
Latihan Rhea kali sungguh diluar dugaan. Tak hanya mampu bertahan di dalam air selama kurang lebih 30 menit tanpa pengaman apapun, tingkat konsentrasi Rhea juga semakin meningkat. Rey bisa melihat dengan jelas jiwa raga Rhea bisa menyatu dengan air yang ada didalamnya. Rey menebak-nebak, suasana hati dan perasaan Rhealah yang mempengaruhi tingkat kekuatan latihannya.
Kemarin-kemarin, Rhea dilanda kesedihan dan rasa bersalah yang begitu besar, serta beban pikiran yang berat tentang kakaknya. Namun, kini sepertinya Rhea sudah bisa sedikit lega melihat kakaknya yang sudah berubah seperti apa yang Rhea harapkan meskipun sekarang, yang dialami Rara terbilang menyakitkan.
"Kau luar biasa, Sayang. Latihanmu kali ini sempurna. 3 hari lagi dari sekarang dan sepertinya kau sudah siap semuanya," ujar Rey sambil menggendong Rhea keluar dari dalam air.
"Benarkah? Itukah penilaianmu?" Rhea senang suaminya ini memuji latihannya.
"Ehm itu benar, kita harus pulang dan segera ganti baju." Rey langsung menghilang dari danau dan pergi ke kamarnya sendiri.
Sesampainya di kamar, Rey mengelap rambut Rhea yang basah sambil terus menatapnya. "Kau tampak senang sekali, Sayang."
"Tentu saja, tapi ..."
"Sudah kubilang, keluargaku tidak seperti apa yang kau pikirkan. Apa kau tidak sadar, orangtuamu adalah hantu, tapi ayah dan ibuku tetap memilihmu sebagai menantunya. Jika mereka mau, mereka bisa saja menikahkanku dengan putri raja yang setara dengan mereka, tapi ayah dan ibu tidak melakukannya, menurutmu kenapa?" tanya Rey.
Rhea terkejut, benar apa yang dikatakan Rey. Tidak ada seorangpun didunia ini yang mau berbesan dengan hantu. Namun, raja dan ratu sangat berbeda. Refald punya gelar dan kekuasaan melebihi manusia manapun didunia, tapi kedua orangtua Rey malah memilihnya sebagai menantu dikeluarganya. Padahal, dirinya hanya putri dari pasukannya sendiri yang tidak punya apa-apa. Itulah yang menjadi pertanyaan Rhea hingg sekarang.
"Ehm, aku juga tidak tahu kalau soal ini. Sejak kecil aku selalu diberitahu bahwa aku adalah milikmu dan hanya boleh patuh pada perintahmu. Meskipun kita belum pernah bertemu, tapi ayah dan ibu serta yang pasukan raja yang lain mengatakan bahwa satu-satunya orang yang nanti bakal menjadi suamiku hanyalah kau, putra raja Refald. Itu keputusan yang ayah Refald ambil bahkan jauh sebelum kau dan aku lahir kedunia fana ini."
Rey tersenyum lalu mengecup mesra bibir Rhea. "Itu karena hanya kau satu-satunya wanita yang pantas menjadi istriku. Tidak ada yang lain. Ayah tahu itu makanya ia meminta ayah mertua dan seluruh pasukannya menjagamu untukku. Bagi Ayah, kau adalah pelindungku, dan itu benar, sebelum kekuatanku muncul, kau menyelamatkan hidupku. Kau ingat waktu pertama kali kita bertemu, kan?"
"Iya, aku ingat. Aku bahkan tidak tahu kalau orang yang aku selamatkan ternyata adalah suamiku sendiri." Rhea berjalan menjauh dari Rey tapi Rey langsung menariknya kembali.
"Mau kemana?" tangan Rey masih mencekal tangan Rhea.
"Mau mandi," jawab Rhea polos.
__ADS_1
"Kita mandi sama-sama."
"Hah? Tidak terima kasih. Aku bisa mandi sendiri," tolak Rhea.
"Aku tidak akan memakanmu Sayang," ujar Rey.
"Aku tidak percaya. Mana mungkin kucing tidak tergiur kalau didepannya ada ikan asin."
"Kau menyamakanku dengan kucing?" Rey berjalan mendekat ke arah Rhea. Ia tidak terima dikatai kucing.
"Bukan begitu, itu cuma istilah. Aku hanya melindungi diriku dari predator sepertimu."
"Apa?" Rey tertawa sinis. "Tak cukup menyamakan diriku dengan kucing, kau juga berani memanggilku predator? Sepertinya, aku harus melakukan sesuatu padamu supaya mulut manismu tak lagi mengeluarkan kata-kata menyebalkan itu." Rey terus mendekat ke arah Rhea dan menatapnya tajam. "Kau mau diapakan?" tanya Rey tepat di depan wajah Rhea. Tidak ada jarak lagi diantara keduanya.
"Tidak diapa-apakan," jawab Rhea gugup. Ia bahkan sampai menelan salivanya sendiri. Rey menakutkan juga kalau seperti itu.
"Tidak mau!" tandas Rhea.
Dasar bengek! bisa-bisanya dia mesum begitu? batin Rhea.
Lagi-lagi, Rey tersenyum mendengar suara hati Rhea. "Kalau begitu, jangan salahkan aku jika aku memaksamu." Dengan cepat, Rey meraih tubuh Rhea dan membawanya masuk kedalam kamar mandi dengan paksa.
"Rey, lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?" Berontak Rhea.
"Menjadi predator seperti yang kau tuduhkan."
"Jangan macam-macam denganku! Kita belum resmi menikah." Rhea mengingatkan.
__ADS_1
"Kita resmikan saja kalau begitu."
"Tidak, sekarang!" Rhea hampir menjerit. Saat ini keduanya sudah berada didalam kamar mandi.
"Apa bedanya? Sekarang atau nanti sama saja!" Rey terkekeh. Ia sangat suka melihat wajah panik Rhea.
"Jangan mendekat dan berhenti disitu."
Tentu saja peringatan Rheja tidak diindahkan oleh Rey. Sebaliknya, ia merengkuh kedua bahu Rhea lalu menguncinya dengan kedua tangan Rey.
Rey semakin mendekat seolah hendak mencium Rhea tapi mata Rhea terpejam. Ia tidak sanggup melihat semua ini. Ia juga belum siap jika harus melakukan ini dengan Rey.
Hampir saja tawa Rey muncrat melihat ekspresi ketakutan Rhea. Ia sangat suka menjahili istrinya seperti ini. Wajahnya semakin imut jika Rhea panik.
"Belum saatnya, tunggu tanggal mainnya Sayang. kau akan aku makan begitu waktunya tiba," bisik Rey ditelinga Rhea. "Cepat mandilah, dan istrahat. Besok kita ada jam kuliah," ujar Rey yang secara ajaib sudah ada di luar kamar mandi.
Rhea terkejut, ia membuka mata dan sudah tidak melihat Rey lagi di depannya. Ia menoleh ke sekeliling untuk mencari-cari sosok menyebalkan itu tapi tetap saja tidak ada siapa-siapa di dalam kamar mandi ini selain dirinya sendiri. Dari sini, Rhea mulai menyadari kalau Rey sudah mengerjainya habis-habisan.
"Dasar bengek kau Rey, teganya kau mengerjaiku, ini sama sekali tidak lucu," gumam Rhea sebal.
"Aku bisa mendengarmu Sayang. Kau mau aku masuk lagi kedalam?" Teriak Rey dari luar dan Rhea langsung diam.
Gadis itu tidak berani berbicara karena tidak ingin dimakan hidup-hidup oleh predator berbahaya itu. Rhea melanjutkan ritual mandinya dengan perasaan kesal dan hati dongkol yang berat.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1