisi, hati-hati Raja … kami akan menunggu anda diluar.” Pak Popun menghilang sambil membawa Leo dan seluruh keluarganya dari goa yang sebentar lagi runtuh ini.


Setelah memastikan Leo dan yang lainnya aman, Refald mengamati putranya yang melayang di udara sambil menumpukan seluruh kekutannya pada dikedua tangannya. Kilatan mata Rey terlihat merah menyala terang dan sepertinya Rey bermaksud menghancurkan seluruh goa ini. Rey sudah bersiap melancarkan serangan dan Refald juga siap menghalaunya. Namun, aksi Rey terhenti setelah mendengar suara merdu yang tak asing lagi ditelinganya.


“Reyyyy!” teriak Rhea dari balik sudut goa yang mulai runtuh dinding-dindingnya.


Dengan cemas dan perasaan campur aduk tak karuan, Rhea berlari mendekat kearah suaminya melayang.


“Rey! Hentikan semua ini! Sudah berakhir, Rey … kau suamiku sekarang, dan aku istrimu. Bukankah itu yang kita inginkan selama ini? Hentikan kemarahanmu ini, Suamiku. Turunlah … tidakkah kau ingin memelukku?” mata Rhea berkaca-kaca. Nada suaranya juga bergetar hebat. Ia tak bisa menggmbarkan bagaimana persaannya saat ini begitu melihat suaminya perlahan melayang turun mendekat kearahnya.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2