Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 107 Mesra


__ADS_3

Sang raja dedemit masih betah memejamkan matanya untuk terus mencari keberadaan pemimpin monster ini. Sepertinya pemimpin tersebut bukanlah pemimpin biasa. Iapun menggunakan lapisan pelindung yang membuat Refald kesulitan mendeteksinya. Yang bisa Refald lakukan sekarang hanya menunggu lapisan pelindung musuh melemah dan barulah Refald bisa menemukan hawa keberadaan dalang dibalik semua kejadian yang terjadi disini.


Sementara Byon dan Biyanca serta ayah dan ibu Refald, sedang dihadapkan dengan masalah yang sama. Para nenek-nenek kece ini mencoba melontarkan pertanyaan pada suami dan duplikatnya untuk mengetahui siapakah diantara mereka yang asli.


Dimulai dari Biyanca terlebih dulu. Wanita paruh baya berwajah oriental itu menatap tajam mata suaminya dan kembarannya secara bergantian.


“Byon, apa yang kau katakan padaku saat masih remaja dulu, tepat sebelum kau bertunangan dengan Eshild? Kau ingat?” tandas Biyanca dengan hati was-was. Karen amomen itu sudah lama sekali, ibu Leo itu takut suaminya sudah melupakan kalimat termanis yang pernah Biyanca dengar dalam hidupnya.


Baik Byon dan kembarannya, tidak ada yang menjawab pertanyaan Biyanca. Wanita paruh baya itu jadi semakin kesal. Bagi Biyanca, kata-kata Byonlah yang membuatnya bertahan untuk terus berada disisi Byon hingga sekarang. Kebangetan sekali bila suaminya itu tidak mengingat kalimatnya sendiri. Sebuah kalimat cinta yang pernah ayah Leo itu ucapkan puluhan tahun silam. Meski kini Biyanca sudah berumur, kata-kata manis dan indah itu masih saja terngiang dikepalanya.


“Maaf, Sayang … aku lupa,” jawab Byon sambil menundukkan kepalanya dan hal itu memang sudah Biyanca duga.


“Bii, itu sudah lama sekali, aku … lupa!” jawab Byon yang satunya.


Mendengar dua jawaban itu, Biyanca hanya bisa menelan salivanya sambil membuang jauh rasa kecewanya meski dalam hatinya, ada sedikit rasa nyesek juga. Padahal ibu mertua Shena itu berharap, Byon mengingat kalimat yang telah berhasil menggetarkan hati dan jiwanya.


“Tidak perlu dijawab lagi, aku sudah tahu diantara kalian berdua, siapakah Byon yang asli!” Biyanca menyembunyikan rasa kecewanya dan beralih menatap Fey. “Habisi dia, Fey.” Biyanca menunjuk Byon palsu. Yah tidak salah lagi, Byon yang menjawab pertanyaan Biyanca pertama kali, dialah monster bertopeng yang menyamar sebagai suaminya.


“Baik, Bibi!” dengan gerakan super duper cepat, Fey menghempaskan Byon palsu menggunakan kekuatannya sehingga dalam sekejap, makhluk yang tak lain adalah monster bertopeng itu lenyap seketika.


“Bagaimana kau bisa tahu kalau dialah Byon palsu, Bii? Dan bukannya aku? Padahal aku belum menjawab pertanyaanmu?” tanya Byon pada istrinya.


“Karena hanya ada 3 orang yang memanggilku dengan sebutan ‘Bii’. Pertama, almarhum ibuku, kedua kak Baida, dan yang ketiga adalah kau! Sama halnya dengan Refald yang selalu memanggil Fey dengan sebutan ‘Honey’. Kata ‘Bii’ hanya kau yang bisa menyebutnya di sini.” Nada suara Biyanca sedikit sedih, sebab Byon telah melupakan kalimat manisnya sendiri.

__ADS_1


Mata ibu Leo itu berkaca-kaca seolah ingin menangis, cinta Byon padanya sepertinya sudah terkikis oleh waktu seiring bertambahnya usia keduanya. Namun, Biyanca mati-matian menahan agar air matanya tidak tumpah keluar. Biyanca memalingkan wajahnya dari Byon yang sejak tadi menatapnya.


Seakan tahu apa yang ada dipikiran istrinya, Byon mengatakan sebuah kalimat yang langsung membuat Biyanca tercengang. “Kau hanya akan menjadi milikku, Bii. Tidak ada seorangpun yang boleh memilikimu selain aku, selamanya … kau hanya akan menjadi milikku,” ucap Byon tiba-tiba mengagetkan Biyanca. Wajahnya langsung menatap wajah Byon sambil berurai air mata.


“Kau … ingat kalimat itu?” tanya Biyanca tak percaya, suaminya mengatakan kalimat yang sangat ia suka disepanjang hidupnya.


“Bagaimana bisa aku lupa, aku mempertaruhkan segalanya demi bisa bersamamu, Bii. Tidak mungkin aku melupakan kalimat yang aku ucapkan demi bisa mendapatkanmu. Walaupun aku sudah tua, hanya kalimat itulah yang ada diingatanku, bahkan jika aku mati sekalipun. Aku akan mengingat kalimat itu.” Byon memeluk istrinya dengan erat dan tangis Biyanca langsung pecah dalam dekapan suaminya.


“Kau bilang, tadi lupa? Kau benar-benar menakutiku.”


“Aku hanya tidak ingin ada orang lain yang ikut mengucapkan kalimat itu padamu. Itulah kenapa aku berpura-pura lupa. Kalau tadi aku mengatakannya, monster peniru itu pasti ikut-ikutan dan aku tidak mau itu terjadi. Akan lebih baik jika aku bilang lupa.” Byon menjelaskan alasannya.


Ayah Leo itu melepas pelukannya dan mengusap lembut sisa bulir air mata yang menempel di pipi Biyanca. Sungguh adegan yang bisa bikin hati jadi baper tingkat tinggi. Meski keduanya sudah tua, cinta Byon dan Biyanca tetap abadi selamanya.


“Mereka sok mesra sekali!” gumam ayah Refald sewot melihat kemesraan saudara iparnya.


“Sebaiknya kau mengaku saja kalau kaulah yang palsu! Jika tidak, kau akan berakhir seperti rekanmu yang lain.”


“Huh, simpan kata-kata itu untuk dirimu sendiri.”


“Hei kalian berdua!” seru ibu Refald yang sudah tidak tahan mendengar perdebatan suami dan kembarannya. “Sekarang giliranku mengajukan pertanyaan.” Ibu Refald menatap tajam mata dua orang kembar dihadapannya.


“Kalimat apa yang kau katakan saat kau memintaku menjadi istrimu?” tanya ibu Refald penuh waspada.

__ADS_1


“Apalagi? Tentu saja aku mencintaimu dan menikahlah denganku?” jawab Dilagara selaku ayah Refald.


“Dan kau?” tanya ibu Refald pada Dilagara yang lain.


“Aku … adalah pangeranmu, dan aku ingin kau jadi permaisuriku. Istanaku … adalah cinta yang kupunya untukmu dan aku ingin … kau berlindung dibawahnya.” Tatapan mata ayah Refald menatap tajam mata istrinya yang tersenyum mendengar kalimatnya.


“Wuah, daebak! Baik paman Byon dan ayah mertua … mereka berdua jauh lebih romantis habis dari kau dan Leo,” ujar Fey ikut terharu mendengar kata-kata syahdu yang keluar dari ayah Leo dan ayah mertuanya.


“Kenapa aku kesal sekali mendengar ucapan mereka berdua?” gumam Refald.


“Sial! Kenapa ayah bisa seromantis itu pada ibu?” seru Leo tak terima. Entah mengapa Leo jadi badmood akut sekarang karena keromantisannya dengan Shena telah tersaingi oleh keluarganya sendiri.


“Kau juga romantis habis Leo, Sayang.” Shena mencoba menghibur suaminya.


“Benarkah?” tanya Leo sedikit girang.


“Ehm, tentu saja …bagiku … tak ada yang bisa mengalahkan keromantisanmu padaku. Ayah dan ibu punya keromantisan tersendiri, begitu juga dengan kak Fey dan kak Refald. Kita semua, punya kisah cinta indah kita masing-masing.” Shena melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya agar Leo tak jadi badmood lagi.


“Kau benar juga, Sayang. Setiap orang yang ada di istana ini, memiliki kisah cinta tersendiri.” Sebuah ciuman manis mendarat di bibir ranum Shena seperti biasanya. Memang dasar Leo dan Shena tidak tahu tempat dan sikon. Seenaknya saja bermesraan di tempat umum dalam keadaan perang begini.


Sedangkan Yeon dan Bima, mereka berdua merasa bangga, ternyata kakek-kakek mereka yang tadinya terlihat sangar dan menyeramkan ternyata bisa bersikap sweet juga. “Aku tidak menyangka, kakek dan kakek Dilagara keren habis euy,” seru Bima dan Yeon langsung menyetujuinya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


Huaaaa .... part ini bikin aku ingin rilis Byon dan Biyanca, tapi apa daya masih belum dapat acc, hiks hiks ...


__ADS_2