
Melihat ekspresi Rhea yang sekarang, Rey sangat tidak suka. Ia jadi ikut sedih kalau Rhea begini. Rey menurunkan pelan tubuh Rhea dan memeluk erat pinggangnya.
"Dengarkan aku baik-baik, Sayang." Rey menatap Rhea dengan tajam. "Kau tidak butuh kekuatanmu lagi sekarang, karena akulah yang akan menjaga dan melindungimu dari bahaya apapun. Tak akan ada yang bisa menyakitimu atau bahkan menyentuhmu, jangan sedih lagi hanya karena kekuatanmu belum kembali. Kau jadi jelek kalau wajahmu manyun begitu," ledek Rey sambil mengelus pelan pipi merah merona kekasihnya.
Baru saja Rhea terbuai dengan kata-kata manis Rey, ia langsung dongkol akut gara-gara kalimat terakhir Rey yang mengatainya jelek. Rhea langsung balik badan dan meninggalkan Rey dibelakang lagi.
"Oke! Aku memang jelek! Lalu kenapa si bengek itu tidak mencari cewek yang lebih cantik saja dariku?" Rhea ngedumel sendiri sambil berjalan cepat.
Tiba-tiba saja, tanpa Rhea sadari, ada sebuah motor melaju kencang dari arah belakang Rey dan Rhea. Dan tanpa diduga, motor itu sengaja menyerempet tubuh Rhea seandainya saja Rey tidak bergerak cepat menarik lengan Rhea kedalam pelukannya sehingga gadis itu selamat dari serempetan motor yang dikendarai orang tak dikenal.
"Kau tidak apa-apa, Sayang?" Tanya Rey sambil mengamati tubuh Rhea, siapa tahu ada yang terluka.
"Ehm, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit shock saja tadi. Terimakasih sudah menarikku." Tubuh Rhea agak gemetar dan Rey langsung memeluknya untuk menenangkannya kembali.
"Brengseek!" umpat Rey marah dan menatap tajam orang yang hampir mencelakai kekasihnya.
Tatapan mata Rey langsung ia arahkan pada pengendara motor yang melaju kencang dihadapannya. Secara ajaib, mendadak keseimbangan pengendara motor itu oleng sehingga ia terjatuh dan masuk ke dalam lubang got yang ada dipinggir jalan dengan posisi kepala masuk dulu berserta sebagian badan motor.
Rey dan Rhea tertawa melihat posisi jatuhnya pengendara resek itu. Ia kesulitan bergerak karena kedua kakinya berada diatas sedangkan tubuhnya kejepit badan motor di dalam got.
"Apa kau yang melakukannya?" tanya Rhea pada Rey.
"Itu balasan setimpal untuknya. Beraninya ia mencelakaimu. Lihat wajahnya, penuh dengan lumpur sekarang." Rey masih mengamati gerak-gerik pemilik motor itu.
Beberapa penduduk yang menyaksikan kecelakaan tunggal itu langsung berbondong-bondong menolong. Mereka membantu menarik tubuh pengendara yang tidak lain adalah Tomy, teman sekelas Rhea yang pernah menyatakan cinta pada kekasih Rey.
__ADS_1
"Itu kan, Tomy?" Rhea sangat terkejut karena tidak menyangka bahwa orang yang hampir menabraknya tadi adalah teman sekelasnya sendiri. "Kenapa dia melakukan itu padaku?" Sungguh Rhea tidak percaya Tomy yang katanya sangat mencintainya ternyata bisa juga mencelakainya. Rhea tidak tahu apa yang bakal terjadi seandainya tidak ada Rey disini.
"Sepertinya, ia balas dendam padamu karena kau sudah menolak cintanya tapi malah bersedia berpacaran denganku. Kau tunggu disini, Sayang. Aku akan bicara padanya."
Belum sempat Rhea menjawab, kekasihnya itu langsung melesat cepat pergi meninggalkannya sendirian menuju ke tempat Tomy berada. Tomy sendiri juga lekas pergi meninggalkan lokasi kecelakaan setelah identitasnya diketahui oleh Rey dan Rhea.
Rey menghadang Tomy yang hendak melarikan diri darinya dengan menggunakan motornya. Namun, bukan Rey namanya kalau ia tidak bisa mengatasi cecurut yang merusak suasana romantisnya dengan Rhea.
Rey melompat cepat tepat dihadapan Tomy dan langsung menghentikan laju motor pria tak bertanggung jawab itu hanya dengan menggunakan 1 tangan saja. Seketika mesin motor Tomy mati dan tidak bisa dinyalakan lagi. Padahal sebelumnya, masih baik-baik saja.
Tentu saja Tomy terkejut melihat Rey yang tadinya ada dibelakangnya kini mendadak muncul dihadapannya. Ia bahkan menghentikan laju motornya hanya menggunakan satu tangan. Darahnya terkesiap menatap wajah Rey yang menakutkan kala melihat mata elang Rey yang menyiratkan api kemarahan.
"Dengarkan aku baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya lagi. Jangan pernah sekalipun kau mengganggu kehidupan kami ataupun mencoba melakukan hal sama seperti yang baru saja kau lakukan. Sebab, aku tidak hanya akan membuatmu masuk ke dalam lubang got itu lagi, tapi juga membuatmu masuk ke dalam lubang api neraka yang tak pernah bisa kau bayangkan! Camkan kata-kataku ini baik-baik. Ah satu lagi, Rhea hanyalah milikku, dan tidak akan aku biarkan siapapun merebutnya dariku. Beritahu semua anak-anak dikampus jangan sampai ada yang berani mendekatinya lagi kalau masih ingin punya umur panjang. Ingat itu baik-baik! Sekarang pergilah!" Mata Rey terus menatap tajam wajah Tomy dan ia pun bergeser kesamping meninggalkan Tomy yang gemetar ketakutan. Rey berjalan lurus menghampiri Rhea yang berlari menyusulnya.
Secara ajaib, mesin motor Tomy bisa kembali menyala dan cowok itupun melesat pergi meninggalkan Rey dan Rhea dengan masih gemetar ketakutan. Ia tidak menyangka, Rey bisa berubah semenakutkan itu. Tadinya ia hanya ingin membuat sedikit luka Rhea lalu membantunya mengantar ke rumah sakit supaya bisa lebih dekat dengan Rhea. Namun, ternyata ulah jailnya malah membawa petaka baginya. Rupanya, Rhea sudah jadi milik Rey.
Kedua tangan Rey terentang menyambut kedatangan Rhea yang berlari kearahnya. Begitu dekat, cowok itu langsung membopong tubuh Rhea keatas sambil tersenyum senang.
"Kau berlari kencang sekali Sayang," ujar Rey sambil perlahan menurunkan tubuh Rhea supaya sejajar dengannya.
"Aku tidak bisa menghentikan laju lariku, tadi. Untung kau menangkapku, jika tidak mungkin aku akan berakhir sama seperi Tomy, masuk kedalam lubang got itu."
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
"Oke, sekarang turunkan aku! Kita bisa terlambat," pinta Rhea.
__ADS_1
"Tidak mau, entah kenapa aku sangat suka menggendongmu seperti ini." Rey memindah tubuh Rhea yang tadinya vertikal kini menjadi horizontal.
"Rey, aku sungguh malu dilihat banyak orang. Tolong turunan aku."
"Biarkan saja mereka. Jangan hiraukan pendapat orang lain." Rey terus berjalan menuju motor yang ia parkir rapi disebuah warung langganan tukang kebun rumah Rey.
"Terimakasih sudah membawakannya kemari, Pak!" Seru Rey sambil membayar makanan dan minuman yang dipesan tukang kebunnya.
"Sama-sama, Tuan muda. Terimakasih juga sudah dibayarin. Saya permisi kembali dulu Tuan, nyonya besar pasti mencari saya sekarang."
"Ehm, pergilah!" ujar Rey lalu ia mengajak Rhea naik motor baru yang dibelikan Fey beberapa waktu lalu. "Pegangan yang erat Sayang, aku akan ngebut," ujar Rey pada Rhea dan kekasihnya itu langsung memeluk erat tubuh Rey.
"Begini?" Tanya Rhea.
"Lebih erat lagi!" Rey tersenyum senang.
"Ini juga sudah sangat erat!" Seru Rhea.
"Masih kurang erat." Tangan Rey menarik tangan Rhea kedepan sehingga tubuh bagian depan Rhea membentur punggung Rey dengan kuat. Sudah tidak ada sekat lagi diantara mereka berdua. "Nah begini lebih baik. Tubuhmu hangat, Sayang. Kita berangkat sekarang."
Dasar bengek banget si Rey! ujar Rhea dalam hati. Namun tak dapat dipungkiri ia bahagia duduk diatas motor Rey seperti ini.
Keduanya hanya saling melempar senyum dan Rey mulai menyalakan mesin motornya lalu ia melaju dengan kencang menuju kampus mereka.
***
__ADS_1
BERSAMBUNG