Menikahi Seorang Putra Raja

Menikahi Seorang Putra Raja
episode 153 Biola


__ADS_3

Air mata mulai jatuh mengalir membasahi pipi lembut Fey yang kini berdiri lemah dihadapan suaminya. Wanita yang sedang hamil muda itu terus menundukkan kepalanya untuk menguatkan hati dan terus melanjutkan tekadnya, yaitu tetap ikut kemanapun Refald pergi sekalipun suaminya itu pergi ke alam baka.


Lagipula, ini bukan pertama kalinya Refald dan Fey dihadapkan dengan jurang kematian. Berkali-kali pasangan fenomenal itu hampir saja kehilangan nyawa, tapi pada akirnya mereka tetap bisa hidup bersama hingga sekarang. Kali inipun sama, Fey yakin, ia dan Refald masih bisa tetap bersama dalam keadaan apapun, tak peduli seberapa besar bahaya yang menghadang keduanya.


Tangan Fey tak pernah ia lepaskan dari tubuh dingin Refald yang terpaku menatap kesedihan wanita yang amat sangat ia cintai melebihi apapun. Namun, saat ini tak ada yang bisa dilakukan Refald selain diam menunggu sampai Fey kembali merasa tenang. Refald bahkan dapat merasakan tubuh Fey yang bergetar karena menangis didekapannya.


Jangan ditanya bagaimana perasaan Refald saat ini. Ia jauh lebih terpukul karena tak bisa terus bersama dengan istrinya untuk sementara ini. Namun, Refald juga tahu bahwa masih ada satu kemungkinan kecil agar ia dan wanita pujaan hatinya bisa kembali bersama dan takkan pernah terpisahkan lagi selamanya. Sayangnya, kemungkinan kecil itu tidaklah mudah untuk dilakukan. Sebab, ada orang lain yang ikut andil apakah Fey dan Refald bisa bersama lagi seperti sedia kala. Dengan kata lain, kebersamaan pasangan ini, tergantung dari pilihan yang diambil oleh orang tersebut.


“Honey, dengarkan aku ….”


“Maafkan aku,” sela Fey langsung sebelum suaminya itu menyelesaikan kalimatnya. “Maaf Refald, aku sungguh tidak tahu kalau tindakanku bisa mencelakaimu, gara-gara aku … kau harus mengalami ini semua. Maafkan aku … aku sungguh-sungguh minta maaf.” Fey terus saja menangis pilu dipelukan Refald sambil mencengkeram kuat jaket hitam milik suaminya.


“Ini bukan salahmu, Honey. Kau tidak perlu minta maaf. Aku … tak pernah menyalahkanmu, justru aku beruntung dan sangat bangga memiliki wanita hebat serta tangguh sepertimu. Kau luar biasa. Aku mencintaimu, Honey. Sungguh, jangan pernah merasa bersalah atas apa yang terjadi.”


“Aku tetap akan ikut denganmu, kemanapun kau pergi. Jika kau mati, maka akupun ikut mati. Aku tak bisa hidup tanpamu, Refald? Bawa aku pergi bersamamu, aku mohon … hidupku tak berarti apa-apa tanpamu disisiku. Aku mohon, Rafald … bawa aku pergi. Bawa aku bersamamu.” Air mata Fey semakin deras mengalir begitupula dengan Refald.


Hati Refald terasa sangat berat, ia juga ingin terus bersama dengan istrinya. Namun, Refald tak boleh egois, ada hal yang harus Fey lakukan di dunia ini sendiri tanpa dirinya.


“Honey, aku tahu aku tak bisa meyakinkanmu untuk tidak ikut bersamaku kemanapun aku pergi, tapi … jika kau ikut denganku sekarang, bagaimana dengan Leo dan Shena? Mereka berdua akan terjebak di dalam dunia ini selamanya. Mungkin mereka tidak keberatan asal kita berdua bisa bahagia. Tapi bagaimana dengan Yeon, Bima dan Lea? Mereka bertiga masih membutuhkan Leo dan Shena. Apa yang akan terjadi pada mereka jika mereka tahu orangtuanya takkan pernah lagi bisa menemui mereka karena terjebak di sini?”


Deg!

__ADS_1


Ucapan Refald seketika seolah menjadi bom atom bagi Fey. Karena rasa cintanya yang begitu dalam pada Refald, Fey sampai melupakan pasangan sejoli tak berdosa itu. Ia sungguh lupa, kalau Leo dan Shena juga ikut terkena imbasnya akibat kesalahan yang telah dilakukannya.


“Lalu … apa yang harus aku lakukan? Aku tak bisa sendirian tanpamu Refald?” tanya Fey dengan hati kalut dan juga bingung.


“Inilah yang ingin aku katakan padamu, Honey. Kembalilah ke dunia istana sentris itu dengan membawa biola ini.” Refald menyerahkan sebuah biola klasik kepada Fey.


“Biola?” tanya Fey tidak mengerti. Ia mengamati biola cantik yang ada dikedua tangan Refald. Entah sejak kapan biola tersebut tiba-tiba ada pada suaminya.


“Ehm, biola. Kau harus memainkan lagu yang pernah kau mainkan saat kedatangan jiwa ibu tepat di pesta pernikahan kakakmu sebagai hadiah penikahanmu saat menikah denganku. Kau masih ingat, kan? Lagu yang kau mainkan itu adalah lagu penghubung antar dimensi. Mainkan lagu itu agar kau, Leo dan Shena bisa kembali ke dunia asal kita. Kau mengerti Honey?” ujar Refald sambil meyerahkan biola itu ditangan lembut istrinya.


Fey yang masih bingung, menatap biola klasik yang elegan itu dan menerimanya dari tangan Refald. Matanya tak henti-hentinya memandangi biola pemberian suaminya.


"Lalu … bagaimana denganmu? Kau akan ikut juga dengan kami, kan?” tanya Fey pada Refald tapi suaminya itu sudah tidak ada lagi dihadapannya. “Refald!” teriak Fey mulai panik dan juga terkejut. “Refald!” seru Fey lagi.


“Aku percayakan semuanya padamu, Honey. Cepatlah! Karena waktu kita tidak banyak, aku mencintaimu, Honey.” Itulah suara terakhir Refald sebelum ia benar-benar menghilang.


“Tidak! Refald! Kau tak bisa meninggalkanku seperti ini! Kembalilah padaku! Bawa aku pergi juga bersamamu! Refald! Kau dengar aku?” teriak Fey dan iapun terbangun dari pingsannya.


Fey terduduk dalam keadan shock yang tak terkira. Matanya terbuka lebar dan mulai menyadari kalau ia sekarang sudah ada di dunia istana sentris di mana Leo dan Shena berada. Fey agak tersengal-sengal saking tegangnya.


Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuh istri Refald. Ia mengusap peluh yang ada diwajahnya dan mengamati sekeliling. Fey juga sangat terkejut karena tiba-tiba, ditangan kanannya sudah ada biola sama persis seperti yang diberikan Refald padanya dalam mimpi. Artinya, yang dialami Fey barusan bukan hanya mimpi biasa. Refald benar-benar ingin Fey memainkan biola itu untuk membuka gerbang dimensi agar dirinya dan yang lainnya bisa kembali ke dunia asal mereka.

__ADS_1


“Nyi, kau tidak apa-apa?” tanya seseorang yang tak lain adalah pak Po alias Ezi. Ia berdiri di samping Fey yang gemetar ketakutan. Fey sangat terkejut karena pak Po ada didekatnya.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Fey acuh. Ia mencari keberadaan Shena dan juga Leo tapi tak menemukan keduanya disekelilingnya.


“Saya hanya khawatir dengan kondisi, Nyisanak. Saya datang hanya untuk mengucapkan terimakasih karena sudah menyelamatkan hidup saya. Terimakasih banyak, Nyi.”Pak membungkukkan badannya tanda ketulusan hatinya.


“Dimana Leo dan Shena?” tanya Fey cuek.


Seperti yang dikatakan Refald dalam mimpinya, ia tak punya banyak waktu lagi. Ia harus segera keluar dari goa ini dan memainkan biolanya, setelah itu ia akan menyusul kepergian Refald dimanapun suaminya itu berada.


“Ehmmmm … sepertinya mereka berdua keluar untuk mencari obat-obatan agar Nyisanak tak …” belum juga pak Po menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja Fey bangun berdiri dan hendak pergi keluar goa. Namun langkah Fey yang baru beberapa langkah langsung dihadang oleh pak Po.


“Mau apa kau?” cetus Fey kasar saat pak Po dengan sengaja menghadangnya. “Minggir!”


“Tidak Nyi, kondisi Nyisanak tidak stabil, Nyisanak tak boleh pergi dari sini, anda harus banyak istirahat!”


“Jangan pedulikan aku! Pergi kau!” bentak Fey dan tetap nyelonong begitu saja meninggalkan pak Po. Pak Po sendiri juga tidak mau menyerah dan ia terus mengikuti langkah kaki Fey. “Apa kau tidak dengar? Pergi dari hadapanku? Aku tak ingin melihatmu! Pergi!” usir Fey marah.


Pak Po tersentak mendengar bentakan Fey, tapi iapun tak bisa melakukan apa-apa. Fey terlihat sangat marah padanya dan pak Po pun paham alasannya. Akhirnya, dengan hati yang tak kalah pedih dari apa yang darasakan Fey saat ini, pak Po pun menuruti keinginan Fey dan langsung meninggalkan goa.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2