
Selimut tebal masih menutupi tubuh Rey yang masih rebahan santai diranjangnya. Ia sengaja tak beranjak dari tempatnya dan hanya mengamati Rhea yang sedang sibuk berdandan di meja riasnya. Ini pertama kalinya Rhea memoles wajahnya dengan make up minimalis yang memang sengaja disipakan Refald dan Fey dikamar pengantin mereka. Gaun-gaun indah bermerek juga sudah tersedia di dalam ruang penyimpanan. Rhea dan Rey hanya tinggal memilih pakaian apa yang akan mereka kenakan hari ini.
“Kenapa kau terus saja menatapku?” Tanya Rhea sambil mengamati suaminya melalui cermin yang ada didepannya.
“Kau sedang apa?” Tanya Rey. Pandangan matanya tak pernah lepas dari aktivitas Rhea.
“Berdandan,” jawab Rhea singkat. Ia sedang memoleskan lipstick dibibirnya.
“Tanpa berdandanpun kau sudah cantik Sayang,” rayu Rey. Istrinya itu sudah terlihat sangat rapi dan cantik. Berbeda dengan Rey yang terlihat berantakan dan awut-awutan.
“Ayo, cepat bangun dan bersihkan dirimu. Ayah sudah memanggil kita.” Rhea sudah selesai berdandan dan berjalan mendekat kearah suaminya.
“Tidak mau!” Rey masih rebahan dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Kenapa? Bukankah malam ini adalah pesta resepsi pernikahan kita?” Rhea heran melihat Rey yang ternyat pemalas sekali.
“Aku masih ingin disini bersamamu. Bagaimana kalau kita main lagi?” ujar Rey dari balik selimut.
“Tidak mau!” sengal Rhea langsung. “Kita bisa melakukannya lagi nanti, sekarang ayo temui keluarga kita. Mereka semua sudah menunggu kita, Rey!” bujuk Rhea.
“Aku tidak mau, aku ingin bersamamu lebih lama disini.” Rey merajuk seperti anak kecil apalagi Rhea terang-terangan menolak ajakannya untuk bercocok tanam lagi dan lagi.
“Suamiku sayang … kita masih bisa melanjutkan malam panjang kita setelah pesta selesai. Ayah dan keluarga besar kita sudah menunggu. Cepatlah pergi mandi sana! Aku akan menunggumu disini.”
“Kau tidak ikut mandi bersamaku?” Tanya Rey langsung membuka penutup selimutnya.
“Aku sudah rapi begini masa mau mandi lagi?”
“Tak masalah!” Rey langsung berdiri dan menggendong istrinya. Ia hendak membawa Rhea masuk kedalam kamar mandi bersamanya, tapi entah kenapa tiba-tiba Rhea melesat dengan cepat dari gendongan Rey.
__ADS_1
Tentu saja hal itu membuat Rey terkejut karena kini kedua tangannya sudah kosong. Tubuh yang tadinya ia gendong telah berpindah tempat dalam kecepatan tak terduga. “Sayang … kau?” Rey tertegun menatap wajah Rhea yang terlihat berbeda.
Seperti halnya Rey, Rhea juga sangat terkejut dengan apa yang terjadi pada tubuhnya. Ia mengamati kedua tangannya dalam ekspresi shock berat seakan menyadari sesuatu yang sudah ia tunggu-tunggu sejak lama.
“Kekuatanku kembali, aku punya kekuatan lagi sekarang.” Rhea terlihat sangat senang. “Yeee … kekuatanku kembali, Rey. Lihat aku! Aku kembali seperti dulu.” Rhea bergerak cepat kesana kemari sambil tertawa riang gembira tak terkira. Sayangnya, Rey tak terlihat bahagia. Sebaliknya, ia terlihat stres.
***
Refald memandangi wajah cantik Fey yang tertidur pulas disampingnya. Ia membelai lembut pipi Fey dan mencium mesra keningnya. Istrinya ini terlihat lelah, tapi tampak bahagia. Entah karena ia akan memiliki momongan lagi atau karena kini, mereka berdua sudah bersama selamanya dan takkan berpisah lagi.
“I love you, Honey.” Refald kembali mencium ubun-ubun Fey yang masih tergolek lelap dalam tidurnya. Ia langsung tersenyum saat melihat mimpi istrinya. “Kau bermimpi indah rupanya,” gumam Refald senang.
Suami Fey itu bangun berdiri, berjalan kedepan jendela dan menatap indahnya cakrawala dunia yang membentang luas dihadapannya. “Fey pasti menyukai pemandangan menakjubkan ini,” gumam Refald lagi dan menoleh pada wanita pujaan hatinya yang masih asyik dengan mimpi indahnya. Wajah Refald kembali berubah serius saat mendengar suara pak Po.
“Raja, sudah waktunya! Cepatlah kembali!” ujar pak Po melalui telepati. Sebab pasukan dedemit Refald itu tidak bisa datang ketempat di mana hanya Refald dan Fey saja yang bisa kemari.
“Aku kakan lansung kesana begitu istriku bangun,” gumam Refald membalas telepati pak Po.
“Apa pedulimu mau aku apakan istriku? Dia istriku, apapun yang aku lakukan padanya, Fey adalah tanggungjawabku! Kenapa kau kepo sekali? Aku tidak pernah sekalipun menanyakan apa yang kau lakukan pada Divani!” nada suara Refald terdengar kesal.
“Maaf Raja, saya khawatir terjadi sesuatu dengan ratu meliat betapa ganasnya anda sekarang.”
“Apa maksudmu!” Refald mulai emosi. Pasukan dedemitnya yang satu ini selalu saja bikin Refald darah tinggi.
“Maksud saya … akan sangat aneh kalau pangeran Rey bakal memilki adik lagi, Raja? Apa anda berniat untuk ….” Pak Po tak berani melanjutkan kata-katanya.
“Tungggu aku disitu, pak Po! Akan aku habisi kau sekarang juga!” sengal Refald sambil mengepalkan kedua tangannya.
“Maaf, Raja! Saya ada kepentingan mendadak, permisi!” pak Po pun memutus telepatinya begitu saja padahal Refald belum mengizinkannya.
__ADS_1
“Awas kau, pak Po! Kau tidak akan bisa lari kemana-mana. Aneh apanya? Memang salah kalau aku punya anak lagi dan Rey punya adik?” gerutu Refald dan itu membuat Fey terjaga.
“Kau bicara dengan siapa?” Tanya Fey yang sudah membuka matanya dan menatap suaminya. Refald bergerak cepat bagai angin dan duduk di samping istrinya. Ia menggenggam erat salah satu tangan Fey.
“Dengan dedemit kesayanganmu yang menyebalkan itu, Honey. Ayo kita segera temui dia karena aku ingin merobek-robek mulutnya,” geram Refald.
“Memangnya apa yang dia katakan padamu sampai kau sekesal ini?” Fey tersenyum melihat wajah cemberut suaminya yang seperti anak kecil.
“Dia khawatir kalau Rey punya adik,” jawab Refald jujur.
“Hah?” Fey terkejut, tiba-tiba saja ia menutup wajahnya dan merasa malu lagi. “Pasti seluruh pasukanmu itu akan menertawakanku kalau mereka tahu bahwa Rey memang bakal punya adik lagi. Haaaaa … bagaimana ini?” Fey merengek, kini giliran dia yang jadi seperti anak kecil yang salah dibelikan mainan kesukaan.
Refald hanya tersenyum melihat istrinya bertingkah menggemaskan begini. “Kau tenang saja Honey. Kalau sampai ada yang menertawakanmu, maka aku akan melenyapkan mereka semua,” ujar Refald sambil menahan tawa.
“Kau tidak akan punya pasukan lagi kalau kau melenyapkan mereka semua.”
“Tidak masalah, aku bisa buat pasukan lagi,” ucap Refald enteng, masih sambil tersenyum.
“Hah? Memang bisa? Bagaimana caranya?” Tanya Fey terkejut.
“Bisa, kita tinggal buat anak sebanyak-banyaknya dan menjadikan mereka semua pasukan Fey dan Refald, mudah kan?” Refald mengedipkan salah satu matanya pada Fey. “Kita buat 100 pasukan Refald. Bagaimana? Kau setuju? Mereka pasti akan sangat kuat sama sepertiku. Hanya saja kita harus bekerja keras saat membuatnya, Honey.” Refald sudah senyam-senyum sendiri membayangkan ia dan Fey punya 101 anak. 1 nya sudah besar sekarang dan sedang dalam proses membuat anak juga.
Mulut Fey menganga lebar mendengar kata-kata suaminya yang langsung sukses membuatnya kesal. Ia mengambil bantal yang ada disampingnya dan memukulkannya pada Refald sekencang mungkin.
“Honey! Apa yang kau lakukan?” teriak Refald.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1
Setelah ini ada adegan seru, jangan bosan menunggu up nya ya …