
Rey terus menemani Rhea yang masih belum sadarkan diri di dalam kamarnya. Ia menatap sendu wajah kekasihnya. Rey tidak tahu, apakah harus bahagia atau bagaiamana, sebab Rhea masih belum tahu kejadian yang sebenarnya. Ada begitu banyak hal yang Rey pikirkan saat ini termasuk kedatangan ayahnya yang tak terduga padahal jelas-jelas ritual Rhea telah gagal. Ingin sekali ia meminta penjelasan dari ayahnya tapi yang terpenting saat ini adalah kondisi Rhea, juga fakta yang harus istrinya ini tahu mengenai nenek Haida.
"Bagaimana caraku memberitahumu, Sayang?" ujar Rey lirih.
Sebenarnya, Rey sendiri juga masih belum tahu fakta asli mengenai wanita tua itu. Yang Rey tahu adalah nenek Haida sudah tiada tepat sebelum Rhea melaksanakan ritual terakhirnya.
Rey jadi teringat kejadian dimalam itu. Yaitu malam ketika ia membantu Rhea mencari keberadaan nenek Haida. Di jalan yang sepi, Rey sempat melihat mobil Jakson terparkir dipinggiran jalan dan mobilnya itu bergoyang-goyang.
Tentu saja itu adalah momen dimana Rara dan Jakson melakukan perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan bagi pasangan yang belum sah menikah. Namun, Rey tidak mau ambil pusing soal itu. Rey mengabaikan mereka berdua karena bukan urusannya dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Rey ataupun Rhea.
Tepat disaat itu, Rey juga mendengar suara keributan dan ia lebih memilih pergi mengetahui apa yang menyebabkan keributan itu terjadi.
Sungguh ia sama sekali tidak menyangka, nenek Haida yang notabenenya adalah Arka, berhasil ditumbangkan oleh iblis jahat. Rey pun murka dan langsung membasmi iblis jahat tersebut dengan kekuatannya dan berhasil. Sayangnya, nyawa nenek Haida tidak tertolong. Rey panik dan juga bingung, jika nenek Haida mati sekarang, itu artinya Rhea tidak bisa melaksanakan ritual terakhirnya yang artinya ayah beserta pasukannya tidak akan bisa kembali. Rey tidak bisa membiarkan semua ini. Ia harus melakukan sesuatu,agar ritual Rhea berjalan dengan lancar.
Tiba-tiba saja, Rey mendapat bisikan agar mengunci jiwa nenek Haida tanpa ia tahu bahwa jiwa itu adalah Arka yang sedang menyamar. Rey yang sedikit mewarisi kekuatan Refald langsung melakukan bisikan itu sebab masuk akal juga. Ia mengunci jiwa Arka didalam tubuh nenek Haida agar wanita itu tetap bisa hidup setidaknya sampai Rhea sadar dan kembali berkumpul dengan orang-orang yang dicintainya.
Usaha Reypun berhasil. Nenek Haida kembali hidup, tapi dia bukan lagi manusia sempurna seperti biasanya. Untuk menghindari kecurigaan, Rey meminta nenek Haida tak banyak berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya termasuk Rhea dan nenekpun setuju. Sebab, inilah yang memang diinginkan Arka sampai raja Refald datang.
Itulah sekelebat ingatan Rey yang terjadi malam itu. Namun, anehnya perasaan Rey tidak pernah tenang. Ia tidak bisa kembali menemui Rhea malam itu dan lebih memilih pulang kembali kerumahnya untuk menenangkan diri. Agar Rhea tidak khawatir, Rey memberitahunya kalau ia ada dirumah dan baik-baik saja.
Sekarang, yang menjadi masalah adalah, bagaiamana cara memberitahu Rhea tentang fakta ini. Kondisi Rhea tidak memungkinkan jika ia harus diberitahu soal kematian nenek Haida. Disaat Rey bergelut dengan hatinya, ia tersentak melihat ada pergerakan di tangan Rhea dan Rey langsung menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Sayang, kau sudah sadar? Apa kau bisa dengar aku?" tanya Rey cemas.
Dengan kondisi tubuh yang masih lemas, Rhea mulai membuka matanya dan melihat wajah tampan Rey didepannya. Rhea ingin bangun dan Rey membantunya bersandar di sandaran kasur.
"Berapa lama aku pingsan?" tanya Rhea lirih.
Rey mengamati sekeliling dan ia baru sadar kalau ini sudah pagi. "Semalaman kau tidak sadarkan diri," jawab Rey sambil tersenyum, padahal ia sendiri juga baru sadar kalau ia juga tidak tidur semalaman karena memikirkan banyak hal.
Melihat Rey tersenyum padanya, Rhea jadi trenyuh dan jadi merasa bersalah. Yang Rhea ingat adalah ia sudah gagal melakukan ritual, ditambah lagi kakaknya meninggal tepat didepan matanya sendiri. Rhea menangis, ia tak kuasa mengingat kejadian semalam tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Rey langsung memeluk Rhea dan menenangkannya. Ia tahu apa yang dipikirkan kekasihnya ini. "Jangan menangis, Sayang. Semua baik-baik saja. Kau tidak perlu bersedih seperti ini."
"Apanya yang baik-baik saja? Ritualku gagal dan kakakku meninggal? Apakah itu yang kau sebut baik?" Rhea mulai panik, sedih dan juga kalut. Ia tidak tahu apa yang harus Rhea lakukan sekarang. Bahkan Rhea malu bertemu dengan ibu mertuanya karena ia mengira telah gagal mengembalikan Refald beserta seluruh pasukannya.
"Aku tahu!" Rhea memotong kata-kata Rey. Mendadak ia teringat ibu mertuanya. "Ibu ... bagaimana dengan ibu?" Rhea ingat kalau ibunya juga sedang dalam bahaya waktu itu dan tidak ada seorangpun yang bisa menolongnya. Rhea hendak bangun dari tempat tidur untuk mencari ibu mertuanya, tapi tubuh Rhea ditahan oleh Rey.
"Dengarkan aku dulu, Sayang. Kau salah paham. Ibu baik-baik saja dan ritualmu tidak gagal. Rara juga masih hidup dan sekarang ia ada dirumah sakit." Rey menatap tajam Rhea.
"Apa?" Rhea terkejut. "Kau bilang apa? Kau tidak bohong, kan? Benarkah itu?" Rhea menatap wajah Rey berharap apa yang dikatakan Rey itu benar.
"Itu benar Rhea," ujar seseorang yang sangat Rhea kenal dan langsung membuat Rhea tercengang.
__ADS_1
Orang itu berdiri tepat di belakang Rey sambil merangkul ibu mertuanya. Suara itu, siapa lagi kalau bukan suara Refald, sang raja dedemit, sekaligus ayah mertuanya.
"A-ayah!" Mata Rhea terbelalak melihat Refald berdiri mesra dengan Fey.
Berkali-kali Rhea mengusap matanya untuk memastikan kalau ia tidak salah lihat. Dan memang benar, Refald sungguh ada dihadapannya. Bersama dengan Fey. Keduanya tersenyum menatap Rhea.
"Yang dikatakan suamimu ini benar, Rhea. Kau berhasil melakukan ritual jauh sebelum ritual sesungguhnya dimulai. Kau tidak gagal." Refald menjelaskan lagi.
Tak hanya Rhea saja yang bingung seperti orang lingkung, Rey juga penasaran dengan misteri kembalinya ayahnya ini. Bagaimana Rhea bisa dikatakan berhasil? Itulah yang menjadi misteri dibenak Rey dan Rhea saat ini.
"Ada apa ini, Ayah? Tolong jelaskan pada kami!" tanya Rey dan bukannya menjawab pertanyaan putranya, Refald malah menjitak kepala Rey. "Auww, sakit Ayah! Kenapa Ayah menjitak kepalaku!"
"Dasar tidak sopan! Kau tidak mau memberi salam pada ayahmu? Kau seorang pangeran, itukah caramu menyambut kedatangan ayahmu setelah aku pergi 3 tahun lamanya?" ujar Refald.
Rey pun mengerti dan ia menundukkan kepalanya di depan Refald sambil mengatupkan kedua tangannya di dada. "Selamat datang kembali Ayah," ujar Rey dan itu membuat Refald tersenyum.
"Kau semakin dewasa sekarang, dan juga tampan," ucap Refald sambil memeluk putranya. Rhea hendak melakukan hal yang sama tapi Refald melarangnya. "Jangan Rhea, aku hanya mengerjai putraku tadi. Kau tidak perlu bersimpuh juga!" Refald terkekeh melihat wajah bloon putranya karena mau saja dibodohi Refald.
"Ayah!!" teriak Rey langsung.
BERSAMBUNG
__ADS_1
****