
Rhea tersenyum meski airmatanya terus mengalir. Akhirnya ... hari inilah yang sangat dinanti-nantikan oleh Rhea. Kakaknya sudah berubah, ia bukan lagi Rara yang jahat lagi. Rhea terlalu senang karena apa yang selama ini ia harapkan telah terwujud meski dengan cara yang menyakitkan.
Benar kata pepatah yang mengatakan bahwa selalu ada hikmah dibalik musibah. Hikmah yang bisa Rara ambil dari kejadian ini yaitu ia sudah bisa menyadari kesalahannya. Kini, Rhea hanya bisa berharap kakaknya mau dan kuat menjalani kehidupan barunya bersama dengan calon buah hatinya sendiri. kekasih Rey itu menatap kakaknya sambil berlinang air mata.
"Kenapa kau menangis? Apa tebakanku benar? Rey cemburu padaku?" tanya Rara heran karena Rhea masih saja menangis.
"Bukan itu," isak Rhea. "Aku merasa, aku menemukan kakakku yang sebenarnya. Inilah kakakku yang aku kenal 3 tahun yang lalu sebelum insiden tenggelamnya aku ke danau." Rhea terus menangis di depan Rara. "Terimakasih sudah kembali, Kak. Jangan berubah lagi. Tetaplah menjadi Rara yang sekarang ini. Kau tidak hancur, tapi kau sudah terlahir sebagai Rara yang baru. Aku menyayangimu, Kak." Rhea memeluk Rara untuk kesekian kalinya. Keduanya juga menangis bersama.
"Maafkan aku, Rhea. Karena iri dan dengki, aku membuat hidupmu menderita. Seumur hidupku, aku tidak akan pernah bisa menebus perbuatanku padamu." Rara menyatukan kedua tangannya didepan Rhea sebagai tanda permintaan maafnya. Namun, Rhea langsung menggenggam kedua tangan terkatup itu.
"Tidak, Kak. Aku lah yang harus minta maaf atas apa yang pernah terjadi padamu gara-gara aku. Aku sungguh bahagia jika kau ... masih mau menjadi kakakku." Rhea menyeka air matanya berharap kakaknya ini menerimanya kembali.
"Tidak Rhea, kau akan menikah dengan keluarga terpandang, semua orang pasti akan menghina dan merendahkanmu jika kau punya kakak sepertiku. Aku tidak ingin, gara-gara aibku yang hina ini. Kau dan keluarga mertuamu tercemar di mata masyarakat. Biarkan aku hidup sendiri dan menanggung semua beban hidup ini sebagai hukuman atas apa yang sudah aku lakukan."
"Tapi, Kak ...."
"Keputusanku sudah bulat Rhea. Kau tidak boleh berhubungan lagi denganku. Pikirkan nama baik suami dan keluarganya. Kau akan segera menikah, bukan? Seluruh kenalan keluarga suamimu, tidak bolah ada yang tahu kalau wanita hina ini adalah kakak angkatmu. Sudah cukup penderitaan yang aku berikan padamu, Rhea. Aku tidak ingin kau menderita lagi. Kini, kau layak bahagia bersama pangeranmu." Rara tersenyum pada Rhea untuk pertama kalinya dan itu membuat hati Rhea kembali sakit.
Jantung Rhea juga langsung berdetak kencang. Ia menatap wajah Rey yang sejak tadi berdiri diam mengawasinya. Rey tidak mendekat dan tetap stay di posisinya. Rhea juga tidak tahu apa yang ada dipikirkan Rey sekarang. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa apa yang dikatakan Rara memang benar.
__ADS_1
Hati Rhea jadi semakin bingung sekarang. Disisi lain, apa yang dikatakan Rara tidaklah salah. Saat ini, Rhea tak hanya menyandang sebagai pemilik pabrik di kota ini, tapi juga menantu dari seorang raja yang terkenal di seluruh alam jagad raya termasuk dikalangan para makhluk astral. Apa yang akan dikatakan semua orang jika Refald dan Fey punya menantu yang kakak angkatnya sudah hamil diluar nikah. Rhea tidak bisa lagi membayangkannya.
Melihat kegelisahan di wajah Rhea, Rara pun mengerti. Iapun mencoba menenangkan Rhea. "Jangan pikirkan aku, pikirkan dirimu sendiri. Aku senang kau sudah memaafkanku. Kau benar Rhea, sedikit banyak aku merasakan perasaan janin yang ku kandung ini. Ia seolah berkata supaya aku mempertahankannya. Dan aku putuskan untuk mempertahankan janin ini dan hidup dengan baik juga bersamanya. Aku hanya tidak perlu menghiraukan pendapat orang lain tentangku.
Terimakasih untuk segalanya Rhea, terimakasih juga karena sudah mau peduli padaku. Mulai sekarang, aku tidak akan merepotkanmu lagi. Aku akan hidup, demi anakku. Berjanjilah padaku kau tidak akan pernah mencemaskanku lagi. Hiduplah bahagia dengan Rey. Ini sudah larut, sebaiknya pulanglah! Aku sudah tidak apa-apa sekarang." Rara mencoba bangun berdiri dan berjalan pelan pulang kerumahnya seorang diri meninggalkan Rhea dalam diam.
"Tapi, Kak ... bolehkah aku menemuimu? Aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini."
"Boleh, asal jangan sampai ada orang yang lihat. Aku tidak ingin kau terkena masalah gara-gara aku." Rara tersenyum lagi. "Kau tidak perlu mengantarku, aku bisa pulang sendiri."
Rhea tak bisa berbuat banyak kali ini, sebab Rey sama sekali tak mengucapkan apapun padanya. Rhea juga tak bisa mengantar Rara pulang meski ia sangat mengkhawatirkan kondisi kakaknya.
"Kau marah padaku?" tanya Rhea was-was. Ia takut membuat kesalahan.
"Tidak!" Rey menunduk dan menyembunyikan ekspresinya. "Justru ... aku bangga padamu. Dengan mudah kau memaafkan kesalahan orang yang sudah membuat hidupmu menderita selama ini. Aku sampai tidak tahu harus berkata apa lagi sekarang." Rey maju mendekat ke arah Rhea. "Kau luar biasa keren, Sayang. Kau adalah bidadari hatiku. Aku beruntung menjadi pasangan hidupmu. Hatimu sungguh mulia. Sekarang aku tahu alasan ayah dan ibuku memilihmu menjadi bagian dari jiwaku. Itu karena, hanya kaulah satu-satunya wanita yang pantas menjadi permaisuriku." Rey memeluk Rhea yang sedang menangis dalam diam.
"Boleh ... aku bertanya satu hal?" tanya Rhea masih dalam pelukan Rey.
"Aku tidak malu, Sayang. Aku tidak pernah peduli pada hal-hal semacam itu. Yang aku cintai adalah dirimu. Bukan apa yang melekat disekelilingmu."
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa tahu? Aku saja belum bertanya." Rhea shock karena Rey langsung tahu pertanyaan yang bakal ia tanyakan padanya.
"Apa kau lupa siapa aku?" Rey balik bertanya.
"Benar juga, kau bisa membaca pikiranku."
Rey kembali tersenyum, ia mengecup pelan kening Rhea. "Ayo kita pulang, besok saja kita latihan."
"Tidak," seru Rhea,"Aku mau latihan sekarang."
Tanpa menunggu jawaban dari Rey, Rhea langsung berlari ke danau dan melompat masuk kedalam air dengan semangat api yang membara.
"Tidak! Rhea ... apa yang kau lakukan?" teriak. Rey yang langsung terkejut melihat aksi gila kekasihnya. "Dasar keras kepala." Rey melepas sepatunya dan melemparnya ke sembarang arah. Ia pun berlari dan melompat masuk ke dalam air untuk mencari keberadaan istrinya.
Tak butuh waktu lama bagi Rey untuk menemukan dimana posisi Rhea berada. Rey terkejut melihat aura yang keluar dari dalam tubuh Rhea. Gadis itu berbeda dari sebelumnya. Ia juga terlihat sangat tenang dan sedang berkonsentrasi penuh. Jika Rhea terus seperti ini, Rey yakin ritual terakhir yang akan dilakukan Rhea, pasti berhasil.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1