
Deg!
Shena lupa kalau ia sekarang sedang terdampar di negeri istana sentris alias kembali ke masa lalu. Sangat aneh jika ia mengetahui semua nama-nama orang yang ada di sini berdasarkan buku yang pernah ia baca. Shena mengamati dua orang dayang yang sedang menodongnya dengan tombak. Dalam situasi seperti ini, ia tak boleh bertindak gegabah dan harus lebih berhati-hati ketika ia berbicara.
Kalau tidak salah, dalam cerita panji Semirang, pastilah dua dayang ini adalah Ken Bayan dan Ken Sangit, dayang setia yang menjaga dan melayani Putri Candra Kirana. batin Shena. Semoga saja dugaan Shena ini tepat, sebab kakak iparnya kini telah berubah menjadi putri Galuh Candra Kirana dan tidak mengenalinya.
“Gawat, apa yang harus aku lakukan agar kak Fey mengenaliku?” gumam Shena lirih.
“Bicara yang jelas! Jangan komat kamit begitu?” bentak wanita yang bernama Ken Sangit.
“Sa-saya … hanya menebak saja. Maafkan saya jika saya lancang. Sungguh saya hanay asal tebak saja tadi.” Shena bingung harus memanggil apa Ken Bayan dan Ken Sangit ini. Sebab ia tak bisa logat bahasa orang di zaman dulu. Apalagi dalam cerita yang Shena baca, kebanyakan masih menggunakan bahasa melayu.
“Ken Sangit,” ujar Fey alias putri Candra kirana kepada embannya.
“Iya Putri,” ucap wanita yang di panggil Fey ‘Ken Sangit’.
“Jangan terlalu kasar padanya. Sepertinya wanita asing itu tersesat. Lihatlah, dia terlihat sangat ketakutan. Kita ajak dia bergabung dengan kelompok kita. Banyak orang lebih baik.” Fey alias putri Galuh Candra Kirana itu turun dari kudanya dan mendekati Shena.
Meskipun Fey yang kini menjadi putri Candra Kirana tak mengenali Shena, entah mengapa aura wanita yang berdiri dihadapan istri Leo itu sama persis dengan Fey. Shena sangat yakin kalau putri Candra Kirana itu adalah kakak iparnya. Ia bahkan berspekulasi bahwa ketika mereka memasuki dimensi waktu yang diluar nalar manusia ini, maka mereka akan berubah menjadi leluhurnya dan ingatannya di dunia modern menghilang. Itulah mengapa Fey tak mengenali Shena sekarang.
__ADS_1
Shena dan Fey sama-sama keturunan dari putri Candra Kirana dan sangat tidak mungkin mereka berdua menjadi putri dalam dunia ini. Jadi, salah satu diantara mereka berdua harus menjadi putri, dan yang terpilih adalah Fey. Sedangkan Shena, tetap menjadi dirinya sendiri dan bertugas untuk menyelesaikan romansa kisah yang digambarkan dalam cerita ‘Panji Semirang’ seperti yang pernah Fey ucapkan sesaat sebelum mereka tersedot ke dalam lorong waktu. Inilah teka-teki yang harus segera dipecahkan Shena yang tak terpengaruh dengan perubahan dalam dunia istana sentris ini.
“Maaf atas tingkah laku para embanku, jika anda tidak keberatan, bergabunglah bersama kami. Kebetulan kami sedang mengembara dan mencari tempat tinggal yang pas untuk bisa kami tinggali,” ujar Fey dengan lemah lembut.
Walaupun Fey dan Shena menjadi orang asing di dunia ini, tetap saja Shena masih bisa merasakan kehangatan dan persahabatan Fey padanya.
Kakak, batin Shena sambil melihat wajah cantik Fey dengan mata berbinar-binar.
Ingin sekali ia memeluk tubuh kakak iparnya tapi hal itu tak mungin bisa ia lakukan sekarang. Namun, hati Shena merasa sedikit lega karena ia tak sendirian lagi di dunia ini. Tak ada pilihan lain bagi Shena selain menerima tawaran kakak iparnya meskipun ia tidak tahu apakah pilihannya itu benar atau salah. Mau tidak mau Shena harus mengikuti kemanapun Fey pergi sembari memikirkan cara agar mereka semua bisa keluar dari sini.
Keempat wanita ini memutuskan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki dan menuntun kuda-kuda mereka. Sepanjang perjalanan, Shena memikirkan bagaimana keadaan suaminya saat ini dan juga seperti apa Refald sekarang. Jika Fey menjadi seorang putri di dunia ini, maka Refald harusnya menjadi raja atau paling tidak putra mahkota. Dan Shena berharap, Refald menjadi Reden Inu Kertapati, tunangan dari putri Candra Kirana alias Fey.
Hati Shena sedang kalut akut. Bagaimana tidak? Ia terdampar disebuah negeri asing yang belum pernah ia datangi. Meskipun Shena bertemu dengan orang yang ia kenal, tetap saja orang itu tidak bisa mengenalinya. Dan yang lebih parahnya lagi adalah ia tak tahu bagaimana keadaan suaminya, apakah masih hidup ataukah bagaimana. Shena juga tak bisa menghubungi siapapaun untuk membantunya keluar dari sini. Satu-satunya petunjuk yang ia dapat adalah Fey memintanya menghafal semua alur cerita yang ada di buku ‘Panji Semirang’.
Masalahnya adalah, Shena membaca buku itu sewaktu ia masih duduk di bangku SMP yang artinya, itu sudah puluhan tahun yang lalu. Bagaimana bisa Shena mengingat semuanya? Memikirkan hal itu, kepala Shena serasa mau pecah. Berkali-kali ia menepuk-nepuk pipinya sendiri berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi. Namun, rasa sakit akibat tepukan tangannya menandakan bahwa yang ia alami ini bukan mimpi, tapi fakta dan nyata.
“Bagaimana ini,” gumam Shena sambil berjalan kesana-kemari. “Situasi yang terjadi saat ini adalah putri Candra Kirana akan mendirikan kerajaan di tempat ini dan menyamar sebagai Panji Semirang Asmarantaka. Itu artinya, Raden Inu Kertapati juga akan bertemu dengan istrinya. Iyah! Menurut cerita, itulah yang terjadi. Aku hanya akan menunggu kedatangan kakak ipar. Semoga saja Raden Inu adalah dia. Tapi … bagaimana kalau yang jadi Raden Inu adalah Leo. Astaga! Apa yang harus aku lakukan? Tapi sepertinya tidak mungkin, Leo adalah keturunan Jerman dan China, tidak ada jawa-jawanya. Sangat tidak mungkin dia jadi Raden Inu. Aduh … aku bisa gila jika lama-lama berada di sini!” Shena memegang kepalanya dengan kedua tangannya sambil terus menerus mondar mandir kesana-kemari.
Gerak gerik Shena sedang diperhatikan oleh Ken Bayan dan Ken sangit yang agak sedikit waspada dengan keberadaan orang asing seperti Shena. Apalagi, tingkah Shena ini sangat aneh bin ajaib. Dari segi pakaian, gaya bicara dan bahkan perilaku Shena sama sekali tak mencerminkan adat istiadat penduduk yang tinggal di negeri antah brantah ini. Bagi mereka, Shena lebih mirip alien daripada manusia, benar-benar berbeda dengan semua orang yang ada di sini. Shena bahkan tak menunjukkan sopan santunnya pada putri mereka.
__ADS_1
“Lihat, wanita itu! Sepertinya, dia … agak-agak gila,” bisik Ken Bayan pada Ken Sangit.
“Kau benar, itulah mengapa dia siusir dari desanya dan melarikan diri ke hutan ini lalu tersesat, pakaiannya juga aneh? Modelnya sangat berbeda dengan apa yang kita pakai sekarang. Mungkinkah ia tak bisa memakai pakaian yang kita pakai? Sebenarnya, dia itu manusia atau bukan, sih?” Ken Sangit sangat penasaran akan sosok siapa Shena sebenarnya.
“Mengapa kalian malah membicarakan orang butuh bantuan kita?” ujar Fey alias putri Candra Kirana yang tak sengaja mendengar pembicaraan dua embannya. “Dia tersesat dan bingung dengan keberadaannya di sini. Sebagai sesama manusia, bukankah kita saling tolong menolong? Tidak baik terus menerus mencurigai orang lain tanpa alasan yang jelas,” ujar Fey cenderung membela Shena. Ia sungguh merasa mengenal gadis yang terus bergumam pada dirinya sendiri seperti orang gila sungguhan. Hanya saja Fey sama sekali tidak ingat apa-apa. Matanya juag terus tertuju pada Shena.
“Mengapa Putri seolah membela wanita asing itu? Tidakkah kita harus bersikap waspada kepada siapapun sekarang?” tanya Ken Bayan.
“Entahlah, aku merasa … aku mengenalnya. Dia bukan orang jahat, jadi jangan cemaskan dia. Dan aku sudah putuskan, kalau kita akan membangun kerajaan disini. Ditempat ini, tepaqt dibawah kaki kiat berdiri,” ujar Fey tersenyum senang. Tentu saja hal ini menandakan bahwa dugaan Shena memang benar.
“Apa?” Ken Bayan dan Ken Sangit berteriak bersamaan.
Jika Fey benar-benar mendirikan sebuah kerajaan di tempat ini, maka tak menuntut kemungkinan, Fey akan bertemu dengan tunangannya, yaitu Raden Inu Kertapati. Yang menjadi pertanyaan besar bagi Shena selaku sutradara dari kisah ini adalah apakah Refald Raden Inu Kertapati itu atau bukan? Itulah yang menjadi misteri dan belum bisa terpecahkan.
BERSAMBUNG
***
Maaf kalau slow up ya … karena masih sibuk banget di RL. Terus dukung semua karyaku dan ikuti perjalanan dua pasang sejoli ini selama mereka berempat tersedot dalam dimensi waktu. Love you all.
__ADS_1