
Pandangan mata Rey dan juga Rhea, tertuju pada segerombolan makhluk yang familiar bagi mereka berempat. Mereka semua sudah menduga bahwa dalang dibalik semua kekacauan yang terjadi di pesta resepsi pernikahan Rey dan Rhea adalah Irene. Terbukti dengan adanya monster pengkloning yang kini menjadi pasukan Irene. Semuanya jadi jelas sekarang bahwa ini semua menang sudah direncanakan Irene sebelumnya.
Bagaimana wanita itu bisa bekerjasama dengan para monster itu? Apa dia sudah tidak waras?" tanya Rey heran.
"Raja bilang, Irene adalah turunan salah satu iblis yang pernah dikalahkannya. Mungkin saja, para monster itu adalah pengikut iblis tersebut dan kini, mereka menjadi pengikut Irene," jelas Rhea dan apa yang dikatakannya memang benar. "Dia sudah banyak berubah, sayangnya sisi manusiawinya sudah tak terasa, apa jangan-jangan Irene sudah tiada? Sama seperti ayah dan Ibu?" Rhea terkejut dengan pemikirannya sendiri. Sebab ia baru sadar kalau fisik Irene tak jauh beda dengan ayah dan ibunya. Ditambah lagi, Irene bisa melihat wujud pak Po dan Divani yang sebenarnya adalah makhluk tak kasat mata. Namun karena pengaruh medan magnet yang ada disini, wujud mereka seperti berbentuk manusia.
"Sepertinya sih begitu, aku sudah curiga padanya tadi, aku yakin Irene yang kita hadapi adalah jiwanya. Rasa dendam yang begitu dalam, telah membangkitkan arwahnya dan balas dendam pada kita. Ini namanya dendam dibawa mati."
Sepertinya yang diucapkan Rey memang benar. Sebenarnya, Irene sudah tiada beberapa bulan setelah perpisahan Rey dan Rhea karena mengalami sebuah kecelakaan lalu lintas.
Hidupnya yang mengenaskan akibat kutukan dari Refald membuat ia tak ingin hidup lagi didunia fana ini. Rasa sakit hati yang begitu besar membuat ia menjadi dendam bahkan sampai ajal yang menjemputnya, Irene masih membawa dendam kesumat itu sampai mati. Hal itu diketahui oleh pengikut iblis yang pernah dikalahkan Refald dimasa lalu dan mulai meracuni jiwa Irene yang telah tiada untuk melancarkan aksi balas dendamnya seperti sekarang yang ia lakukan sekarang ini. Terutama untuk keluarga Refald.
"Sudah lama aku menantikan semua ini. Dan akhirnya, aku bisa menghancurkan kalian semua! Tapi sebelum itu, akan aku buat kalian semua mengalami apa yang aku alami. Raja Refald yang kalian agung-agungkan juga terjebak seperti kalian. Hanya tinggal menunggu waktu saja. Sebentar lagi, iapun juga akan pergi ke alam baka!" Irene tertawa terbahak-bahak karena apa yang ia inginkan sebentar lagi bakal tercapai, yaitu kehancuran seluruh keluarga raja dedemit Mirza Banta..
"Hadeuh, makhluk menyebalkan itu lagi," gumam pak Po kesal mendengar ocehan si Irene itu. "Yang bakal hancur dan pergi ke alam baka itu kau! Kau tidak tahu siapa raja Mirza Banta itu. Walaupun sekarang ini beliau terjebak seperti kami yang ada disini, sang raja mesum itu pasti bisa keluar dengan mudah. Begitu dia keluar, maka ... tamatlah riwayatmu!" Pak Po sangat yakin sekali dengan apa yang diucapkannya. Ia tak gentar dan siap untuk berperang. Kalau soal basmi membasmi iblis, pak Po masih bisa diandalkan karena kekuatan pak Po juga luar biasa. Apalgi kalau gilanya lagi kumat. Semua musuh bisa dikalahkan dengan mudah oleh pak Po.
"Gawat, bagaimana ini?" tanya Rhea setelah melihat banyaknya makhluk pengkloning para pasukan Irene. Walaupun ucapan ayahnya itu benar, tetap saja Irene dan pasukan tak bisa dianggap remeh.
Hanya ada 4 orang disini, sementara jumlah monster itu ada banyak. Kemungkinan besar wujud Rey, Rhea, pak Po dan Divani pasti lebih dari satu. Kembar dua saja sangat susah dibedakan apalagi kalau sampai kembar banyak. Entah bagaimana cara agar keempat orang ini tak terkecoh dengan semua makhluk pengkloning itu. Sebab, mereka juga monster penghisap darah yang berbahaya, jika mereka berempat lengah dan sampai tertangkap maka sudah dipastikan seperti apa akhir dari peristiwa ini.
__ADS_1
"Buaya dan singa!" ujar Rey tiba-tiba. Ia menatap tajam seluruh pasukan pengkloning itu dengan penuh waspada. Tangannya juga terus menggenggam erat tangan Rhea seolah enggan ia lepaskan.
"Hah? Apa maksudmu?" tanya Rhea bingung karena disaat genting begini Rey malah menghafal nama binatang.
"Ucapkan salah satu dari 2 kata itu saat bertemu dengan diriku yang lain. Jika aku yang asli pasti tahu lanjutan dari kata yang kau ucapkan," terang Rey tanpa menoleh pada Rhea.
"Tapi kenapa harus Buaya dan Singa?"
"Karena, 2 binatang itulah yang mempertemukan kita pertama kali. Apa kau sudah lupa, Sayang?"
Rhea tersenyum, mana mungkin ia melupakan momen pertemuannya dengan pangeran pujaan hatinya itu? Saat itu ia mejadi pahlawan kesiangan Rey yang masih menjadi manusia biasa dan hampir saja menjadi santapan rebutan buaya dan singa.
Kalau soal ayah mertuanya, Rhea percaya bahwa raja dedemit itu tak semudah itu bisa dikalahkan dengan mudah. Sebab, Refald pasti menemukan banyak cara agar ia bisa terbebas dari jebakan yang dibuat Irene.
"Ezi ... katakan? Bunga apa yang mempertemukan kita hingga kita bisa bersama seperti ini." Divani melirik pak Po yang menatap lurus musuh-musuhnya. "Jangan bilang kalau kau sudah lupa." Divani menunggu jawaban dari pak Po.
"Haruskah kujawab sekarang?" Pak Po malah balik bertanya tanpa ekspresi.
"Tidak, tahun depan saja!" Divani langsung dongkol mendengar pertanyaan suaminya. "Haedeuh aku lupa kalau kau itu bloon sekali. Sepertinya aku tak perlu kode untuk mengenali dirimu yang asli. Para makhluk pengkloning itu takkan bisa menyamai kebloonannya." Divani menutup wajah dengan satu tangannya mencoba bersabar menghadapi pak Po.
__ADS_1
"Ya sudah, aku akan menjawabnya tahun depan saja." Pak Po pun mengiyakan apa yang dikatakan istrinya.
Kalau ada Refald dan Fey disini, pasti pak Po bakal kena omel mereka. Sayangnya, Refald sendiri sedang terjebak dalam pusaran medan magnet bersama dengan Leo, sama seperti pak Po dan yang lainnya. Sementara Fey dan Shena masih berjuang untuk menyelamatkan para suami-suami mereka.
Setelah dirasa cukup beristirahat, Fey dan Shena melanjutkan perjalanan. Namun, seperti yang Fey duga, ia bisa merasakan hawa keberadaan Refald ada disekitarnya.
"Tunggu Shena!" seru Fey tiba-tiba dan otomatis mengagetkan Shena."Diam ditempatmu dan jangan bergetar," ujar Fey lagi dan ia mulai mewaspadai sesuatu.
"Ada apa, Kak?" tanya Shena bingung. "Apa ... Kakak sudah menemui keberadaan Leo dan Kak Refald?"
"Sepertinya begitu, tapi ada masalah besar dan aku butuh waktu untuk memastikannya." Fey memejamkan matanya untuk berkonsentrasi penuh.
Masih ada satu hal yang hampir ia lupakan. Yaitu mbak Kun dan iblis Arka yang sedang berbulan madu kedua dibelahan dunia yang lain. Dan sepertinya sudah waktunya Fey memanggil mereka berdua kembali kemari.
BERSAMBUNG
***
Nah, yang kemaren nyari mbak Kun sama Arka, siap-siap menyambut kedatangan mereka ya ... hehe ..
__ADS_1